Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Tinggalkan Dafa!


__ADS_3

Bella datang ke apartemennya Wulan di temani oleh Difa. Dengan perasaan penuh emosi, Bella mengetuk pintu apartemen Wulan.


Tok tok tok


"Wulan...! Buka...!!" Teriak Bella, yang tak sabar ingin mencakar wajah Wulan.


"Ma, jangan teriak-teriak," tegur Difa, yang merasa tak enak hati. Takut teriakkan mamanya mengganggu para penghuni apartemen yang lain.


Akan tetapi Bella tak menghiraukan teguran Difa. Bella terus mengetuk pintu dan semakin keras Bella mengetuknya.


Pintu pun dibuka oleh Wulan. Bella langsung mendorong tubuh Wulan, lalu menjambak rambut Wulan. Sampai-sampai helaian rambutnya rontok.


"Dasar wanita murahan! Gara-gara kamu Dafa meninggalkan istrinya!" Maki Bella, penuh emosi. Bella semakin kuat menarik rambut Wulan dan Bella mencakar kulit tangannya Wulan.


"Ma, Jangan kayak gitu!" Difa menarik Bella dari Wulan. Ringisan Wulan terdengar ke kamarnya Dafa.


Dafa bergegas keluar dan melihat keributan diluar kamarnya.


"Mama...!"


Dafa menarik mamanya dan melepaskan tangan mamanya dari rambut Wulan. Jambakan Bella terlepas, tapi Bella terus berusaha menyerang Wulan.


"Ma, stop ma!" Dafa menahan tubuh mamanya.


"Lepaskan mama, Dafa!" Sentak Bella. Ia masih ingin menjambak rambut Wulan. Sungguh, hati Bella sangat murka kepada Wulan.


"Ma! Please. Jangan buat keributan disini!" Mohon Dafa, yang menahan mamanya, agar tidak menyerang Wulan.


"Oke! Mama nggak akan buat ribut lagi. Asalkan kamu pulang sekarang juga!" Tegas Bella, yang tak mau Dafa tinggal bersama Wulan.


"Oke, aku akan pulang, tapi mama pulang duluan."


"Nggak! Kamu harus pulang sama Mama sekarang juga!"


"Baiklah. Aku akan ikut pulang sama Mama." Dafa mengalah dan segera melangkah ke kamar untuk mengemasi barang-barangnya. Bella terus menatap tajam wajah Wulan. Rasanya, Bella ingin mencabik-cabik wajah Wulan.


Dafa keluar sembari menarik kopernya. "Ayo, kita pulang, ma."


"Kamu keluar duluan. Mama mau bicara sama dia."


"Ma... Please. Jangan sakiti Wulan."


"Mama bilang kamu keluar duluan!" Bentak Bella.

__ADS_1


Dengan terpaksa, Dafa keluar dari apartemennya Wulan dan diikuti oleh kembarannya, Difa.


"Tinggalkan Dafa!" Pinta Bella penuh penegasan.


"Maaf Tante, aku nggak bisa ninggalin Dafa. Tante lihat sendiri kan, bagaimana Dafa mencintaiku." Tukas Wulan, dengan angkuhnya.


"Aku akan membayar kamu berapapun. Asalkan kamu pergi jauh dari kehidupan Dafa."


Wulan tertawa sarkas, seraya menggelengkan kepalanya. "Memang Tante berani bayar berapa?" Tantang Wulan.


"Lima puluh juta."


"Lima puluh juta, ya...." Wulan manggut-manggut. Menimbang tawaran Bella, yang berani membayarnya hanya untuk menjauhi Dafa.


"Oke, aku terima dan aku akan meninggalkan Dafa. "


"Bagus! Secepatnya kamu pergi dari hidup Dafa. Satu lagi, kamu harus buat Dafa membencimu."


"Itu gampang, asalkan di naikin nominal uangnya."


Bella mencibir Wulan. Bella nggak habis pikir sama Dafa, bisa-bisanya jatuh cinta sama wanita licik seperti Wulan.


"Sekarang, berikan nomor rekening kamu."


Wulan segera memberitahu nomor rekeningnya, dan Bella mentransfer uang ke Wulan.


Bella segera pergi dari sana, sedangkan Wulan tersenyum melihat nominal yang dikirim oleh Bella. Baginya uang nomor satu, sedangkan cinta nomor sekian. Wulan mencium handphonenya, Karena senang mendapatkan uang secara cuma-cuma.


***


"Ma, kok lama banget. Mama nggak kasarin Wulan kan?" Ujar Dafa, yang sangat takut kalau mamanya mengasari wulan.


"Nggak," jawab Bella santai.


"Awas, kalau Wulan sampai kenapa-kenapa."


Bella memutarkan bola matanya. Segitu khawatirnya Dafa dengan Wulan, yang jelas-jelas tidak pernah tulus mencintainya. Cinta membuat Dafa buta dan bodoh, demi batu kerikil Dafa rela menceraikan Ais, yang sangat membutuhkan dukungan darinya.


Dafa, Bella dan Difa segera meninggalkan apartemen tersebut dan menuju pulang. Kini mereka bertiga sudah sampai di rumah, Dafa memilih masuk ke kamar dan menelpon Wulan. Hati Dafa merasa tak tenang, takut kalau Wulan diapa-apain oleh mamanya.


Panggilan pertama tidak diangkat, lalu Dafa mencoba lagi menelpon Wulan dan lagi-lagi Wulan tidak mengangkatnya.


"Kenapa nggak diangkat ya...." Pikiran buruk pun singgah di kepalanya. Rasanya Dafa ingin balik lagi ke apartemen Wulan.

__ADS_1


"Dafa...." Panggil Bella.


Dafa menoleh dan Bella mendekati Dafa yang tengah duduk diatas ranjang.


"Nak, mama mohon cabut kata cerai itu dari mulutmu dan kembalilah kepada Ais."


Dafa jengah membicarakan soal Aisyah, rasanya muak mendengar namanya.


"Aku nggak bisa, ma. Aku tuh nggak pernah cinta sama Ais." Dafa mengucapkannya dengan nada tegas.


"Dafa, Ais itu sangat membutuhkan dukungan dari kamu. Kamu tahu sendiri penyakit yang di derita Ais, susah untuk sembuh. Kalaupun Ais bisa sembuh, itu berarti ada yang bersedia mendonorkan hatinya untuk Ais." Bella menerangkan kondisi Aisyah, berharap hatinya Dafa tergerak ingin kembali kepada Aisyah.


"Itu mah deritanya dia. Kalau penyakitnya Ais susah untuk sembuh, ya tinggal mati," ucap Dafa tanpa di saring.


"Dafa! Kamu jangan pernah bicara kayak gitu. Sekarang kamu bisa bicara seperti itu, tapi suatu saat kamulah orang yang pertama menyesalinya dan kamu orang pertama yang akan kehilangan Ais."


"Nggak. Aku nggak akan menyesalinya. Sudahlah ma... Ngapain sih ngebahas tentang Ais. Malas banget aku denger namanya," gerutu Dafa, yang benar-benar sangat malas membahas tentang Aisyah dan penyakitnya.


Bella menggelengkan kepalanya, melihat sikap Dafa yang acuh terhadap Aisyah, beda lagi kalau bahas soal Wulan. Pasti Dafa bakal terus membela Wulan, tidak peduli Wulan salah atau benar.


"Oke, mama nggak akan bahas Ais lagi. Semoga keputusanmu tidak membuatmu menyesal dikemudian hari." Lalu Bella pergi dari kamar Dafa.


"Ais lagi... Ais lagi... Memang nyusahin perempuan yang satu itu. Nyesel aku sudah nikahin dia." Kesal Dafa dan membanting handphonenya ke samping.


"Kenapa sulit sekali untuk bisa hidup bersama Wulan sih. Kenapa coba, mama sama papa benci banget sama Wulan?"


Dafa meraih handphonenya dan mencoba lagi menelpon Wulan.


"Argh... Kenapa nggak diangkat-angkat sih!"


Dafa kesal karena Wulan tak mengangkat telponnya. Dafa harus menemui Wulan, Dafa harus memastikan kalau Wulan baik-baik saja.


Dafa segera berganti pakaian dan keluar dari kamarnya. Dafa berharap kalau mamanya tidak melihatnya pergi dari rumah, tapi sayang seribu sayang. Bella ternyata ada di depan rumah dan Dafa harus mencari alasan agar dirinya bisa pergi menemui Wulan.


"Mau kemana kamu?"


"Mau ketemuan sama Ronald," bohong Dafa.


"Jangan bohong kamu." Bella menatap penuh curiga.


"Nggak ma... Ngapain aku bohong. Barusan Ronald menelpon ku dan nyuruh aku ke rumahnya, katanya sih ada hal penting."


"Awas kalau kamu bohong! Kalau bohong, mama sunat kamu lagi."

__ADS_1


"Apaan sih, ma... Sudahlah aku berangkat."


Dafa segera naik ke mobilnya dan memacukan mobilnya ke apartemen Wulan.


__ADS_2