Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Berangkat ke luar kota


__ADS_3

Byan sudah sampai di rumah mertuanya, lalu Byan bergegas turun menemui istri tercintanya dan mertuanya. Tiba di dalam rumah, Byan langsung di sambut riang oleh adik-adiknya dan merebut kantong plastik berisi jajanan dari tangan Byan.


"Hore... Kak Byan bawa jajanan buat kita!" Seru si kembar yang begitu senang mendapatkan oleh-oleh dari Byan.


"Kak Ais mana?" Tanya Byan kepada Adelia.


"Di kamar," jawab Adelia, sambil berlalu pergi bersama Adelio.


Byan pun segera menuju kamarnya dan saat akan menaiki anak tangga, Byan bertemu dengan Aries yang muncul dari arah taman belakang.


"By... Ayah mau bicara sama kamu."


Byan tidak jadi naik ke kamarnya dan mengikuti langkah Aries menuju ruang kerja pribadinya.


"Ayah mau bicara apa?"


"Ayah mau membicarakan tentang pekerjaan." Ucap Aries sambil mendudukkan dirinya di sofa tunggal.


"Jadi gini. Ayah ingin kamu kerja di anak perusahaan ayah yang baru. Dari pada kamu kerja di perusahaan orang lain, mending kamu pegang perusahaan ayah," ucap Aries meminta Byan mengelola perusahaannya.


"Mm... Gimana ya...." Byan bingung menjawabnya.


"Sudah nggak usah bingung. Pokoknya ayah minta kamu pegang perusahaan ayah. Toh, nantinya juga kamu dan adik-adik kamu yang meneruskan perusahaan ayah." Aries tetap memaksa Byan untuk mengelola anak perusahaannya.


"Boleh aku pikirkan dulu." Pinta Byan.


"Ngapain harus dipikirkan dulu. Pokoknya ayah maksa kamu!" Ya... Aries tidak mau tahu dan akan tetap memaksa Byan.


"Baiklah. Tapi tidak untuk waktu dekat ini kan?"


"Kalau bisa sih secepatnya, biar ayah sedikit santai mengelola perusahaan ayah yang lain."

__ADS_1


"Oke deh."


Selesai pembicaraan dengan Aries, Byan bergegas menemui Aisyah di kamarnya dan ternyata Aisyah tidak ada.


"Ais kemana?" Byan kemudian melangkah ke arah pintu kamar mandi dan mengetuk pintu.


"Sayang, kamu di dalam?"


"Iya...." Jawab Aisyah.


Tidak lama Aisyah keluar dari kamar mandi dan tersenyum menatap wajah Byan.


"Kamu nggak apa-apa?" Tanya Byan, sebab Byan melihat wajah Aisyah yang terlihat lebih pucat. Byan meraba kening Aisyah, takut kalau Aisyah demam.


"Nggak apa-apa. Kakak mau makan atau mau mandi dulu?"


"Mandi dulu deh." Pilih Byan dan Aisyah mengambil handuk untuk Byan mandi.


Sambil menunggu Byan mandi, Aisyah menyiapkan pakaian untuk Byan dan lagi-lagi Aisyah mengalami batuk kecil. Aisyah semakin menatap sendu noda darah yang keluar dari mulutnya.


***


Satu hari sebelum berangkat ke luar kota. Dhika sudah mendapatkan orang yang akan bekerja menjadi security di rumahnya Byan.


Byan pun merasa lega, karena keamanan Aisyah kini terjamin dan pastinya Dafa tidak dengan mudah datang ke rumahnya. Byan sudah mewanti-wanti kepada security yang bernama Mang Asep, agar tidak boleh sembarangan orang yang ingin menemui Aisyah.


Kini Byan sudah siap untuk berangkat dan saat ini Byan tengah mengelus perut besarnya Aisyah.


"Nak, jangan nakal di perut mama ya. Kamu harus jadi anak yang baik dan jangan nyusahin mama. Kasihan mama kalau kamu rewel di dalam perut."


Aisyah memukul bahu Byan." Kamu tuh ada-ada saja. Memangnya baby kita sudah lahir apa di bilangin rewel."

__ADS_1


"Bisa saja si baby nya rewel di perut kamu. Kayak kemarin-kemarin, tiba-tiba perut kamu kontraksi palsu. Aku kan jadi cemas lihat kamu kontraksi."


"Iya-iya. Kakak tenang saja, kali ini baby nya bisa di ajak kerjasama dengan baik."


"Semoga saja."


Lalu Aisyah mengantarkan Byan ke depan rumah. Sebelum berangkat Byan mencium kening dan pipi Aisyah.


"Jangan pergi kemana-mana, kalau mau pergi harus sama ibu atau Zee. Satu lagi, jangan capek-capek, biarkan bibi Nuri yang mengerjakan pekerjaan rumah. Aku nggak mau kamu sampai kecapekan."


"Iya. Aku akan menuruti perintah kakak," jawab Aisyah.


"Bagus." Seraya mengacak-acak rambut Aisyah.


Byan segera berangkat dan Aisyah kembali masuk ke dalam rumah.


Siang harinya, Aisyah mendapatkan telpon dari Widia. Aisyah sangat senang, karena sahabatnya menelponnya.


"Halo...! Ais...!!" Teriak Widia dan Zia di ujung telepon.


"Iya. Tumben telpon." Jawab Aisyah riang.


"Aku kangen tahu sama kamu." Ucap Widia. " Ais, kita jalan yuk! Sudah lama kita nggak jalan bareng." Timpal Zia.


"Gimana ya...." Aisyah bingung untuk menolaknya.


"Kita jemput kamu ya sekarang," ucap Zia dan langsung mematikan teleponnya begitu saja.


"Gimana ini...." Bingung Aisyah. "Aku telpon kak by saja deh."


Aisyah pun langsung menelpon Byan dan meminta izin, berharap Byan mengizinkannya. Akan tetapi ponselnya Byan tidak aktif.

__ADS_1


"Apa kak By sudah naik pesawat? Lalu gimana aku minta izinnya? Sudahlah nanti aku telpon lagi."


Setelah menunggu puluhan menit, kini Zia dan Widia datang menjemputnya. Aisyah pun bergegas masuk ke dalam mobil dan menghabiskan waktunya bersama sahabatnya.


__ADS_2