Hasrat Terlarang Pembantu

Hasrat Terlarang Pembantu
Aku Bukan Hantu.


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹


"Ahh ... aduh!" pekik Franklin di kala dirinya mendapat sabetan bertubi-tubi dari beberapa ikat daun kelor. Pria itu bahkan menutupi wajahnya agar ketampanannya tidak rusak.


Vynnitta dan Mari sama-sama menoleh dan mengangguk secara bersamaan. Kemudian keduanya menendang Franklin hingga pria itu terjengkang di atas tanah.


"Argh!" jerit Franklin sambil mengusap bokongnya yang linu. Sebelum ia mengangkat wajahnya, Vynnitta dan Maria sudah berlari dengan kencang untuk menuruni bukit.


"Lari terus Maria jangan menengok kebelakang!" ujar Vynnitta yang terus menggenggam tangan asistennya itu.


"Tapi, Kak. Aku mendengar seperti ada orang yang memanggil namamu," ucap Maria sambil terus mengikuti langkah kaki Vynnitta untuk terus berlari. Hingga napas keduanya terengah-engah ketika sampai di bawah bukit.


"Tadi apa kata kau, Maria? Ada yang memanggil namaku? Tapi aku tidak mendengar apapun," cecar Vynnitta ketika ia telah menetralkan napas dan juga debar jantungnya.


"Iya, Kak. Pertama suara itu menyebut Vyn lalu Erriana. Aku juga mendengar suara mengasuh kesakitan," jawab Maria yang kini sudah menggelosor di atas rerumputan.


Vynnitta menunduk lalu menatap Maria lekat. " Kau bilang apa? Ada yang mengaduh? Kenapa aku tidak mendengar apapun?" heran Vyn, akan tetapi apa yang diucapkan Maria membuatnya bingung. Pasalnya Maria juga mengatakan hal tentang mengaduh kesakitan. Bukankah hantu tidak bisa merasakan sakit? Begitu pikirnya.


"Iya, Kak. Sungguh tadi aku mendengarnya. Saat kita memukuli lalu membuatnya terjengkang ke atas tanah. Sayangnya aku tidak melihat wajah hantu itu. Siapa tau dia tampan, Kak," tutur Maria di akhiri dengan senyum-senyum tak jelas.


" Hei Maria! Kamu tidak apa-apa kan? Jangan-jangan ni anak ketempelan." Vyn sontak membekap mulutnya dengan kedua mata yang membola.

__ADS_1


"Enak aja, aku ini gak kenapa-napa kok. Aku kan cuma berkhayal, siapa tau hantu tadi bisa ku jadikan pacar. Daripada jomblo akut begini, capek tau kak sendirian terus gak ada yang perhatiin," keluh Maria seraya mengerucutkan bibirnya.


Prukk!


"Aduhh! Kenapa aku di kepret pake daun kelor si Kak?" protes Maria seraya memekik kesal, tatkala wajahnya mendapat sabetan ikatan daun kelor itu tiga kali.


"Biar kamu sadar. Hantu kok diinginkan jadi pacar. Mau tampan seperti apa pun tetap saja jenisnya hantu. Tembus pandang gak bisa di peluk gak bisa di cium. Apa enaknya coba?" omel Vynnitta. Membuat Maria cengengesan pada akhirnya.


"Eh tunggu dulu deh, Kak,"


"Kenapa?"


"Iya, terus?"


"Tapi kenapa pas kita tendang tadi dia bisa jatuh? Hayo lho Kak?" heran Maria, ia yang memang tukang kritik akan terus bertanya jika ada hal di luar logikanya.


"Eh, kamu benar juga. Apa kita udah salah sangka ya? Terus yang tadi itu siapa?" bingung Vynnitta seraya memegangi dahinya.


"Apa kita balik lagi aja Kak ke atas!" tunjuk Maria.


"Tidak mungkin, Maria. Nanti kita bisa terlambat pulang. Lalu Alessia akan merajuk lagi seharian. Biar sajalah, jika yang tadi itu manusia. Lagipula salah sendiri karena telah mengganggu kita," tukas Vyn yang kembali meneruskan langkah kakinya.

__ADS_1


Ketika sampai di pinggiran sungai, Vynnitta pun mengeluarkan rakit yang di sembunyikannya di antara semak-semak. Lalu ia di bantu Maria mengarahkan rakit ke sungai. Mereka naik ke atas rakit sambil berpegangan pada tali tambang yang telah Vyn ikat di antara kedua ujung sungai. Tali itu diikat di batang pohon. Sehingga mereka akan berpegangan pada tali tersebut ketika menyebrang dengan rakit.


"Aku menyukai ide Kak Vynnitta. Seandainya kita tidak punya rakit. Mungkin celana dan sepatu kita akan basah. Kita juga akan sampai lebih lama ke seberang," Tutur Maria memuji Vynnitta dengan senyum terkembang. Ia begitu mengidolakan Vynnitta sejak awal pertemuan keduanya.


Sementara itu di atas bukit.


Gill dan Brandy tak dapat menahan gelak tawa mereka. Melihat bagaimana Franklin menjadi bulan-bulanan dua wanita cantik. Apes benar memang. Sungguh malang nasib sang duda keren bin tajir melintir ini. Ternyata keberuntungan tidak bisa di beli dengan uang.


"Puas kalian menertawakan ku!" hardik Franklin dengan suara baritonnya. Akan tetapi tetap saja Brandy dan Gill tergelak hingga keduanya memegangi perut.


"Ya ampun, nasib Tuan sungguh malang. Sudah dikira hantu di pukuli pula. Jangankan mau buat adegan romantis dari pertemuan kedua, yang ada justru di aniaya," oceh Gill yang akhirnya mendapat timpukan batu di kepala.


Pletuk!


"Hahaha!" Kali ini Brandy menertawai Gill yang mengaduh kesakitan. Puas rasanya dapat membalas perbuatan orang seketika.


"Sungguh sial aku mengajak kalian berdua," gumam Franklin masih terus mengusap bokongnya.


'Huft, Vynnitta. Apa ini hukuman untukku?' Batin Franklin lesu.


Bersambung>>>

__ADS_1


__ADS_2