Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Acara Reuni Sekolah


__ADS_3

Sesuai dengan janjinya, Marshall datang ke makam orang tuanya. Marshall datang bersama Zee dan juga Byan. Sedangkan Aisyah tidak bisa ikut, karena baby Zero semalam tiba-tiba demam.


Kini Marshall, Zee dan Byan sudah berdiri di depan makam papa Adam. Ketiganya sudah bersimpuh dan memanjatkan doa untuk almarhum papa Adam. Marshall juga melanjutkan ziarahnya ke makam kedua orang tuanya.


Selesai berziarah, ketiganya memilih untuk mampir dulu ke restoran yang ada di mal yang tidak jauh dari rumah mereka.


"Shall, katanya SMA Nusa Bangsa angkatan kita mau mengadakan reuni. Apa kamu sudah mendapatkan undangannya?"


"Belum. Kamu kata siapa, By?" Tanya Marshall, sambil menyeruput jus alpukat.


"Kata si Rizwan. Aku juga belum dapat undangannya sih, setahuku baru si Jojo aja tuh yang dapat undangannya."


"Tapi kira-kira mereka bakal ngehina aku nggak sih, kalau bertemu denganku." Timpal Zee, mengingat kembali saat dirinya di bully sama teman-temannya.


"Kamu tenang saja, sayang. Aku akan selalu menjadi garda terdepan kamu dan jika nanti ada yang ngatain kamu, akan aku patahkan lehernya."


Zee kemudian mengacungkan kedua jempol nya. Suaminya itu dari dulu selalu menjadi orang pertama yang akan melindunginya dari orang-orang yang berlaku jahat terhadapnya.


Selesai makan di restoran, ketiganya berpisah. Byan yang langsung pergi ke kantornya, sedangkan Marshall mengantarkan Zee pulang.


Apa yang tadi siang dikatakan Byan tentang reuni, kini kartu undangannya sudah sampai di tangannya. Byan segera membuka kartu undangannya dan melihat kapan reuni tersebut diadakan.


"Jadi kamu mau datang kan?" Tanya Jojo yang sengaja datang ke kantor Byan untuk memberikan undangan reuni.


"Aku usahakan datang, tapi aku janji. Kamu tahu sendiri Ais belum genap sebulan melahirkan."


"Iya, itu sih terserah kamu. Sekalian nih, aku titip undangan ini untuk Marshall." Sambil menggeserkan undangannya ke Byan.


"Zee nggak dapat?" Tanya Byan, karena hanya ada satu undangan dan itu atas nama Marshall.


"Kayaknya nggak. Kamu tahu sendiri, gara-gara Zee di bully, Zee keluar dari sekolah."


Byan manggut-manggut dan menyimpan kartu undangannya di laci.


Sore harinya, sebelum Byan pulang ke rumah. Byan terlebih dahulu mampir ke rumah Marshall hanya untuk memberikan undangan reuni.


"Zee, Marshall mana?"


"Tuh, lagi sama Farrel," jawab Zee, menunjuk dimana Marshall berada.


Byan segera menghampiri Marshall dan menepuk pundak Marshall dengan kartu undangan.


"Nih, undangan buat kamu." Byan menyerahkan undangan tersebut.


"Undangan reuni?" Tanya Marshall sambil membukanya. "Acaranya hari malam Minggu ini?"


"Iya, tadi Jojo datang ke kantorku."


"Apa kamu mau datang,


"Aku nggak tahu, gimana nanti saja. Kalau gitu aku pulang dulu."


***


Hari pun berganti dan acara reuni pun akan diadakan nanti malam, tapi Byan justru saat ini masih berleha-leha di atas ranjang sambil bermain bersama Afkar. Sedangkan Sigit dan Jojo sudah sejak tadi menelponnya, tapi Byan sengaja mengabaikannya.


"Kak, kenapa telponnya nggak diangkat-angkat," kata Aisyah, yang sambil mengASIhi baby Zero.


"Paling juga nanyain aku sudah berangkat atau belum."

__ADS_1


"Papa... Nniihh...." Afkar menyerahkan fuzzle yang belum tersusun. Lalu Byan memasangkan fuzzle tersebut.


"Terus kenapa kakak nggak berangkat?"


"Aku malas datang ke acara seperti itu," jawab Byan yang kini sudah berhasil menyusun fuzzle.


"Nggak boleh gitu, kak. Bukannya kita jarang sekali bertemu dengan teman SMA."


Drrt Drrt.


Ponselnya Byan berdering lagi, tapi kali ini yang menelponnya adalah Marshall. Byan segera mengangkatnya.


"Halo, By. Kamu ada dimana? Aku cari-cari kamu kok nggak ada," kata Marshall yang sudah berada di acara reuni tersebut.


"Aku masih di rumah."


"Di rumah? Aku pikir kamu sudah sampai di sini. Cepat kamu kemari, aku tunggu kamu."


"Tapi---." Sambungan telponnya tiba-tiba terputus.


Byan menghela nafasnya dan sepertinya ia memang harus pergi ke acara reuni SMA-nya.


"Sayang... Aku mau berangkat aja ke acara reuni. Marshall sudah berada di sana."


"Iya. Sana pergi, tapi ingat kakak jangan macam-macam di sana dan pulangnya jangan malam-malam banget." Aisyah sudah memberikan peringatan.


"Siap, Nyonya. Laksanakan...!!" Kata Byan sembari memberi hormat kepada Aisyah dan hal itu membuat Aisyah menggelengkan kepalanya.


Byan segera bersiap-siap. Lima belas menit kemudian, Byan sudah rapi dan siap berangkat.


"Aku berangkat dulu," pamit Byan yang sekaligus mencium pipi baby Zero.


Byan pun segera berangkat ke reuni SMA. Sekitar tiga puluh menit berkendara, Byan akhirnya sampai juga di tempat acara. Byan segera melangkah masuk dan tiba di dalam, Byan mengedarkan pandangannya mencari teman lamanya, sekaligus mencari tiga sahabatnya.


"Nah, itu dia mereka," gumam Byan yang sudah melihat Marshall dan lainnya. Tapi Byan tidak melihat Zee ikut bersama Marshall.


Baru saja melangkah, tiba-tiba dari belakang ada yang menepuk lengannya.


"By, apa kabar?" Tanya temannya yang bernama Heri.


"Baik. Kamu sendiri."


" Ya... Seperti yang kamu lihat saat ini. Aku baik-baik saja," jawabnya dan berbincangan keduanya terus berlanjut.


Marshall tengah tertawa terbahak-bahak, saat salah satu temannya menceritakan tentang mereka sewaktu SMA. Kenangan semasa sekolah sangat membekas di hati semuanya dan terkadang ingin mengulang masa-masa di sekolah.


"Aku ke toilet dulu sebentar," ucap Marshall, yang dianggukin oleh teman-temannya.


Marshall pun bergegas menuju toilet. Beberapa menit kemudian, Marshall sudah selesai buang air kecil dan kembali melangkah ke teman-temannya.


"Shall...." Panggil seseorang.


Marshall menoleh dan betapa terkejutnya Marshall bertemu dengan orang yang dulu pernah mengisi hatinya dan dia adalah Liora.


"Baik," jawab Marshall singkat, lalu Marshall melanjutkan langkahnya, tapi Liora mencegahnya.


"Tunggu! Apa kamu tidak ingin menyapa aku dan mengobrol denganku. Secara kita sudah lama sekali tidak bertegur sapa," kata Liora yang menahan tangan Marshall.


"Maaf! Aku nggak ada waktu untuk berbicara sama kamu," jawab Marshall dengan nada ketus.

__ADS_1


Liora tersenyum miring, ternyata orang yang dulu begitu ia cintai sudah tidak mau mengganggapnya lagi sebagai teman.


"Segitunya kamu membenciku." Akan tetapi Marshall tidak menanggapi perkataannya, lalu Marshall menepiskan tangan Liora dari tangannya dan pergi meninggalkan Liora.


Marshall kini sudah bergabung lagi dengan teman-temannya dan Byan juga sudah berada di sana.


Acara reuni pun di mulai dan beberapa patah kata yang disampaikan oleh panitia dan ada beberapa susunan acara yang akan memeriahkan acara reuni tersebut. Selesai panitia berpidato kini giliran mantan ketua OSIS memberikan sambutan.


Semakin malam acara reuni semakin meriah. Beberapa dari mereka ada yang memesan minuman keras dan suasana di sana semakin memanas, karena sudah ada beberapa orang yang sudah mabuk.


Selain itu juga acara reuni ini sebagai ajang pamer kesuksesan maupun yang lainnya, tapi tidak semuanya. Ada sebagian yang memang berniat untuk temu kangen dengan sahabat lama.


Byan yang melihat acara ini semakin tak baik, memutuskan ingin segera pulang saja. Jujur bagi Byan, dia adalah tipe lelaki yang tak suka dengan yang namanya berbau minuman keras.


"Bro, aku pulang dulu ya," kata Byan yang sudah jengah dengan acara ini, yang tadinya untuk bersilaturahmi dan acara temu kangen dengan sahabat lama, tapi kini berubah dengan acara minum-minuman yang membawa kita kemudharatan.


"Nantilah, By... Nggak seru kalau elo pulang lebih dulu," kata Nizam, teman sekelasnya dulu.


"Tapi aku sudah di tunggu sama istri." Byan beralibi.


"Takut bener sama istri," sindir temannya yang lain.


"Iya, nih. Sudah ... Nanti saja pulangnya. Kita senang-senang dulu di sini. Kapan lagi coba, kita bisa berkumpul seperti ini," timpal temannya yang bernama Zaki.


Pada akhirnya, Byan tetap bertahan di sana meski sudah tidak nyaman.


"Gue ambil minum dulu ya," ujar Nizam.


Tidak lama Nizam pun bergabung lagi dan ia datang bersama Liora dan gengnya, siapa lagi kalau bukan Hanum, popy dan Enzi. Selain itu, ternyata Nizam memesan minuman haram itu.


Byan mendengus kesal, tapi melihat sahabatnya yang lagi-lagi menahannya terpaksa Byan tetap bertahan.


"Shall, jangan lama-lama kita berada di sini," bisik Byan dan dianggukin oleh Marshall.


Liora kini duduk disamping Marshall dan tiba-tiba Liora melingkarkan tangannya di lengan Marshall. Liora tersenyum miring melihat wajah Marshall.


"Lepaskan!" Sentak Marshall.


"Baiklah."


"Aku mau ngadain truth or dare. Bagaimana? Kalian setuju?" Ucap Zaki.


"Aku nggak ikutan," jawab Byan cepat.


"Aku juga," timpal Marshall. Sedangkan Jojo dan Sigit ikut game tersebut.


Byan sudah bisa menebaknya, jika tidak bisa menjawab maka harus minum dan ternyata benar dengan tebakannya. Daripada akan membawa dampak buruk baginya, Byan memutuskan untuk segera pulang saja, Byan berdiri dan bersiap pulang.


"Mau kemana?" Tanya Hanum, sambil menahan tangan Byan.


"Mau kemana saja, itu bukan urusan kamu!" Cetus Byan dengan tatapan tajam.


"Shall, pulang yuk," ajaknya.


"Ayo...." Tapi lagi-lagi Liora menahan tangan Marshall.


Marshall yang sudah kesal, menepis tangan Liora secara kasar dan segera beranjak dari tempat duduknya. Akan tetapi seseorang yang berdiri didepannya tengah menatapnya tajam.


"Sayang...." Marshall terkejut melihat Zee ada di sini.

__ADS_1


__ADS_2