
🌹🌹🌹🌹🌹
Franklin sontak menarik kemudian mendorong tubuh Xilondra hingga punggung pria itu menabrak body mobil.
"Hentikan!"Vynnitta berteriak sambil mendorong kembali Franklin agar cekalannya pada bahu Xilondra terlepas. " Apa kau tidak bisa berbicara baik-baik! Kenapa selalu menggunakan kekerasan! Apa kau pikir, itu hebat!" Vynnitta terus mendorong hingga Franklin menjauh.
"Dia yang memulainya!" tunjuk Franklin, dirinya sangat marah karena Vynnitta terus membela Xilondra. " Alessia adalah putri ku, apa salah bila aku yang memutuskan semuanya!"
PLAKK!
Sebuah tamparan menjadi jawaban dari pekikan Franklin barusan. Vynnitta bahkan merasakan panas menjalar di telapak tangannya. Wajar saja, ia amatlah geram. Sehingga seluruh kekesalannya ia alirkan lewat pertemuan telapak tangan itu dengan pipi Franklin. Pria, itu masih sama, selalu saja merasa benar dan tidak mau mengaku salah. Selalu kasar, juga seenaknya sendiri.
__ADS_1
Vyn," lirih Franklin. Ia tak menyangka jika wanita yang di dicintainya itu, rela menamparnya demi orang lain. Apakah ini berarti posisinya telah tergeser dari hati Vynnitta? Apakah ini pertanda bahwa ia akan gagal membawa Vyn kembali ke mansion miliknya? Apa yang akan ia katakan pada sang Oma nanti.
"Jangan berlagak kau Franklin Marquiese! Kau bukan siapa-siapa! Kau tidak berhak atas alessia-ku!" Vynnitta berteriak dengan marah kemudian ia berlari masuk ke dalam mobil Xilondra. Xilondra yang paham pun ikut masuk dan segera menjalankan mobilnya sebelum Franklin menghentikan mereka.
"Sial!" Franklin menendang batu yang ada di depannya. Akan tetapi, justru kakinya sendiri yang sakit. "Aarrgghh!" Ia pun kembali menaiki motor matic itu kemudian mengejar hingga ke hutan Jatiwarna.
Franklin mendapati dua mobil yang berhenti di pinggir hutan, namun tidak ada satupun penumpang di sana. Franklin terus menyusuri jejak dengan berjalan kaki. Sebab, motor Vynnitta telah kehabisan bahan bakar.
" Ale putriku, aku tidak akan pernah merasa berat! Bahkan aku membawanya dalam perut selama sembilan bulan!" ketus Vyn pada Xilondra. Membuat pria itu menghembuskan napasnya panjang. Ia pikir, sikap Vyn tadi berarti memihak padanya. Ternyata, apa yang dianggapnya itu salah. Xilondra pun dengan berhati-hati menyerahkan Ale pada Vynnitta. Namun, dengan cepat Franklin menyambar tubuh lemah Ale dan mendekapnya sambil berjalan menjauh dari semua.
Vyn tidak dapat berkata ataupun berbuat apa-apa, sebab pria itu menangis tersedu sambil mendekap putrinya. " Ale, maafkan Daddy, sayang ...," Franklin terisak dengan air mata yang mengalir deras membasahi kedua pipinya. Alessia sendiri hanya bisa mengalungkan tangannya untuk memeluk erat leher Franklin.
__ADS_1
"Daddy," ucapnya lirih dan pelan.
"Iya sayang. Uncle adalah Daddy-nya, Ale," sahut Franklin dengan suara parau.
Sementara mereka yang menyaksikan hal itu ikut dan turut merasakan penyatuan rasa antara ayah dan putrinya. Begitupun dengan Vynnitta, ia membekap mulutnya sendiri demi meredam tangis yang ingin meledak dari rongga dadanya sejak tadi.
'Apa aku tega membuat mereka terpisah?' batin Xilondra, sisi lembut dan hangatnya kembali mendominasi.
Meninggalkan aksi melankolis yang pada akhirnya akan membuatnya juga kalah itu. Xilondra memilih untuk memindai hutan yang nampak aneh. Ia tidak melihat ada tanda- tanda kehidupan manusia di sana. Xilondra melangkah maju dan memutuskan untuk menyibak pohon berdaun lebar yang tumbuh lebat di sisi kanannya. Entah kenapa ia tergerak untuk mendekati tumbuhan itu.
"Xilondra!"
__ADS_1
...Bersambung ...