
Brakk
Aditya menggebrak meja kerjanya. Ia baru saja mendapatkan informasi tentang Dafa yang menikahi Wulan. Orang suruhannya mengirimkan beberapa foto saat Dafa mengikrarkan janji suci pernikahan dan juga tidak ketinggalan foto-foto Wulan saat bertemu dengan Akemi.
Aditya menggeram emosi. Tatapan matanya nyalang dan rasanya saat itu juga Aditya ingin langsung terbang ke Jepang untuk menghajar Dafa.
"Ternyata kamu sudah membohongi papa! Lihat saja, semua kartu kamu papa bekukan." Geram Aditya.
Bella datang dan menatap heran wajah suaminya itu. Bella meletakkan bekal makan siang di atas meja kerjanya Aditya.
"Papa kenapa?" Tanya Bella.
"Nih, lihat sendiri kelakuan anakmu," kesal Aditya seraya menggeserkan handphonenya ke Bella.
Bella mengambil handphonenya dan melihat foto-foto Dafa. Bella membulatkan matanya melihat foto pernikahan Dafa dan Wulan, lalu Bella mengalihkan pandangannya ke arah Aditya.
"Ini seriusan, pa?"
"Iya. Dafa pergi ke Jepang bukan untuk kuliah tapi untuk menikahi perempuan ular itu."
"Dafa...!" Bella benar-benar sangat marah. Demi wanita yang tak tahu diri itu, Dafa telah membohonginya.
"Dafa benar-benar sudah keterlaluan, pa. Terus sekarang apa yang akan papa lakukan?" sambung Bella lagi.
"Papa akan bekukan semua fasilitas yang papa berikan dan kita lihat, seberapa bertahannya Dafa di sana."
Bella mengangguk kecil. Bella yakin kalau Dafa tidak akan bisa bertahan lama tanpa kartu unlimited nya, apalagi Wulan perempuan matre.
***
Sehari sudah Dafa menikah dengan Wulan dan saat ini keduanya baru selesai memadu kasih. Wulan menyenderkan kepalanya ke dada bidang Dafa sembari mengotak-atik handphonenya.
"Sayang... Lihat deh perhiasan ini. Bagus kan?" Ucap Wulan sembari menunjukkan layar handphonenya.
"Bagus. Kamu mau."
"Mau banget...."
"Kalau gitu kita beli sekarang.
"Seriusan?" Kata Wulan dengan mata berbinar senang.
"Iya...."
"Aahh... Terima kasih sayang...." Wulan langsung memeluk Dafa dan tidak ketinggalan mencium bibirnya Dafa, lalu Wulan naik ke atas tubuhnya Dafa dan berniat untuk memuaskan gai rahnya Dafa.
Disinilah sekarang, di mal terbesar di Jepang. Dafa mengajak Wulan membeli perhiasan yang diinginkan oleh Wulan.
"Sekarang kamu bisa pilih perhiasan yang kamu mau," ujar Dafa dan Wulan mengangguk senang.
__ADS_1
Wulan memilih perhiasan yang sama dengan yang dilihat di handphonenya. Wulan tersenyum senang dan langsung mencoba perhiasan tersebut.
"Bagaimana, bagus kan?" tukas Wulan sembari bercermin.
"Bagus dan cantik, apalagi yang pakai orangnya cantik," seloroh Dafa, memuji Wulan.
Wulan tersipu atas pujian Dafa, kemudian Wulan menyerahkan perhiasan tersebut untuk di bungkus.
"Berapa harganya?" Tanya Dafa.
"Tiga ratus juta."
Dafa mengambil kartu unlimited nya dan menyerahkannya ke pelayan toko.
"Maaf, apa ada kartu yang lain?" Tanyanya.
"Loh, kenapa memangnya?"
"Kartunya tidak bisa digunakan."
"Masa sih! Itukan kartu unlimited. Mana mungkin nggak bisa digunakan," jawab Dafa, tidak percaya.
Pelayan tersebut mencoba menggesekkan kartunya lagi dan tetap saja tidak bisa. Dafa merasa heran karena tiba-tiba kartunya tidak bisa di pakai. Dafa kemudian mengeluarkan kartu yang lainnya dan hasilnya sama. Kedua kartu yang dimilikinya tidak bisa di pakai.
"Sayang, maaf ya... Aku nggak bisa membelikan kamu perhiasan itu," kata Dafa.
"Kenapa?" Tanya Wulan bingung.
"Kok bisa! Terus gimana dong! Masa iya nggak jadi beli." Wulan merengut kesal.
"Ya... Mau gimana lagi," timpal Dafa yang merasa bersalah.
Wulan menatap kesal terhadap Dafa, karena perhiasan yang diinginkannya tidak bisa dimilikinya. Wulan kemudian keluar dari toko perhiasan tersebut dengan rasa kesal.
Dafa segera mengejar Wulan yang merajuk. "Tunggu! Jangan marah dong," bujuk Dafa, sembari meraih tangan Wulan.
"Bagaimana aku nggak marah! Kamu tidak memenuhi keinginan aku !" Bentak Wulan.
"Nanti aku belikan, tapi nggak sekarang. Aku juga nggak tahu kenapa kartu ku tidak bisa di pakai."
"Kalau kartu kamu tidak bisa dipakai, bagaimana dengan kehidupan kita disini."
"Nanti aku tanyakan ke papa."
"Sudahlah, aku malas sama kamu." Wulan tetap marah sama Dafa dan melangkah pergi.
Dafa segera mengejar Wulan. "Sayang, jangan marah. Aku minta maaf. Aku janji akan membelikan perhiasan itu." Dafa berusaha membujuk Wulan. Akan tetapi Wulan tidak memperdulikan bujukan Dafa.
Setibanya di luar mal, Wulan menghentikan taksi dan segera naik ke dalam taksi.
__ADS_1
"Sayang! Buka pintunya. Kamu mau pergi kemana?" Dafa mengetuk pintu mobil taksi.
"Jalan, Pak." Titah Wulan kepada supir taksi.
Taksi pun bergerak jalan, meninggalkan Dafa seorang diri. Dafa menatap lesu mobil taksi tersebut, lalu Dafa mengusap wajahnya kasar.
Dafa merogoh handphonenya di saku celananya dan menelpon papanya. Akan tetapi panggilan teleponnya tidak diangkat-angkat oleh papanya.
"Argh... Sial! Kenapa papa nggak angkat telpon ku!" Kesal Dafa.
***
Dafa yang saat ini tengah berada di apartemennya, tengah menunggu Wulan pulang. Berkali-kali Dafa menelpon Wulan, tapi panggilan telponnya tidak diangkat oleh Wulan. Dafa melirik jam yang tergantung di dinding dan menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Wulan kemana sih! Jam segini belum pulang-pulang," gerutu Dafa.
"Mana aku lapar lagi."
Dafa bangkit dari duduknya dan melangkah ke dapur. Dafa membuka kulkas. Dafa mendengus karena isi kulkas cuman ada telur dan air mineral.
"Gini amat sih hidupku. Baru saja menikah sudah ada masalah. Ini pasti kerjaan papa yang sengaja membekukan semua kartuku."
Dafa menutup lagi kulkasnya dan Dafa mendengar suara pintu apartemennya terbuka. Dafa bergegas ke depan dan ternyata Wulan pulang.
"Kamu habis dari mana?" Tanya Dafa.
"Bukan urusan kamu," ketus Wulan sambil berlalu dari hadapan Dafa.
Dafa mengikuti langkah Wulan yang masuk ke kamar. Dafa menautkan kedua alisnya saat melihat leher di bawah telinga Wulan memerah, seperti bekas kecupan. Sedangkan ia sendiri tidak meninggalkan bekas merah di leher Wulan.
"Kamu habis darimana dan apa ini. Kenapa leher kamu merah." Tunjuk Dafa ke leher Wulan.
Wulan segera melihat lehernya dan menggeram kesal.
Sial! Kenapa Akemi meninggalkan tanda merah ini.
Wulan berpikir, alasan apa yang tepat agar Dafa tidak mencurigainya.
"Jawab! Kamu selingkuh dibelakang aku." Dafa menatap curiga ke arah Wulan.
"Siapa yang selingkuh, sayang. Sejak tadi leherku gatal, karena tadi aku habis makan cumi," jawab Wulan.
"Sejak kapan kamu alergi cumi?" Dafa semakin mencurigainya.
"Sejak... Sudahlah, kenapa kamu menuduhku terus. Apa kamu sudah tidak percaya lagi sama aku?" Ucap Wulan yang mulai memasang wajah sedih.
"Kamu jahat. Padahal aku berkata jujur," sambung Wulan yang kini meneteskan air matanya.
"Aku percaya sama kamu, tapi aku mohon. Jangan pergi disaat kamu lagi marah. Kamu tahu... Aku sangat mengkhawatirkan kamu."
__ADS_1
"Iya, aku minta maaf." Wulan langsung memeluk Dafa dan tersenyum lega, karena Dafa tidak mencurigainya lagi.