
Hidup tidak ada yang tahu seperti apa yang akan kita jalani kedepannya. Suka dan duka silih berganti dan roda kehidupan terus berputar. Hidup seakan sudah di titik terakhir, justru kembali bangkit dengan adanya uluran tangan yang membawanya menuju kebahagiaan.
Rasa syukur atas semua yang sudah terjadi di dalam hidup tidak akan pernah membuatnya lupa. Apalagi untuk seorang Aisyah yang masih di beri kesempatan untuk menjalani hidupnya.
Aisyah yang saat ini tengah menatap langit yang gelap, tapi bertabur bintang menghiasi gelapnya langit malam. Aisyah tersenyum dengan apa yang saat ini sudah ia raih didalam hidupnya. Kebahagiaan, keluarga, anak-anaknya dan pastinya cinta dari lelaki yang sudah memperistri dirinya.
Aisyah kemudian memejamkan matanya dan merasakan kedamaian di hatinya akan hidupnya saat ini. Hingga sepasang tangan kini melingkar di perutnya dan sebuah kecupan mesra Aisyah dapatkan.
"Lagi ngapain malam-malam berdiri di sini?"
"Lagi menikmati suasana malam ini," jawab Aisyah.
"Oh... Tapi nggak lagi mikirin lelaki lain kan?"
"Justru saat ini aku lagi mikirin seorang lelaki."
"Siapa?" Byan langsung membalikkan badannya Aisyah dan menatapnya penuh curiga.
"Suamiku tercinta," jawab Aisyah seraya mengulum senyumnya.
"Oh... Aku pikir siapa. Awas saja kalau di sini ( menunjuk ke arah dadanya Aisyah ) ada lelaki lain selain diriku."
"Siapa yang berani masuk ke sini. Sedangkan si pemilik hati sudah menggemboknya," jawab Aisyah sambil tersenyum dan Byan mengacungkan jempolnya.
"Ya sudah. Ayo masuk, sebentar lagi acaranya di mulai," ajak Byan, lalu merangkul pinggang Aisyah menuju acara ulang tahun perusahaan milik Byan.
Acara ulang tahun perusahaan kali ini, semua keluarga kecilnya hadir. Sekalian memperkenalkan dunia bisnis kepada anak-anaknya, terutama kepada Afkar.
Senyum Aisyah tidak pernah pudar di sepanjang acara dan pastinya Aisyah sangat bangga terhadap suami tercintanya karena perusahaannya kini menjadi perusahaan terbaik. Sungguh pencapaian yang sangat luar biasa.
__ADS_1
Byan kini sudah berdiri di atas panggung dan berpidato singkat tentang kesuksesan perusahaannya. Setelah itu Byan meminta keluarganya untuk naik ke atas panggung.
"Terima kasih untuk semuanya yang sudah hadir, saya hanya akan menambahkan beberapa kata saja." Byan mengulurkan tangannya kepada Aisyah untuk memintanya menggandeng tangannya.
"Saya cuma mau mengatakan rasa bangga dan rasa syukur atas semua yang Tuhan berikan untuk saya. saya berdiri di sini tidak pernah luput dari peran penting dari istriku tercinta dan kesuksesan saya adalah buah dari doa istri saya." Kemudian Byan menatap Aisyah penuh dengan cinta.
"Istriku... Terima kasih karena kamu selalu ada di sisiku. Menemaniku dari titik terbawah sampai aku berada di sini dan untuk anak-anakku, teruslah menggapai cita-cita dan mimpi kalian." Byan menjeda kalimatnya untuk menatap ketiga anaknya.
"Untuk semua yang ada disini. Cintailah keluarga kalian, tanpa mereka hidup kita tidak akan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Terima kasih...." Byan pun mengakhiri pidatonya dan turun bersama dari panggung.
***
Beberapa hari berlalu, Aisyah saat ini tengah berada di dapur dan ia sangat sibuk dengan masakannya.
Masakan tersebut akan ia persembahkan untuk seseorang yang sangat spesial di dalam hidupnya dan pastinya yang sudah membuatnya selalu tersenyum di setiap harinya.
Aisyah tersenyum puas, ketika masakannya sudah selesai. "Aku yakin kakak bakal suka," Aisyah bermonolog, sambil membayangkan wajah suaminya itu.
Disinilah sekarang, di depan kantor sang suami. Dengan langkah anggun, Aisyah memasuki kantor suaminya dan menuju lift khusus petinggi perusahaan, lalu Aisyah segera masuk ke dalam lift.
Tring.
Lift kini terbuka dan Aisyah segera melangkah keluar dari lift dan menuju ruang kerja sang suami.
"Selamat siang, Bu...." Sapa sekretarisnya Byan, yang dibalas dengan anggukan kecil.
Tanpa mengetuk pintu, Aisyah langsung masuk dan tersenyum melihat Byan yang begitu fokus di depan layar laptop.
"E'ehm!" Aisyah berdehem dan seketika Byan mengangkat kepalanya.
__ADS_1
"Sayang!" Byan tersenyum dan langsung bangkit dari kursinya. Kemudian Byan melangkah mendekati Aisyah yang kini sudah berdiri di depan meja kerjanya.
"Sibuk banget kayaknya," ujar Aisyah sambil melirik dokumen yang menumpuk di atas meja.
"Tadi memang sibuk, tapi saat ada istriku aku nggak jadi sibuk."
"CK... Bisa aja," jawab Aisyah tersenyum miring. Kemudian Byan menggiring Aisyah ke sofa dan duduk di sana.
"Kakak mau makan sekarang atau nanti?" Ucap Aisyah sambil meletakkan bekal makan siangnya.
"Nanti, tapi aku lapar." Yang dimaksud Byan adalah lapar yang lain dan entah kenapa ia ingin melakukannya di kantor.
"Jadi gimana? Mau makan sekarang atau nggak." Tanya Aisyah yang belum mengerti dengan kata lapar yang dimaksud Byan.
"Iya... Tunggu disini."
Byan bangun dan menelpon sekretarisnya dan mengatakan kalau ia tidak bisa diganggu sampai waktu yang tidak ditentukan. Setelah itu Byan mendekati Aisyah lagi.
Melihat Byan sudah kembali duduk, Aisyah langsung membuka kotak bekalnya.
"Jangan di buka dulu," cegah Byan, menghentikan gerakan tangannya.
"Tadi katanya mau makan."
"Aku memang mau makan, tapi makan kamu," tukas Byan yang langsung menarik tangan Aisyah agar duduk dipangkuannya. Setelah itu Byan menjerat Aisyah dengan cumbuan mesranya dan tidak akan membiarkan Aisyah lepas dari jeratannya.
🌺🌺🌺
Yeh... akhirnya sampai juga di penghujung cerita ini. Terima kasih yang sudah mengikuti cerita ini dari awal hingga akhir.
__ADS_1
Othor cuma mau mengatakan, banyak-banyak terima kasih atas kesetiaannya dengan cerita ini yang masih jauh dari kata sempurna.