
Byan sangat kesal karena saat ini Aisyah tengah bersama Dafa. Mendengar perkataan Dafa, membuat dadanya bergemuruh menahan amarahnya.
"Kenapa Ais membohongiku." Byan mengusap wajahnya dengan perasaan kesal.
Baru saja ditinggal pergi, Aisyah sudah melanggarnya. Bagaimana dengan hari esok.
Byan membuang nafasnya dan berusaha tetap tenang dan sebisa mungkin tetap berpikir positif dan Byan tidak mau begitu saja percaya dengan perkataan Dafa.
"Nanti aku telpon Ais lagi."
Setelah itu, Byan melanjutkan pekerjaannya agar semua pekerjaannya cepat selesai dan pastinya bisa cepat pulang ke Jakarta.
***
Aisyah yang baru selesai dari kamar mandi, menatap heran wajah Dafa yang tengah tersenyum sendiri.
Dasar cowok aneh. Cibir Aisyah di dalam hatinya.
Dengan gerakan kasar, Aisyah meraih tasnya, lalu Dafa segera bangkit dari duduknya dan mengantarkan Aisyah pulang.
Sekitar tiga puluh menit, mobil yang di kendarai oleh Dafa tiba di rumahnya Aisyah. Aisyah bergegas turun dan meninggalkan Dafa begitu saja di dalam mobilnya.
Dafa hanya tersenyum melihat Aisyah berlalu begitu saja.
"Aku harus lebih bersabar untuk mendapatkan kamu lagi." Gumam Dafa, setelah itu Dafa pun menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Aisyah.
Aisyah yang baru masuk ke dalam kamarnya, langsung melemparkan tasnya ke ranjang. Aisyah sungguh sangat marah kepada Dafa.
"Kesel aku sama kamu!" Geram Aisyah.
Aisyah kemudian menepuk keningnya, ia baru ingat kalau dirinya belum menelpon Byan. Aisyah segera mengambil ponselnya dan menekan nomor Byan.
Panggilan pertama tidak diangkat oleh Byan, lalu Aisyah menelpon lagi dan panggilan telpon kedua juga tidak diangkat lagi.
__ADS_1
"Tumben kakak nggak mengangkat telponku." Aisyah mencoba menelpon lagi dan lagi-lagi telponnya tidak diangkat oleh Byan.
"Apa kakak masih sibuk kerja?"
Karena tidak kunjung diangkat telponnya, Aisyah memilih untuk mandi dulu, setelah itu Aisyah akan mencoba menelpon lagi.
Siang pun berganti malam dan sampai sekarang Byan tidak mengangkat telponnya, membuat hati Aisyah dirundung gelisah. Hal-hal buruk kini hinggap di pikirannya.
Aisyah meneteskan air matanya, karena seharian ini ia tidak mendengar suara Byan.
"Kak... Angkat telponku...." Aisyah mendesah, karena Byan tidak mengangkat telponnya.
Waktupun sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan panggilan telponnya belum berhasil diangkat oleh Byan. Aisyah semakin mencemaskan Byan, takut kalau ada sesuatu dengan Byan.
Di kota yang berada. Byan sengaja tidak mengangkat telpon dari Aisyah, karena Byan ingin memberi pelajaran buat Aisyah agar tidak lagi membohonginya. Selain itu juga, Byan ingin secepatnya menyelesaikan pekerjaannya hari ini.
"Semoga kamu tidak mencemaskan aku dan maaf aku nggak mengangkat telponmu." Ucap Byan, yang terus menatap layar ponselnya yang terus berdering.
Setelah panggilan teleponnya mati, Byan langsung menonaktifkan ponselnya dan memilih untuk beristirahat.
*
Aisyah melirik jam di dinding dan membuang nafasnya. "Sudah jam delapan."
Hal pertama yang Aisyah lakukan adalah mengecek ponselnya dan berharap ada pesan masuk dari Byan. Aisyah mendesah, karena sampai sekarang Byan belum mengabarinya.
"Semoga kakak baik-baik saja." Aisyah kembali meneteskan air matanya, hatinya benar-benar sangat resah memikirkan Byan.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka dan sosok orang yang sejak kemarin dipikirkan kini menampakkan diri. Aisyah segera menghamburkan dirinya ke pelukan Byan, kemudian menumpahkan air matanya.
"Kakak jahat. Kenapa kakak nggak angkat telpon dariku." Kesal Aisyah sembari memukul dada Byan.
__ADS_1
Byan tidak menjawabnya, tapi Byan membiarkan Aisyah menumpahkan kekesalannya.
Karena Byan tidak menjawabnya, Aisyah mendongakkan kepalanya menatap wajah lelaki yang sangat dicintainya itu.
"Kakak kenapa nggak angkat telponku?" Sekali lagi Aisyah bertanya.
"Karena aku marah sama kamu."
Aisyah mengernyitkan dahinya, bukannya yang seharusnya marah itu dirinya, tapi kenapa Byan yang marah?
"Kenapa kakak marah sama aku."
"Karena kami sudah membohongiku."
"Bohong?"
"Iya. Bukannya kemarin kamu ketemuan sama Dafa."
Deg
Aisyah terkejut mendengar perkataan Byan dan darimana Byan tahu kalau kemarin dirinya bertemu dengan Dafa.
"Kenapa diam saja? Berarti benar kalau kamu kemarin ketemuan sama mantan suami kamu." Kali ini nada suara Byan terdengar sangat marah.
"Maafin aku, kak. Aku nggak sengaja bertemu dengan Dafa di mal," jawab Aisyah penuh sesal.
"Ke mal? Kamu pergi ke mal dengan siapa?" Tatapan Byan mengintimidasi Aisyah.
"Sama Zia dan Widia. Mereka mengajak aku pergi dan di mal aku bertemu dengan Dafa. Maaf... Aku pergi tanpa seizin kakak." Aisyah menundukkan kepalanya, karena merasa sangat bersalah.
"Terus kamu diajak pergi sama Dafa?"
Aisyah mengangguk pelan. " Dia maksa aku, kak dan menarikku untuk ikut dengannya. Sekali lagi maaf...." Jawab Aisyah dengan suara pelan.
__ADS_1
Byan membuang nafasnya dan ingin sekali Byan memarahi Aisyah, tapi Byan tak tega jika harus memarahinya, walau Aisyah salah.