Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Apa harus senang atau sedih


__ADS_3

Dafa sudah sampai di apartemennya Wulan. Dengan terburu-buru, Dafa menuju apartemennya Wulan. Dafa mengetuk pintunya dengan tak sabaran.


Wulan membuka pintunya dan terkejut dengan kedatangan Dafa.


"Kenapa kamu nggak angkat telpon ku?" Kata Dafa, sembari melangkah masuk ke dalam.


"Maaf, aku lagi sibuk mengemasi barang-barangku."


"Memangnya kamu mau kemana?"


"Aku mau balik lagi ke Jepang. Tahu sendiri kalau aku cuman cuti kuliah."


"Kenapa mendadak?"


Wajah Wulan berubah muram dan menundukkan kepalanya.


"Percuma aku disini, kalau ternyata keberadaanku di dekat kamu tidak diharapkan oleh orang tuamu."


Dafa langsung memeluk Wulan. Sesulit ini hubungannya dengan Wulan. Andai kedua orang tuanya merestuinya, betapa bahagianya Dafa.


"Percayalah. Suatu saat nanti orang tuaku bakal merestui kita," pungkas Dafa, mencoba meyakinkan Wulan.


"Aku nggak yakin...."


"Kamu harus yakin sama aku." Lalu Wulan mengadahkan kepalanya menatap wajah Dafa.


"Daf... Aku harus pergi. Aku nggak mau ketinggalan pesawat."


"Apa tidak bisa tunggu beberapa hari lagi disini."


Wulan menggelengkan kepalanya dan dengan berat hati, Dafa melepaskan pelukannya dan mengantarkan Wulan ke bandara.


Sesampainya di bandara, Dafa kembali memeluk Wulan dengan sangat erat. Dafa sangat berat merelakan Wulan pergi, tapi mau gimana lagi Dafa tidak bisa menahannya.


"Daf, sebelum aku berangkat... Aku mau kita putus."


"Apa?! Putus!" seraya melepaskan pelukannya.


Wulan menganggukkan kepalanya. " Dan mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu. Semoga kamu bahagia dengan pilihan orang tuamu."


"Kamu ngomong apaan sih! Nggak. Aku nggak mau putus dan kita bakal bertemu lagi. Kamu lupa kalau aku bakal menyusul kamu ke Jepang."


"Tapi hubungan kita ini---"


"Dengar ya! Apapun yang terjadi, aku nggak akan putus sama kamu. Sekalipun orang tuaku melarangnya." Kekeuh Dafa. "Aku tuh sayang dan cinta sama kamu. Jadi aku mohon, tetaplah bertahan denganku."


"Lalu bagaimana dengan istrimu...."


"Dia sudah bukan istriku lagi. Aku sudah menjatuhkan talak kepadanya dan pernikahan kami hanya pernikahan siri."


Dafa menarik Wulan ke dalam pelukannya lagi. Dafa benar-benar tidak mau putus dengan Wulan. Dafa merasa begitu berat ujian cintanya bersama Wulan.


"Aku mohon, tetaplah bersamaku," kata Dafa memohon.

__ADS_1


Sorry Tante. Aku nggak bisa memenuhi permintaanmu karena Dafa tidak mau putus denganku.


"Baiklah, tapi ada syaratnya," ujar Wulan.


"Apa syaratnya."


"Menikahlah denganku, saat kamu menyusul ku ke Jepang. Kita nikah di Jepang. Bagaimana, kamu setuju?"


Dengan yakinnya Dafa menganggukkan kepalanya, menyetujui syarat dari Wulan.


Wulan tersenyum senang dengan keputusan Dafa dan Wulan mendaratkan ciuman mesranya ke bibir Dafa.


"Aku tunggu kamu di Jepang," ucap Wulan.


"Iya...."


Dafa dan Wulan turun dari mobil. Sebelum berpisah Dafa kembali memeluk Wulan. "Jaga hati kamu untukku. I love you," bisik Dafa dan Wulan mengangguk.


***


Setelah kepergian Wulan, tiga minggu lalu. Dafa disibukkan mempersiapkan apa saja yang harus di persiapkan untuk menikah di Jepang. Dafa tidak akan berterus terang kepada orang tuanya, kalau dirinya akan menikahi Wulan.


"Semuanya sudah beres. Tinggal berangkat besok."


Dafa merebahkan tubuhnya di kasur. Pandangannya menatap langit-langit kamarnya. Hatinya sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Wulan.


"Rasanya ingin cepat-cepat tiba di sana," gumam Dafa, yang tersenyum membayangkan wajah Wulan yang cantik.


Keesokan harinya, Aisyah yang saat ini tengah berada di rumah Marshall. Tengah tersenyum menggendong baby Shania, yang kini sudah berusia sepuluh bulan.


"Duh... Senangnya Shani main sama aunty," seloroh Zee, yang kini duduk di dekat bouncer.


Saat sedang asik bermain dengan baby Shania, Marshall datang bersama teman-temannya. Marshall dan teman-temannya habis bermain olahraga basket. Baby Shania yang tengah di gendong oleh Aisyah, begitu senang melihat Marshall pulang dan baby Shania langsung mengangkat kedua tangannya, minta di gendong oleh Marshall.


"Uuh... Anak papa yang cantik. Kangen ya sama papa," ucap Marshall, sembari mendaratkan kecupan manis di pipi gembul baby Shania.


"Sayang, rencananya aku dan teman-teman mau barbeque disini," ujar Marshall kepada Zee.


"Oke... Kalau gitu aku siapkan dulu bahan-bahannya."


Zee pergi ke dapur untuk mempersiapkan apa saja yang akan di perlukan. Setelah semuanya selesai, Marshall dan yang lainnya bergegas ke halaman belakang.


Aisyah duduk mengamati para lelaki yang asik memanggang daging. Byan datang membawa barbeque yang sudah matang dan duduk di samping Aisyah.


"Nih... Makanlah," ucap Byan, seraya menyerahkannya ke Aisyah.


"Terima kasih, kak."


Byan mengangguk dan Aisyah memakannya, tapi baru saja mengunyah tiba-tiba Aisyah merasakan mual.


Hoek


Aisyah menutup mulutnya dan berlari ke toilet untuk memuntahkannya. Byan segera menyusul Aisyah dan memijat tengkuk Aisyah.

__ADS_1


"Sudah kak...." Ucap Aisyah lesu.


"Kamu sakit?"


"Mungkin aku masuk angin, kak. Nanti juga baikan."


"Kamu yakin?"


Aisyah mengangguk, meyakinkan Byan yang terlihat mengkhawatirkannya. Aisyah dan Byan kembali bergabung.


"Yang...." Teriak Marshall memanggil Zee. "Dagingnya ada lagi nggak?"


"Nggak ada. Kenapa memangnya?" Sahut Zee, berjalan mendekati Marshall sembari menggendong baby Shania.


"Dagingnya kurang, yang," kata Marshall.


"Kalau gitu, aku beli deh," timpal Byan.


"Boleh-boleh. Cepat sana beli, nggak pakai lama," sambung Marshall.


"Aku ikut ya, kak," sahut Aisyah.


Byan mengangguk. "Ayo...."


Byan dan Aisyah bergegas pergi ke supermarket terdekat dari rumah Marshall. Keduanya memilih daging yang bagus dan membeli bahan makanan yang lain.


"Ada lagi yang mau dibeli?" Tanya Byan.


"Kayaknya sudah semua deh."


"Kalau gitu ayo kita bayar."


Selesai membayar dan membawa belanjaannya, tiba-tiba kepala Aisyah berasa berputar-putar. Aisyah menggelengkan kepalanya agar pusingnya hilang, tapi nyatanya Aisyah tidak bisa menahannya lagi dan Aisyah langsung terjatuh pingsan.


"Ais!!" Dengan cepat Byan menangkap tubuh Aisyah yang hampir terjatuh ke lantai.


"Pak-pak! Tolong bantu bawakan belanjaan saya," ucap Byan kepada petugas keamanan supermarket.


Byan segera mengangkat tubuh Aisyah dan secepatnya membawa ke klinik terdekat. Sesampainya di klinik, Aisyah segera ditangani oleh dokter.


Setelah selesai di periksa, dokter meminta Byan ikut duduk di depan meja kerjanya dokter.


"Jadi gimana, dok?"


"Sepertinya istrinya mas tengah hamil, tapi untuk lebih pastinya di periksa langsung oleh dokter kandungan atau bidan. Kebetulan disini juga ada dokter kandungan, mas bisa langsung membawa istri mas ke ruang dokter kandungan."


"Hamil, dok?"


"Iya, itu dugaan saya dari hasil pemeriksaan."


Aisyah yang sudah sadar, tertegun mendengar perkataan dokter. Seketika air matanya luruh membasahi pipinya. Disaat dirinya ingin melupakan Dafa, tapi mengapa Tuhan mengirimkan benihnya Dafa di rahimnya.


Byan yang melihat Aisyah menangis, segera mendekatinya dan memeluknya.

__ADS_1


"Kamu yang sabar ya... Kamu pasti bisa melewatinya dan merawatnya."


Aisyah bingung dan tak tahu harus bagaimana. Apa harus senang atau sedih dengan kehamilannya, karena pastinya Aisyah akan menjalaninya tanpa seorang suami disisinya.


__ADS_2