Hasrat Terlarang Pembantu

Hasrat Terlarang Pembantu
Racun Beku


__ADS_3

๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


ย 


[Menikahlah! Dengan tuan Arnots maka ayah akan sangat berterima kasih padamu. ]


ย 


[Tidak ayah, aku tidak mau! Menikahi bandot tua hanya demi harta. Aku ingin menikah karena cinta!]


ย 


[ Pria itu kaya dan terpandang. Kau gadis yangย  beruntung bila menjadi istrinya]


ย 


[ Tidak ayah! Jangan memaksaku! Aku masih ingin melanjutkan kuliah dan mengejar cita- citaku]


ย 


[Kuliah! Gadis bodoh sepertimu, kapan mau lulus, hah!]


[Aku tetap tidak mau, ayah]


ย 


[Anak tidak tau, di untung! Kau telah membuatku menyesal, karena memiliki anak perempuan, dan bukan laki-laki! Pergilah! Dan jangan kembali sebelum kau menghasilkan uang!]


ย 


"Huh ... hah ... Huufftt ...!" Vyn mengatur napasnya yang tersengal, ternyata ia tertidur di atas kasur Franklin. Ini adalah kamar pribadi Franklin, semenjak Raisa tidak lagi mengurusnya.


ย 


Vyn, memang terkadang tidur di kamar ini. Di sofa besar pojok samping jendela yang menghadap langsung keluar. Oma Elli, menugaskannya merawat Franklin jika Raisa keluar kota.


ย 


Keadaan, Franklin yang sering sakit-sakitan, ternyata hanya cocok jika Vyn yang mengurusnya. Karena Franklin adalah tipe orang yang tak mudah di dekati atau percaya dengan orang lain.


ย 


Sejak itulah, sering nya Vyn bertemu dengan Franklin. Bermula dari simpati dan kasihan, akhirnya menumbuhkan rasa yang terlarang di hatinya.


ย 


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข ๐˜๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ช ๐˜™๐˜ข๐˜ช๐˜ด๐˜ข. ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ด๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช. ๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ.


ย 


Vyn, menyugar rambutnya. Matanya terpejam seraya menarik napas dengan dalam.


Vyn,menatap ruangan itu nanar, sepi. Ternyata, Franklin belum juga pulang. Sementara jam, telah menunjukkan pukul 22. 30 malam.


Vyn, mendengus kasar.


"Kemana, Franklin? oma, tumben gak bangunin aku?" gumamnya seorang diri.


ย 


Kamar ini, memang terhubung dengan kamar utama, dimana sebelumnya Franklin dan Raisa tidur bersama.


Sampai saat ini, oma Elli belum mengetahui kebusukan Raisa. Elli hanya tau bahwa Raisa, juga sibuk bekerja mengurus perusahaan keluarga Matthew.


ย 


"Mimpi itu lagi! Kenapa serasa begitu nyata?" Vyn mengusap wajah dengan kedua tangannya.


ย 


"Ayah, kau pasti akan menyesal telah mengusirku. Ku pastikan, aku akan pulang, serta membawa uang yang banyak. Perjodohanย  terkutuk itu pasti akan aku akhiri." Vyn meremas seprai dengan kencang. Ia telah bekerja keras, mengumpulkan uang dari pekerjaannya. Walaupun, sebagai ๐™ข๐™–๐™ž๐™™ di keluarga Marquise Boudouin.


ย 

__ADS_1


"Aku bertahan karena gaji di sini sangat besar. Ingat, kau hanya bekerja, jangan memikirkan hal lain." Vyn, terus bergumam sendiri. Dan, tiba-tiba ...


ย 


Bruakk!!


ย 


Pintu kamar di buka dengan kasar oleh Franklin.


ย 


Bukk!!


ย 


"Tuan!" pekik Vyn. Buru-buru ia turun dari kasur lalu menghampiri majikannyaย  yang tersungkur.


ย 


"Apa yang terjadi denganmu?" bingung Vyn. Dirinya kini telah meletakkan Franklin di atas kasur, tubuh pria itu berkeringat sangat banyak. Napasnya memburu dengan mata yang terpejam.


ย 


"Apa penyakitmu kambuh lagi? apa yangย  bisa ku lakukan sekarang? ha, aku harus melaporkan ini pada oma, agar memanggil Dokter Patric kesini." Vyn, pun hendak berdiri, akan tetapi tangan Franklin mencekal nya kuat.


ย 


" Tuโ€“tuan? kenapa?" herannya.


"Ja ... ngan," lirih Franklin pelan, dengan napas yang terputus-putus.


ย 


"Tuan, apa racun dingin itu menyerang anda lagi? saya yakin, ini bukan penyakit jantung biasa," tebak Vyn. Membuat mata Franklin yang terpejam sedikit membuka.


ย 


"Tolong, aku, Vyn ...," pinta Franklin lirih. Cekalannya semakin kuat mencengkeram tangan Vynnitta.


ย 


ย 


"Saya akan mengganti pakaian anda terlebih dulu. Karena, pakaian anda sangat basah, saya khawatir justru bisa membuat anda masuk angin." Vyn, kemudian berlalu menuju walk in closet.ย  Mengambil kaos dengan bahan adem yang menyerap keringat. Tak lupa juga dalaman hingga celana panjang. Karena, Franklin tidak suka mengenakan celana pendek.


ย 


"Mari, Tuan." Vyn, perlahan mulai membuka pakaian Franklin. Ia membuka kancing kemeja itu satu persatu dengan cepat, lalu beralih pada celana panjangnya.


ย 


ย Sampai di bagian ini, Vyn masih biasa saja. Karena, yang ada di dalam pikirannya hanyalah khawatir terhadap majikannya. Apalagi, Franklin terlihat meringis menahan sakit.


ย 


๐˜™๐˜ข๐˜ค๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ด๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข. ๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ค๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฐ, ๐˜ณ๐˜ข๐˜ค๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถย  ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ด๐˜บ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ง ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ.


ย 


Vyn, begitu tak tega melihat keadaan Franklin. Di luar dari sikap buruknya, terhadap Vyn. Ia, tetap tak bisa membiarkan tuannya ini menderita di hadapannya. Inikah yang dinamakan cinta buta? apakah dirinya termasuk jajaran manusia bodoh?


ย 


Tangan Vyn, sontak berhenti. Tepat, di bagian segitiga biru milik Franklin. Bahkan, ia melengos kan wajahnya yang memerah.


ย 


"Aku harus bisa! Ini demi menolongnya. Tidak ada maksud apa-apa. Aku, tidak akan melihatnya, sungguh." Vyn berbicara sendiri. Sementara itu, tubuh Franklin semakin gemetar.


ย 


"Aku akan cepat, aku akan cepat!" Vyn sedikit berteriak ketika membuka penutup benda pusaka Franklin, demi menutupi kegugupan dalam dirinya. Lalu, ia tidak bisa melakukan hal yang serupa ketika memakaikannya.

__ADS_1


ย 


"Haih, memakaikannya akan lebih sulit." Vyn bergumam masih dengan mata yang terpejam.


ย 


"Baiklah. Akan ku coba tanpa melihat." Vyn, melanjutkan kegiatannya. Ia memakaikan segitiga dengan mata tertutup, akan tetapi ...


"Akh! Aku tidak sengaja menyenggolnya!" Vyn memekik, lalu ia membekap mulutnya. Padahal, kamar itu kedap suara.


ย 


" Maaf, Tuan," ucap Vyn lirih. Lalu dengan cepat ia dapat menyelesaikan tugas yang sangat menegangkan itu.


ย 


"Fiuuhh!"


"Ini, lebih sulit ketimbang ketika menyelesaikan tugas dari dosen killer." Vyn menyeka keringatnya yang bercucuran. Padahal hanya memakaikan celana saja.


ย 


"Sekarang celana panjangnya. Aih, kenapa bagian itu menonjol? Ah, mata suci ku," Vyn meringis melihat penampakkan di hadapannya.


ย 


"Selesai. Kini, tinggal kaos nya." Vyn beralih ke bagian atas tubuh, Franklin. Ia menyeka keringat pria itu sebelum mengganti bajunya.


ย 


Seketika itu juga, Franklin terlihat melenting kan tubuhnya ke atas. Dengan kedua tangan terkepal serta gigi yang terkunci rapat.


ย 


" Tuan!" pekik Vyn, spontan ia memeluk tubuh yang sedingin es itu.


ย 


"Kenapa hanya bagian atas yang dingin, tapi bagian bawahnya tidak? tuan, bertahanlah! Jangan mati di hadapanku!" Vyn semakin mengeratkan pelukannya. Hingga, kejang Franklin berangsur-angsur reda.


ย 


"Tuโ€“tuan?" Vyn, mendongak, ketika ia merasakan, sebuah tangan yang merangkulnya erat. Ternyata, mata Franklin sedikit terbuka, meski sayu. Entah, atas dorongan apa? Vyn, malah mendekatkan wajahnya pada pria itu.


ย Di luarย  bayangannya, ternyata pria itu meraup bibirnya dengan cepat dan rakus.


ย 


๐˜Œ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ข๐˜ต๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ถย  ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ, ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ... ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ช๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ.


ย 


Vyn, tak merasakan lagi pergerakan dari Franklin. Ia pun melepaskan tautan panas dari bibir mereka barusan. Seketika bibirnya mengerucut ke depan.


ย 


"Bagus ya, setelah mengambil ciuman keduaku, kau pun tertidur. Besok, kau pasti tidak akan mengaku dan berakhir memaki diriku. Dasar, majikan jahat!" umpat, Vyn.


" Tapi, kenapa aku tidak bisa benci padamu? bahkan, setiap kita berciuman aku merasa semakin bugar, dan otakku tiba-tiba cemerlang." Vyn, bergumam dengan spekulasi asalnya. Sembari menaikkan selimut, hingga batas leher Franklin.


ย 


" Sepertinya, aku akan awet muda jika terus-terusan di cium oleh tuan muda tampan seperti dirimu." Vyn, terkekeh dengan ucapan ngaconya sendiri.


"Kau pasti sudah gila, Vyn. Ya, gila karena cinta di tambah bodoh juga." Akhirnya, Vyn menghela napasnya dengan berat.


ย 


" Yang penting, keadaanmu sudah baik-baik saja, tuan muda ku yang tampan. Tapi, sayangnya kau juga bodoh! Karena sudah cinta mati dengan si ratu ular derik." Vyn, pun beranjak ke sofa besar di samping jendela.


ย 


"Sampai kapan aku harus menemani, si raja ๐™‹๐™ค๐™ก๐™–๐™ง ๐˜ฝ๐™š๐™–๐™ง? bagaimana perasaan ku tidak tumbuh semakin subur, jika tiap malam aku selalu di suguhi wajah tampan bin manisnya itu." Perlahan kedua mata Vyn, pun menutup. Seiring mulutnya yang juga berhenti bicara seorang diri.

__ADS_1


Bersambung>>>


__ADS_2