Hasrat Terlarang Pembantu

Hasrat Terlarang Pembantu
Danger Line.


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹


Hari-hari yang di lalui Vyn semakin lancar. Kehamilannya tak lagi rewel seperti bulan pertama. Memasuki bulan ketiga ia semakin merasa bugar dan bersemangat. Bahkan, Vyn di bantu oleh warga sekitar mencoba memugar sedikit ruangan depan kontrakannya. Tentunya Vyn telah lebih dulu minta izin kepada sang pemilik rumah yaitu Bundanya Maria Goldia.


Vynnitta menggunakan uang simpanannya untuk membuat beberapa ruangan tempatnya menyimpan bahan baku, mengolah bahan baku serta ruangan yang dapat digunakannya untuk menyambut tamu atau pasiennya.


Wanita sangat senang semenjak Vynnitta tinggal di kontrakannya ia tak lagi kesepian. Apalagi kini penyakit kaki dan juga lambungnya tak lagi menyiksa. Bunda dari Maria itu, dapat beraktifitas normal seperti biasanya. Berkat rutin mengkonsumsi obat herbal buatan Vynnitta.


Ternyata, kesembuhan satu persatu tetangganya sampai dari mulut ke mulut. Membuat banyak orang yang kini mendatanginya untuk cek kesehatan demi mendapat pengobatan herbal dari Vyn.


Vynnitta, tak begitu saja mendiagnosa penyakit yang di derita oleh warga desa. Ia di bantu oleh tanda akar merambat ajaib yang ada di tengkuknya. Tanaman itu akan membuat tengkuknya merasa tertusuk-tusuk jarum kecil jika Vynnitta hendak mendapatkan informasi penyakit dari para pasiennya.


Awalnya Vynnitta akan meringis, setelah lama-kelamaan ia mulai terbiasa dan mampu mengendalikan kekuatannya.


"Kakak sudah tidak mual muntah lagi ya. Senang aku lihatnya. Jadi semakin enerjik," ucap Maria lega. Karena dirinya yang paham selama ini bagaimana keadaan Vinnytta selama hamil.

__ADS_1


"Hu'um. Aku lega dan tenang sekarang. Dia sudah mulai enak di ajak kerjasamanya." Vynnitta melihat ke arah perutnya yang mulai membuncit sambil mengusap lembut. Pakaiannya adalah dress terusan di bawah lutut yang longgar serta berbahan adem. Kebetulan ada salah satu tetangga Vyn yang buka jasa menjahit. Jadilah Vyn memesan semua dress hamil pada tetangganya itu.


"O iya, Maria. Jangan lupa nanti bersihkan ginseng dan juga kulit batang angsananya ya!" titah Vynnitta memberi tugas sekaligus arahan membuat obat herbal pada sahabat yang telah diangkat menjadi pasiennya itu.


"Baik, Kak. Banyak sekali ilmu yang ku dapat. Bahkan, kulitku semakin halus berkat obat alergi yang Kakak berikan tempo hari," tutur Maria jujur.


"Kau harus mempelajarinya dengan serius. Karena ilmu ini dapat menolong orang banyak. Terutama di desa terpencil seperti ini," saran Vynnitta. Tangannya begitu cekatan mengupas dan membersihkan beberapa bahan-bahan obat. Kiriman sarung tangan medis dari Xilondra sangat bermanfaat bagi Vyn.


𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘳𝘪𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘯𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬 𝘣𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢.


𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘩.


"Kak, ada Pak Kades." Tiba-tiba saja Maria melapor sambil menaik-turunkan alisnya dengan senyum menggoda.


𝘐𝘯𝘪 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘺𝘢.

__ADS_1


𝘔𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘪𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘯𝘺𝘪𝘵 𝘬𝘢𝘺𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘪𝘢𝘳 𝘨𝘢𝘬 𝘤𝘢𝘤𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯.


𝘍𝘪𝘶𝘶𝘩𝘩 ...


𝘟𝘪𝘭𝘰𝘯𝘥𝘳𝘢, 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘶 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘩.


𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘵𝘦𝘨𝘢𝘴 𝘨𝘢𝘳𝘪𝘴 𝘣𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘯𝘨𝘦𝘳 𝘭𝘪𝘯𝘦 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶.


Gumam Vynnitta dalam hati. Ia pun segera merapikan dirinya dan beranjak ke depan menemui tamu spesialnya. Tentu saja spesial, karena yang datang adalah kepala desa yang datang gak di jemput pulang gak diantar.


"Xilo." Vynnitta tersenyum tipis seraya menundukkan kepalanya. Matanya sontak membulat kala melihat siapa yang ada di samping Xilondra.


"Nyonya." Vyn maju dan segera meraih tangan Prita. Namun, Prita keburu menarik tangannya.


Vyn, yang merasa kikuk sekilas melirik ke arah Xilondra. Ternyata Xilondra telah lebih dulu memasang ekspresi kagetnya. Tak menyangka akan respon yang ditunjukkan oleh sang ibu.

__ADS_1


"Xilo, antarkan Ibu pulang." Kemudian Prita berjalan cepat keluar dari rumah itu dengan wajah sedikit sendu.


Bersambung>>>>


__ADS_2