Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Wulan hamil


__ADS_3

Sudah terbiasa hidup berkecukupan dan apapun yang diinginkan dengan mudah ia beli, tapi kini Dafa harus berjuang mencari uang. Meski capek yang di rasakannya, tetap ia jalani hanya demi seorang wanita yang sangat ia cintai. Dafa berusaha keras mencari uang sebanyak-banyaknya untuk mencukupi kebutuhan istrinya.


Sekarang ini Dafa tidak hanya bekerja di restoran Pak Daichi, tapi Dafa juga bekerja menjadi tukang delivery makan.


Rasa lelah seharian bekerja, terbayar lunas dengan hasil yang ia dapatkan hari ini.


"Ini upah kamu hari ini," kata manager restoran kokoakimo.


"Terima kasih, Pak," jawab Dafa dengan berbinar senang, seraya menerima upahnya.


Dafa tersenyum menatap uang yang berada di tangannya. Uang tersebut akan di tabungkan dan jika nanti sudah terkumpul, uang tersebut akan ia belikan perhiasan yang diinginkan Wulan beberapa waktu lalu.


Dengan langkah riang, Dafa meninggalkan restoran kokoakimo. Sesampainya di apartemen, Dafa di kejutkan dengan seorang lelaki yang tengah duduk bersama istrinya.


"Siapa kamu?!" Tanya Dafa, dengan tatapan tajam.


"Aku Akemi dan maaf jika aku berada disini dengan istri kamu, karena tadi tuh, Wulan tiba-tiba jatuh pingsan. Makanya aku antarkan Wulan ke sini," terang Akemi yang tak mau membuat Dafa curiga.


"Pingsan?" Rasa marah Dafa kini berganti dengan rasa khawatir, setelah mendengar Wulan pingsan dan segera menghampiri Wulan yang terlihat lemah. Dafa sangat mencemaskan keadaan Wulan, apalagi melihat wajah Wulan sedikit pias.


"Sayang, kita ke dokter saja ya," ucap Dafa cemas.


"Nggak usah, nanti juga baikan," jawab Wulan pelan.


"Tapi aku khawatir melihat kamu."


"Kamu tenang saja, sebelum ke sini aku sudah membawa Wulan ke dokter," timpal Akemi.


"Terus kata dokter, Wulan sakit apa?"


Sebelum menjawab, Akemi melirik Wulan seolah meminta persetujuan darinya.


"Aku hamil." Yang menjawab adalah Wulan.


Dafa terperanjat mendengar ucapan Wulan dan Dafa menatap lekat wajah Wulan.


"Serius?" Dafa memastikan kalau apa yang di dengarnya benar.


"Iya... Aku beneran hamil." Wulan berkata sangat lirih, karena sekarang ini rasa pusing kembali melanda kepalanya.


Seketika senyum Dafa terbit dengan kedua matanya berbinar bahagia. Dafa langsung membawa tubuh lemah Wulan ke dalam pelukannya. Dafa benar-benar tidak menyangka kalau Wulan tengah mengandung buah hatinya.


"Sebentar lagi aku akan menjadi seorang papa." Dafa sangat bahagia dan Dafa berkali-kali mencium kepala Wulan dengan sayang.


"Maaf, aku mengganggu," seloroh Akemi yang menghentikan kegiatan Dafa yang tengah peluk cium Wulan. "Aku pamit pulang dulu."


"Iya dan terima kasih sudah mengantarkan istriku pulang. Kenalkan aku Dafa," ucapa Dafa seraya memperkenalkan diri.


"Akemi...."


"Wulan, aku pulang dulu," pamit Akemi.

__ADS_1


"Iya. Aku antarkan kamu sampai pintu." Akemi pun mengangguk.


"Daf, aku antarkan Akemi dulu."


"Iya...."


Dafa membantu Wulan bangun dari duduknya, lalu Wulan mengantarkan Akemi ke depan.


Sebelum Akemi pergi, Wulan menoleh ke arah Dafa. Memastikan kalau Dafa tidak memperhatikannya.


"Jaga dirimu baik-baik dan juga kehamilanmu."


"Iya. Kamu nggak usah cemas, aku akan menjaganya dengan sangat baik."


"Kalau gitu aku pergi dulu."


"Iya." Kemudian Wulan sedikit menutup pintunya, lalu mendekatkan wajahnya ke Akemi.


Akemi langsung mencium bibir Wulan sebentar dan setelah itu Akemi mengelus perut Wulan.


"Sana, masuk lagi," titah Akemi, yang tak mau membuat Dafa curiga.


***


Setelah mengetahui kalau Wulan tengah mengandung, Dafa semakin giat mencari nafkah dan pastinya semakin over protektif terhadap Wulan. Karena Dafa tidak mau melihat Wulan kecapekan.


"Kapan kamu cek kandungan lagi?" Tanya dafa, yang saat ini tengah memeluk tubuh Wulan. Mereka baru saja selesai berolahraga di atas ranjang.


"Minggu depan."


"Iya, nanti aku ingatkan kamu."


"Aaahh... Aku tidak sabar ingin bertemu dengan anakku ini," ujar Dafa, sembari mengelus perutnya Wulan.


Sudah terbayang di benaknya, jika nanti anaknya lahir. Dafa akan mengajaknya jalan-jalan ke tempat destinasi di Jepang.


Membayangkan itu semua membuat Dafa ingin segera bertemu dengan buah hatinya.


Dafa terus mengelus perut Wulan dan sesekali Dafa mendaratkan kecupan manis di perut Wulan.


***


"Aku berangkat kerja dulu ya. Kamu hati-hati di rumah. Kalau kamu mau apa-apa, segera beri tahu aku," pungkas Dafa, yang sudah berdiri di depan pintu.


"Iya...."


Kemudian Dafa membungkukkan badannya, untuk mencium perutnya Wulan.


"Sayang, papa kerja dulu. Doain papa, semoga papa bawa banyak uang untuk kamu dan Mama. I love you...." Bisik Dafa ke perutnya Wulan.


"Aku berangkat dulu." Sekali lagi Dafa pamit dan tidak lupa mendaratkan ciuman mesranya ke Wulan.

__ADS_1


Setelah Dafa berangkat kerja, tidak lama kemudian Akemi datang. Wulan sangat senang dan langsung memeluk Akemi.


"Aku kangen banget sama kamu," ucapnya manja.


Akemi tertawa kecil mendengar kata kangen dari mulut manisnya Wulan.


"Sekarang aku sudah ada disini."


"Cium...." Pinta Wulan dan Akemi pun langsung mencium bibir ranum Wulan.


Puas dengan bibirnya Wulan, ciuman Akemi berpindah ke leher. Wulan menge rang kecil, menikmati sentuhan bibir Akemi di kulit lehernya.


Tok tok tok


Kegiatan Wulan dan Akemi mendadak berhenti, mendengar ketukan pintu. Sekali lagi suara ketukan pintu terdengar.


"Siapa sih," gerutu Wulan, yang sangat kesal karena kegiatan yang menyenangkannya terganggu.


Dengan rasa kesal Wulan melangkah ke arah pintu dan membukanya. Wulan membulatkan matanya, ketika tahu siapa yang mengetuk pintunya.


"Dafa...." Wulan menelan Salivanya. Terkejut melihat Dafa pulang, dan saat itu juga Wulan ingin sekali menoleh ke belakang, dimana Akemi berada.


"Kamu kenapa terkejut gitu lihat aku?" Ucapa Dafa heran, melihat ekspresi wajah Wulan.


Wulan berdehem, kembali ke mode biasa lagi.


"Nggak kenapa-napa. Kok, kamu pulang lagi?" Tanya Wulan, yang sebenarnya gelisah. Takut kalau ketahuan sama Dafa.


"Dompetku ketinggalan di kamar."


"Oh... Dompetnya ketinggalan. Kamu tunggu disini, biar aku ambilkan dompet kamu." Wulan berusaha menahan Dafa agar tidak masuk ke dalam.


"Nggak usah, biar aku saja yang ambil," kata Dafa, sambil melangkah masuk.


Wulan sudah ketat ketir dan takut ketahuan kalau ada Akemi di dalam.


Tunggu! Akemi tidak ada?


Wulan sedikit bernafas lega, lalu mengikuti langkah Dafa ke kamar. Pandangan Wulan melirik ke kanan dan ke kiri, mencari persembunyiannya Akemi.


"Nah, ini dia ketemu," kata Dafa.


"Sudah ketemu kan. Sekarang berangkat gih, cari uang yang banyak buat anakmu," ujar Wulan, lebih tepatnya mengusir Dafa .


"Iya... Ini aku langsung berangkat."


Dafa pun keluar dari kamar dan diikuti oleh Wulan, mengantarkan Dafa sampai depan pintu.


Fyuuh... Wulan menghembuskan nafasnya lega, karena Dafa sudah pergi. Wulan segera mengunci pintunya dan mencari Akemi.


"Dia sembunyi dimana?" Seraya melangkah masuk ke kamarnya dan saat sudah di kamar , Wulan di tarik oleh Akemi.

__ADS_1


"Kamu tadi sembunyi dimana?"


"Di kamar mandi," seraya mencium bibir Wulan. Lalu Akemi menggiring tubuh Wulan ke tempat tidur. Akemi langsung melucuti pakaiannya Wulan dan menggempur tubuh Wulan.


__ADS_2