Hasrat Terlarang Pembantu

Hasrat Terlarang Pembantu
Kejutan Yang Mengejutkan


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹


"Ale ...!" Franklin terkejut ketika telapak tangannya menempel di kening gadis kecil kesayangannya itu. "Badannya demam. Kenapa kau bilang tidak apa-apa!" pekik Franklin tanpa sadar. Ia panik melihat Alessia begitu pucat dan mengeluarkan keringat dingin.


Mendapat protes bernada tinggi dari Franklin membuat Vyn kaget bukan kepalang. Bukankah anaknya ini sedang berpura-pura? Bagaimana bisa demam sungguhan. Dengan wajah bingung, Vynnitta pun berjongkok mendekati putri kecilnya yang tadi sore masih baik-baik saja. "Astaga, Ale!" Vyn memekik kencang saking kagetnya. Apalagi dengan kelebihan yang ia miliki, membuatnya dapat mengetahui bahwa Alessia telah tak sadarkan diri dengan keadaan beberapa fungsi alat vitalnya yang menurun.


"Alessia kenapa, Kak!" Maria pun ikut merangsek maju dan bersimpuh karena tempat tidur Alexa tidak terlalu tinggi.


"Alexa tidak sadarkan diri. Jantung nya berdetak begitu lemah. Dia ... putriku ... ." Vynnitta pun membuka matanya tak kuasa melihat apa yang tengah di alami Alessia.


"Brandy!" Franklin memanggil kawannya itu untuk maju mendekat. Brandy pun memeriksa Alessia, namun ia hanya dapat melakukan sekedar pemeriksaan pada urat nadi saja.


"Denyut nadinya sangatlah lemah. Alessia, harus segera di bawa kerumah sakit," ucap Brandy penuh sesal. Bukan ini yang harusnya terjadi. Kenapa Alessia jadi sakit betulan. Bahkan parah dan membahayakan jiwanya.


"Ale tidak perlu kerumah sakit." Vynnitta menjatuhkan raganya di samping tubuh sang putri dan mengangkat Alessia keatas pangkuannya. "Kenapa begini! Kenapa harus Alessia! Aleee ...!" Vynnitta histeris, membuat yang ada di sana bigung setengah mati. Alessia masih bernapas akan tetapi Vynnitta menangisi putri seperti sudah tiada saja.


"Katakan, apa yang terjadi dengan Alessia?" tanya Franklin. Ia kini telah berada di atas kasur menangkup kedua bahu Vynnitta. Tatapan matanya menuntut penjelasan dari wanita cantik yang selalu membayangi setiap langkahnya ini.


Vynnitta memejamkan matanya, seraya melabuhkan kecupan dalam di kening Alessia. Air matanya sudah berurai deras membasahi pipi dan jatuh menetes di wajah Alessia juga. Vynnitta hanya terisak hebat tanpa bisa menjawab pertanyaan dari Franklin. Maria di bawah saja juga menangis sesenggukan melihat kesedihan Vynnitta. Ia merasa ada hal yang pelik tengah menimpa gadis kecil yang juga teramat ia sayangi itu.


"Kak, Alessia kenapa?" tanya Maria sambil sesenggukan. Brandy reflek ikut berjongkok untuk menenangkan gadis itu. "Dokter." Maria menoleh kearah Brandy meminta jawaban. Namun, dokter muda itu hanya menggeleng pelan. Bukan kuasanya menebak penyakit seseorang. Ia harus menggunakan alat bantu medis. Berbeda dengan Vynnitta yang memang memiliki kelebihan. Seingat Brandy, ada tanda akar menjalar di tengkuk Vynnitta. Akar tersebut akan bersinar ketika menemukan penyakit dan saat Vynnitta mulai menghisap racun dalam tubuh pasiennya.


Brandy terus memperhatikan Vynnitta yang terus memejamkan matanya seraya memeluk sang putri. "Tidak, tidak ... tidak!" Vynnitta berteriak seraya memeluk Alessia erat. "Kenapa! Kenapa racunnya tidak bisa keluar dari tubuhmu, Ale!" Sontak jeritan Vynnitta itu membuat kedua bola mata Franklin membesar saking kagetnya.

__ADS_1


"Racun apa? Apa maksudmu Vyn?" Franklin memegangi tangan Vynnitta dengan tatapan nanar ke wajah pucat wanita yang teramat ia rindukan.


"Alessia-ku --" Vynnitta tak kuasa mengatakannya, ia kembali menangis dengan histeris. Sungguh tak disangka jika rencana mengejutkan franklin berubah menjadi hal yang sangat mengejutkan dirinya juga. Vynnitta tak kuasa mengatakan hal yang berkaitan dengan terungkapnya identitas Alessia.


"Apa yang terjadi? Kenapa Alessia tidak juga bangun dan berteriak surprise?" cecar Xilondra yang sudah berdiri tegak di depan pintu kamar Alessia. Ia menatap nanar ke tubuh gadis kecil di atas pangkuan Vynnitta itu. Alessia yang ia tau amatlah lincah dan cerewet kini begitu pucat dan lemah.


"Surprise? Surprise apa?" tanya Franklin yang macam orang bodoh. Ia menatap bergantian ke arah Gill sang asisten lalu ke arah Brandy sahabatnya. Mereka berdua hanya membalas tatapannya dengan raut wajah sendu. Hal yang membuat Franklin menjadi satu-satunya orang bodoh di sana.


Vynnitta menyerahkan sebuah kanvas yang dibungkus oleh kertas sampul kado. " Apa ini?" Makin heran lah Franklin.


" Maafkan saya, Tuan. Semua adalah ide saya. Kami berencana memberi kejutan untuk merayakan hari lahir anda," jelas Gill pelan. Ia pun tidak menyangka bahwa rencananya justru akan menjadi kenyataan yang menyedihkan seperti ini. Alih-alih, sorak Sorai yang terjadi malam ini. Justru sebaliknya, bahkan mereka tidak tau kenapa Alessia bisa tak sadarkan diri.


Franklin pun membuka dengan cepat kotak hadiah yang ada ditangannya.


Ia menyobek kertas pembungkus tersebut dengan cepat. Hingga kini tampaklah sebuah lukisan yang begitu indah. Dimana terdapat seorang anak perempuan yang di cium oleh seorang laki-laki dewasa. Laki-laki tersebut mengenakan kaus couple dengan anak perempuan dalam lukisan itu. Bahkan terdapat tulisan "Daddy dan Daughter di tengah.


Franklin tak dapat lagi membendung air matanya. Ia pun berharap apa yang diinginkan Alessia adalah hal yang nyata. "Katakan padaku, apa yang terjadi pada Alessia?" ucap Franklin serak. Ia menarik dagu Vynnitta, agar wanita itu menatap matanya.


"Alessia-ku terkena racun beku sepertimu!" pekik Vynnitta seraya menepis tangan Franklin yang memegang dagunya.


"A–apa? Bagaimana bisa? Maksud mu ... itu berarti Alessia adalah --" Franklin tak mampu meneruskan kalimatnya. Ia lantas menunduk memejamkan matanya. Napasnya tercekat dadanya begitu sesak. Bukankah seharusnya ia senang mengetahui kenyataan, bahwa sudah pasti jika Alessia adalah putri kandungnya. Hasil perbuatannya pada Vynnitta lima tahun yang lalu.


Akan tetapi ia mengetahui kenyataan yang sangat diharapkannya sekaligus mengetahui bahwa Alessia mengidap racun mematikan didalam tubuhnya.

__ADS_1


"Alessia ... putriku ...," Franklin menggenggam tangan Alessia yang dingin. Wajah gadis itu semakin pucat. Bahkan bibirnya telah membiru. "Apa kau tidak menyerap racunnya dengan kekuatanmu? Seperti yang pernah kau lakukan padaku dulu?" tanya Franklin dengan wajah berlinang air mata. Baru kali ini seorang franklin menangis sejadi-jadinya seperti itu. Pria yang jarang menampilkan ekspresinya, terlihat begitu terpukul saat ini.


"Aku ... tidak bisa menyembuhkannya. Aku harus membawanya kembali ke hutan tempat di mana aku mendapatkan kekuatan akar Penghisap," tutur Vynnitta lemah penuh sesal.


" Bawa kami kesana! Aku tidak mau kehilangan dia!" seru Franklin dengan nada tinggi.


"Apa kau pikir aku mau kehilangan putriku!" balas Vynnitta dengan nada tinggi pula. Ia tak terima karena perkataan Franklin begitu menyinggung hatinya yang saat ini hancur. Bagaimana perasaannya tidak hancur, disaat dirinya mendapati kenyataan seperti ini.


"Bi--" Franklin tak lagi meneruskan kalimatnya ketika dorongan dari tangan Vynnitta sukses membuat dirinya terjungkal kebawah.


BRUGH!


Brandy dan Gill tak sempat menangkap tubuh tegap Franklin yang sukses bertabrakan dengan lantai marmer.


Franklin, menerima tanggapan Vynnitta. Ia menyadari jika sesaat tadi ucapannya terlepas batas. Secara tak langsung ia kembali melukai perasaan wanita yang teramat ia cintai itu.


"Pergilah! Aku yang akan membawa putriku ke hutan Rupawarna!" pekik Vynnitta, semakin mendekap erat Alessia, putrinya.


"Aku akan mengantarmu, Vyn. Aku tau hutan itu." Xilondra, seperti biasa. Ia maju sebagai pahlawan untuk Vynnitta. Meskipun kini hatinya telah hancur berkeping-keping. Ibarat vas bunga yang terbuat dari kaca kristal, lalu jatuh dari ketinggian lima puluh meter. Tak berbekas harapan sedikitpun.


"Alessia itu putriku. Kau tak perlu lagi menjadi pahlawan kesiangan."


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2