Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Bergadang


__ADS_3

Tiga hari sudah berlalu, Aisyah kini sudah diperbolehkan pulang. Aisyah dan Byan sudah di jemput oleh Hana.


"Ayo, jagoan papa kita pulang ke rumah," ucap Byan sambil memakaikan topi untuk baby Zero.


"Ganteng banget anak papa," seraya menciumi pipi merah baby Zero.


Selesai mengemasi barang-barang bawaannya, Aisyah dan Byan segera meninggalkan kamar inap tersebut. Aisyah menggandeng lengan Byan, sedangkan Hana menggendong sang cucu.


Pak Andri sudah menunggunya dan langsung membukakan pintu mobilnya untuk majikannya. Setelah itu Pak Andri segera meninggalkan rumah sakit dan membawanya pulang.


Setelah beberapa lama berkendara, kini mobil yang membawa mereka sudah sampai di rumah. Kedatangan Aisyah dan baby Zero disambut hangat oleh Mami Yuyun dan Zee, termasuk adik-adiknya.


"Selamat datang di rumah baby Zero," sambut Mami Yuyun. Aisyah tersenyum senang mendapat sambutan hangat dari Mami mertuanya itu.


"Halo... Baby Zero," timpal Zee yang menggendong putranya. Memperkenalkan baby Zero kepada putranya, yang bernama Farrel.


"Aku mau cium... Aku mau cium," pinta Adelia dan Hana mendekatkan baby Zero kepada Adelia, kemudian Adelia menciumi pipi baby Zero dengan gemas.


"Ade juga mau, ibu," timpal Andreo dan Hana juga mendekatkan baby Zero untuk dicium oleh Andreo.


"Adelio mau cium juga?" Tanya Hana.


Adelio menggelengkan kepalanya, ia tidak tertarik untuk mencium keponakannya itu. Karena Adelio tidak mau menciumnya, Hana memilih untuk masuk ke dalam rumah yang diikuti boleh Aisyah dan Byan.


Aisyah terkesiap melihat rumahnya sudah di hias dengan balon warna-warni dan juga ada balon gas yang bertulis Selamat datang baby Zero.


"Siapa yang mempersiapkan ini semua?" Tanya Aisyah dengan mata berkaca-kaca. Aisyah sangat terharu mendapatkan kejutan sederhana ini.


"Tante Yuyun yang mempersiapkan ini semua," jawab Zee.


"Terima kasih, Mami...." Ucap Aisyah penuh haru.


"Iya sayang...."


Selain mempersiapkan kejutan untuk menyambut kedatangan cucunya, Mami Yuyun juga sudah membuatkan masakan khusus buat Aisyah, yaitu Sayur bening daun katuk. Masakan sederhana memang, tapi banyak sekali manfaatnya untuk ibu menyusui seperti Aisyah ini. Agar produksi ASI-nya banyak.


Setelah acara penyambutan untuk baby Zero, Mami Yuyun mengajak Aisyah ke meja makan.


"Kamu harus makan sayur ini, agar ASI-nya melimpah," kata Mami Yuyun sambil menyendokan sayur bening ke dalam mangkok kecil.


"Iya, mi. Terima kasih...."


Aisyah pun langsung memakannya dan menghabiskan sayur bening buatan Mami Yuyun.


"Kalau sudah makan, kamu harus minum jamu ini." Mami Yuyun menyerahkan jamu berwarna kuning pekat ke hadapan Aisyah dan Aisyah mengerutkan keningnya, ragu untuk meminumnya. "Tenang saja, jamu ini nggak pahit kok. Ini namanya jamu kunyit asam. Bagus buat yang habis melahirkan. Sekarang cepat minum."


Aisyah mengangguk dan meminumnya dengan sedikit ragu-ragu. Sebab selama ini dirinya tidak pernah meminum jamu tradisional. Padahal pas lahiran Afkar, Mami Yuyun tidak menyuruhnya untuk meminum jamu. Sedikit demi sedikit Aisyah menghabiskan jamu kunyit asam tersebut. Rasanya juga lumayan dan tidak seburuk yang Aisyah pikiran.


"Pasti kamu bingung, kenapa waktu lahiran Afkar, mami tidak menyuruhmu meminum jamu."


"Iya, kenapa waktu itu aku tidak meminum jamu ini?"

__ADS_1


"Karena waktu itu kamu kan habis operasi besar, makanya Mami tidak berani menyuruhmu untuk minum jamu. Takutnya malah jadi masalah buat kesehatan kamu."


Aisyah manggut-manggut mendengarnya dan mengerti kenapa pas lahiran Afkar tidak meminum jamu tradisional.


Setelah meminum jamu, Aisyah bergabung dengan yang lain. Si kembar begitu senang melihat keponakan barunya, apalagi Adelia begitu gemas melihat baby Zero. Sedangkan Afkar begitu lengket dengan Byan, bahkan Afkar tidak mau turun dari gendongannya Byan.


"Afkar sini sama mama." Afkar diam saja dan tetap lengket digendong Byan.


Karena Afkar tidak mau menghampirinya, Aisyah akhirnya memilih berpindah duduknya di samping Byan.


"Sini duduknya sama mama," pinta Aisyah, tapi Afkar semakin mengeratkan tangannya di tubuh Byan. Afkar menolak duduk sama Aisyah.


Aisyah sedikit kecewa, padahal dirinya sudah sangat ingin memangku Afkar, tapi ternyata Afkar menolaknya.


***


Sore harinya, semua keluarganya sudah pada pulang kecuali Mami Yuyun. Beliau akan menemani Aisyah sampai beberapa hari, bahkan Pak Sanjaya juga ikut menginap di rumah Byan.


Saat ini Aisyah tengah dipakaikan bengkung oleh Mami Yuyun. Bayangin saja panjang bengkungnya mencampai kurang lebih lima meter.


"Sudah selesai," kata Mami Yuyun sambil menyelipkan ujung kain bengkungnya.


"Aku baru lihat ada corset yang kayak gini," ungkap Aisyah.


"Ini bukan corset, kalau ini namanya bengkung." Aisyah mengangguk mengerti. Aisyah baru tahu yang namanya bengkung. Cara memakainya juga ribet dan pastinya kalau mau memakainya harus meminta bantuan orang lain, secara Aisyah tidak bisa memakainya sendiri.


Setelah memakai bengkung Aisyah duduk untuk mengASIhi baby Zero. Karena untuk pertama kalinya memakai bengkung, Aisyah merasa kurang nyaman.


"Iya, mi. Terima kasih sudah membantuku."


"Iya...."


Mami Yuyun pun meninggalkan Aisyah di kamar, tidak lama Byan datang dengan Afkar. Sejak Afkar punya adik, Afkar sangat lengket sekali dengan Byan, seolah-olah takut kalau Byan tidak sayang sama Afkar.


Afkar didudukkan di atas ranjang, samping Aisyah. Begitu juga dengan Byan yang duduk bersama keluarga kecilnya.


"Sini, aku mau gendong baby Zero," pinta Byan, yang kebetulan sudah selesai minum ASI.


Aisyah memindahkan baby Zero ke tangan Byan. Baru saja menggendongnya, Afkar langsung mendekati Byan dan menangis melihat Byan menggendong sang adik. Tangan Afkar menyingkirkan kaki adiknya dari gendongan Byan sambil merengek.


"Afkar cemburu?" Ucap Aisyah, yang tak menyangka kalau Afkar memiliki rasa cemburu terhadap adiknya.


"Sini, Afkar sama mama dulu." Aisyah meraih tubuh Afkar, tapi Afkar menolaknya dan tetap berpegangan kepada lengan Byan.


Tangisan Afkar semakin kencang dan hal itu sukses membuat adiknya ikut menangis.


"Dua-duanya jadi menangis," ucap Byan tersenyum.


Pada akhirnya Byan menyerahkan lagi baby Zero ke tangan Aisyah, lalu Byan memangku Afkar dan mengelus punggungnya.


"Cup cup cup... Jangan nangis lagi jagoan papa," ucap Byan kepada Afkar.

__ADS_1


"Afkar takut kalau papanya di rebut sama adiknya," ujar Aisyah sembari menggoyangkan tubuhnya, menimang baby Zero.


"Kayaknya, kalaupun dijelasin juga Afkar belum mengerti. Kalau papanya sangat menyayangi Afkar."


Ya... Begitulah kalau memiliki anak dengan jarak yang dekat. Pasti sang kakak merasa cemburu karena kasih sayang orang tuanya harus terbagi dengan adiknya.


***


Memiliki bayi yang baru lahir, pasti saat ini tengah menikmati yang namanya masa-masa bergadang dan saat inilah yang tengah dirasakan Aisyah dan Byan.


Baru saja akan tidur, Aisyah harus kembali terjaga karena baby Zero menangis. Dengan cepat Aisyah segera memberinya ASI. Selesai mengASIhi baby Zero, Aisyah meletakkan lagi baby Zero di boks bayi, tapi yang ada baby Zero merengek.


Byan terbangun karena mendengar suara rengekan baby Zero. "Sini, biar aku yang jagain baby Zero." Byan mendekati Aisyah dan menggantikannya menggendong baby Zero.


"Lebih baik kamu tidur lagi, gih."


"Kakak yakin mau jagain baby Zero bergadang? Bukannya kakak besok harus kerja."


"Nggak apa-apa, kamu tenang saja."


"Baiklah. Aku tidur ya, kak."


"Hmm...." Sambil menganggukkan kepalanya.


Akhirnya Aisyah pun tidur dan Byan begitu telaten menjaga baby Zero bergadang. Hampir setengah jam baby Zero masih betah membuka matanya dan kini baby Zero mengeluarkan bau dari bokongnya.


"Kok bau... Ade pup ya...."


Byan langsung membaringkan baby Zero di kasur khusus, lalu membuka deapers.


"Gimana cara bersihinya?" Byan kebingungan. Dulu pas waktu Afkar masih bayi, Hana lah yang selalu membantu Aisyah siang dan malam. Jadi Byan sama sekali tidak pernah melakukan hal seperti ini yaitu membersihkan bokong bayi dari pup-nya.


Karena bingung, akhirnya Byan terpaksa membangunkan Aisyah. Walau sebenarnya tidak tega, tapi mau gimana lagi, dirinya tidak bisa membersihkannya.


"Sayang... Bangun. Baby Zero pup."


"Hmm... Kenapa?" jawab Aisyah dengan mata yang begitu lengket untuk dibuka


"Baby Zero pup. Aku nggak tahu cara ngebersihkannya."


Aisyah pun bangun dan mendekati baby Zero. Byan harus tahu caranya, agar nanti kalau baby Zero pup lagi dirinya bisa melakukannya sendiri tanpa harus mengganggu Aisyah tidur.


Byan manggut-manggut melihat cara ngebersihkannya dan mengerti harus apa dulu.


Setelah membersihkan bokong baby Zero, Aisyah memangkunya dan membawanya duduk di sofa, kemudian mengasihinya.


"Kakak lebih baik tidur aja. Ini sudah sangat larut. Besok kan kakak harus kerja."


"Aku belum ngantuk. Aku akan tidur jika baby Zero sudah tidur," jawab Byan.


Untung saja baby Zero kali ini tidur. Byan bernafas lega melihat buah hatinya sudah tidur, setelah itu dirinya dan juga Aisyah bisa beristirahat lagi.

__ADS_1


__ADS_2