Hasrat Terlarang Pembantu

Hasrat Terlarang Pembantu
Akhir Dari Penyatuan.


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹


Pertautan hangat bibir keduanya kini telah berubah suhu tubuh keduanya. Suasana semakin memanas. Franklin semakin berani menggerakkan jemarinya di bahu Vynnitta, membuat tali tipis pada bagian dalam gaun malam itu turun dan memberi akses lebih besar padanya. Ciuman itu semakin turun ke leher Vynnitta yang putih dan jenjang. Sehingga sebuah alunan suara merdu, semakin menaikkan adrenalin dari Franklin.


"Franklin ...," satu ucapan mengandung desah lolos dari bibir Vynnitta. Ketika, Franklin berhasil mengecup dalam dan lama tulang selangka hingga bagian atas dadanya. Sebuah tanda kepemilikan berhasil ia sematkan di sana. Mencipta senyum lebar dari wajah arogan yang biasanya kaku bagai kayu itu.


"Kau semakin menggairahkan Vyn, Tubuhmu semakin indah. Aroma dari ragamu selalu aku rindukan membuat hari-hari ku termakan mimpi yang gila. Aku tidak menyangka, jika keindahan ini kembali padaku. Aku, tidak akan membiarkan mu pergi lagi. Selamanya, bahkan jika Semesta yang mengambil mu dariku. Aku akan menukarnya dengan nyawaku. Aku lebih baik ikut mati bersamamu." Franklin kembali menangkup wajah Vynnitta setelah memandanginya lama. Kemudian melabuhkan ciuman bertubi-tubi hingga tidak ia lewatkan satu inchi pun bagian dari wajah itu.


"Di saat romantis yang membakar gelora seperti ini. Bisakah tidak usah bawa-bawa kematian. Karena itu merusak suasana kau tau?" rajuk Vynnitta, dengan mengerucutkan bibirnya. Sontak hal itu membuat Franklin tersenyum dan memberi pagutan mendadak. Ciuman panas pun kembali tak terelakkan. Membuat iri para readers yang jomblo maupun yang LDR -an. Bagai pepatah senasib sepenanggungan, author pun di tinggal suami kerja dan belum pulang. Dahlah! Intinya yang baca maupun yang nulis sama-sama merana. Kita cuma bisa gigit ujung bantal sebagai pelampiasan.

__ADS_1


"Ugh ..!"


"Apakah itu sakit? Maafkan aku ..," ucap Franklin yang kaget ketika mendengar lenguhan Vynnitta di tengah perjuangannya.


"Sedikit, tidak apa. Ka–kau teruskan saja," jawab Vynnitta yang menahan rasa ngilu dan perih pada bagian intinya. Meskipun ini bukan pertama kali untuknya, namun hal ini adalah kali kedua baginya. Tentu saja bagian itu telah kembali rapat meskipun tidak sama seperti semula. Walaupun, Vyn lahirkan Alessia dengan cara normal. Karena ilmu herbal dan minuman kesehatan wanita hasil racikanya sendiri, yang rutin ia konsumsi setiap hari. Tentu saja hal itu membuat kesehatan dan kecantikan kewanitaannya terjaga dengan epik. Belum lagi ritual yang di lakukan oleh NYI Laluna tadi. Sepertinya, Vynnitta kembali menjadi gadis perawan. Terbukti, ia kembali menjerit tatkala Franklin berhasil melesatkan peluru tumpulnya.


Ia memeluk dan menciumi Vynnitta demi mengurangi rasa sakit pada wanitanya. Padahal, ia telah memberi stimulasi dan rangsangan yang cukup. Bahkan, menurutnya ia tidaklah terburu-buru. Menurutnya, jalur itu telah basah siap untuk si sergap.


"Kau tidak salah, suamiku. Ini semua berkat NYI Laluna. Akh ...," erang Vynnitta disela-sela ucapannya yang mendayu. Hentakan Franklin yang begitu kuat dan terarah. Membuatnya melayang dan tak lagi berpihak pada bumi.

__ADS_1


"Katakan lagi, panggil aku dengan sebutan seperti tadi. Ah, aku menyukainya. Aku sangat beruntung," lenguh Franklin sambil berbisik di telinga Vynnitta. Ia menyukai panggilan itu tersemat padanya. Sungguh, kebahagiaan hati ini tak setara dengan apa yang telah dimilikinya selama ini. Harta, tahta dan kedudukan. Belum ada yang menandingi rasa bahagia yang ia rasa saat ini. Vynnitta adalah yang paling berharga dari seluruh harta berharganya. Bahkan, lebih berharga dari nyawanya sekalipun.


"Vynnitta ...aku ...akhh!" Franklin tak tahan lagi, ia pun meledakkan sesuatu yang sejak tadi mendidih dalam tubuhnya. Berharap hal kebaikan menyertai peluncuran milyaran sel-sel tersebut.


Keduanya saling berpelukan erat, seakan tak ada satupun kekuatan apapun yang dapat memisahkan keduanya. Sepersekian detik kemudian. Tubuh polos Vynnitta melenting ke atas. Mau tak mau raga tanpa sehelai benang Franklin terjatuh kesamping. Sebuah cahaya, keluar satu tengkuk Vynnitta. Akar merambat, membiaskan cahaya keemasan. Hingga, tubuh Vynnitta terangkat dan melayang di atas peraduan.


"Apakah ini berarti, bahwa kekuatan daya serap racun Vynnitta telah kembali?" gumam Franklin , seraya terus memperhatikan raga istrinya yang melayang dalam keadaan terlentang tanpa pakaian.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2