Hasrat Terlarang Pembantu

Hasrat Terlarang Pembantu
Rencana Penculikan.


__ADS_3

๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Raisa yang mendulang resah karena Franklin yang mengabaikannya. Juga, sikap Vyn yang kurang ajar baginya. Amarah telah menggunung di dalam dadanya. Harusnya, dirinyalah yang membuat Vyn dan Franklin sengsara, bukan malah sebaliknya.


Terserang gatal semalaman, hingga timbul bercak kemerahan di sekujur tubuhnya. Membuat Raisa menyimpan dendam terhadap Vynnitta.


" Berkali-kali, ingin mengerjai gadis itu. Tapi, semua justru berbalik padaku! Membuat kesal saja! Lihat saja, pembantu sialan! Aku akan membuat mu jera, dan berpikir ulang sedang berhadapan dengan siapa." Raisa menyeringai sadis. Terbaca, jika yang ada di pikirannya saat ini adalah rencana super jahat.


Begitulah sifat Raisa yang sebenarnya. Wajahnya yang begitu cantik, sungguh bertolak belakang dengan hatinya yang kejam dan karena di selimuti oleh dendam.


"Franklin, akhirnya Oma bisa sarapan bersamamu," ucap Elli sumringah, wajahnya terlihat begitu senang. Karena pagi ini, ia melihat cucu kesayangannya itu ada di meja makan.


"Maafkan Frank, Oma. Karena, perusahaan sedang mendapat masalah. Tapi, Oma jangan khawatir. Karena, Frank akan menyelesaikan ini secepatnya. Dua pekan dari sekarang, Frank pasti bisa menemukan tikus-tikus yang telah berani menggerogoti perusahaan." Franklin, akhirnya menjelaskan apa yang terjadi dengan perusahaan kepada Elli. Agar, sang oma mengerti kenapa dalam beberapa hari ini, ia selalu pulang larut malam. Bahkan, Franklin berharap agar penyakitnyaย  tidak kambuh dalam waktu dekat ini.


๐˜‰๐˜ช๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜›๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ข๐˜ค๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด.


Franklin, memasukkan makanan itu dengan cepat ke mulutnya. Karena, ia melihat Raisa yang tengah menghampiri meja makan.


"Frank, kenapa terburu-buru sekali?" tanya Raisa yang hanya di lirik sekilas oleh Franklin. Bagaimanapun, Franklin tidak bisa bersikap terang-terangan di depan oma Elli.


"Aku ada beberapa rapat di kantor hari ini, maaf tidak bisa menemanimu." Lalu Franklin, terlihat mengusap rambut panjang Raisa yang bergelombang. Kemudian, ia segera pergi setelah sempat mengecup kening oma Elli.


๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ญ! ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ? ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ? ๐˜—๐˜ณ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜“๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ข๐˜ค๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข? ๐˜‹๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต. ๐˜‰๐˜ช๐˜ด๐˜ข-๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถย  ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ญ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜จ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข๐˜ญ.


Raisa mendendus kasar, ketika dirinya telah sendirian di meja makan. Elli, pamit meninggalkannya karena ada panggilan alam.


Setelah makan, Raisa kembali ke kamarnya.


"Oh, Alex, my darling. Aku ingin kau mengeksekusi rencana kita. Sebentar lagi sasaran akan keluar rumah. Dia akan menemani nenek tua itu ke salon."


๐˜‰๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฎ๐˜บ ๐˜ด๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ต๐˜บ. ๐˜–๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜ฃ๐˜บ ๐˜ฅ๐˜ชย  ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต.


"Setelah ini, kita akan bertemu. Aku rindu sentuhan mu pada tubuhku, Lex."


๐˜™๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ ... ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ฎ๐˜บ ๐˜ด๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ต๐˜บ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ.


"Thank you, Lex." Raisa pun memutuskan panggilan dari selulernya.


"Rasakan kau, Vyn. Sebentar lagi, kau tidak akan bisa berlagak padaku." Raisa menyeringai buas. Membuat wajahnya begitu seram bagaikan iblis.


Tak lama kemudian, oma Elli dan Vynnittaย  keluar dari mansion. Oma Elli, memang selalu bepergian tanpa pengawalan. Ia hanya akan membawa Vynnitta bersamanya. Entah kenapa, Elli merasa tenang jika pergi dengan gadis bar-bar itu.


"Vyn, nanti kamu ikut nyalon juga ya. Biar kamu gak bosan nungguin Oma," ajak Elli.

__ADS_1


"Enggak ah, Oma. Vyn, cukup perawatan sendiri aja," tolaknya.


"Kamu, selalu saja menolak. Tubuhmu juga harus di rawat dengan baik. Karena itu aset masa depanmu," saran Elli.


"Iya, Oma. Vyn rawat kok. Nih, kulit aku juga halus meskipun enggak perawatan ke salon," dalih Vyn.


" Iya, Oma tau. Kamu 'kan emang dasarnya udah cantik. Kamu juga, berasal dari kalangan atas. Hanya, saja kamu tuh gak mau dandan bener gitu, biar cantiknya keliatan," ujar Elli.


"Biar aja, Oma. Justru dengan begini, Vyn jadi merasa aman dari pandangan nakal laki-laki tak bermoral," jelas Vyn, membuat Oma Elli mengangguk dan tak lagi memprotes penampilannya.


Vynnitta, yang selalu bergaya casual atau lebih condong mirip dengan gaya laki-laki. Ia merasa aman dengan berdandan seperti ini. Menutupi rambut panjangnya dengan topi. Menyembunyikan mata indah dan wajah cantiknya dengan kacamata dan masker. Menyamarkan bentuk tubuhnya dengan pakaian yang kebesaran serta berlapis. Ia tak ingin mengundang hasrat pria di luaran dengan berpakaian yang membentuk badan.


"Aku akan mampir ke toko buku sebentar, Oma gapapa kan aku tinggal?" tanya Vyn, ia ingin membeli novel cetak penulis novel online kesukaannya.


"Pergilah, Oma akan aman di sini. Kau lah yang harus berhati-hati. Minta lah pada pak Tun, untuk menemanimu," saran Elli khawatir.


"Tokonya deket gitu, Oma. Gapapa kok, Vyn bakal baik-baik aja, dan segera kesini nungguin Oma. Ok!" ucapnya, membuat Elly tak bisa menahannya lagi.


๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช, ๐˜๐˜บ๐˜ฏ.


"Pak Tun! Tolong ikuti kemana Vynnitta pergi!"


๐˜‰๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜•๐˜บ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ.


"Kenapa toko yang di sana mendadak tutup sih!" decak Vyn, kesal. Karena, mau tak mau ia harus berjalan agak jauh lagi. Untuk mencapai toko buku berikutnya.


"Haih, tau gini. Minta antar sama pak Tun aja tadi." Vyn, gemas sendiri karena toko yang kedua pun sepertinya pindah toko, sehingga dirinya harus menyebrangi pertigaan jalan.


"Lokasi sepi, Bos. Kita akan bergerak sekarang."


๐˜‰๐˜ข๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ.


"Baik, Bos!"


Seorang wanita berambut panjang nan ikal tengah tersenyum sinis. Kemudian ia bersiap, pergi menghampiri kantor suaminya dengan membawa makan siang.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ข๐˜ค๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜›๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ถ.


_____


" Siapa kalian! Jangan menghalangi jalanku! Minggirlah!" usir Vyn pada beberapa pria yang mengenakan jaket serta masker hitam di wajah mereka.


"Tangkap dia!" titah pria bertato itu kepada temannya dua orang temannya. Sementara, dirinya telah menyiapkan tisu yang di beri obat bius.

__ADS_1


"Jangan, ada yang mendekat! Pergi kalian! Akkhh ...!" Vyn berteriak panik, ketika para preman itu mendekatinya bersamaan.


Bruukk!


Duagh!


Dua orang preman tersungkur seraya memegangi dada mereka.


"Gadis kecil, sialan! Aku tidak akan segan lagi padamu!" Preman itu pun maju dengan wajah lebih beringas dari semula. Karena ia kesal, telah mengira bahwa yang ditangkapnya adalah seekor anak kelinci.


"Menangkap Ku? Jangan mimpi kalian!" Vyn pun tidak tinggal diam, ia terus memberikan perlawanan pada preman yang hendak menangkapnya. Meski tangan dan kakinya terasa kebas karena memukul dan menendang para preman yang berbadan besar dan keras.


"Akkhh! Kau mematahkan tanganku gadis sialan!" Seorang preman berteriak kencang, karena salah satu tangannya telah di pelintir menggunakan jurus gunting dari kedua kaki Vyn.


"Rasakan! Beraninya kau menyentuh dadaku dengan tangan kotormu ini!"


Krekk!


"Akkhh!!"


"Jangan diam saja, bantu dia!"teriak Bos para preman itu. Hingga, kedua pria pun kembali maju menyerang Vyn.


Bugh!


Satu pria terjatuh, karena di pukul dengan alat pemukul bisbol oleh pak Tun.


Duagh!


Vyn, juga telah menendang preman satunya lagi hingga terjengkang.


" Terima kasih, Pak Tun." Vyn, lega karena ada yang membantunya.


"Sama-sama, Nona."


๐˜š๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ...


Sementara itu ....


๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช? ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜—๐˜ข๐˜ฌ ๐˜›๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ.ย  ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ? ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข! ๐˜๐˜บ๐˜ฏ, ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ!


"Gill! Siapkan mobil cepat!" Franklin, segera meninggalkan rapat yang hampir selesai itu, membuat asistennya kalang kabut.


"Jhonny, kau handel ini semua." Kata Gill pada Sekretaris Franklin.

__ADS_1


Bersambung>>>


__ADS_2