Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Bukalah matamu


__ADS_3

Aisyah kini sudah di pindahkan ke di ruang ICU. Setelah tadi mengASIhi dan menidurkan sang buah hati, Byan segera menemui Aisyah. Sebelum masuk ke ruang ICU, Byan membuang perlahan nafasnya agar kuat menemui Aisyah.


Dengan pakaian steril, Byan melangkah masuk. Melihat istri tercintanya terbaring lemah dan tak berdaya, membuat hatinya mencelos. Walau sudah berusaha tidak menangis, tapi air matanya menetes tanpa bisa dicegah dan biarlah dirinya di katakan cengeng.


"Huft...." Byan membuang nafasnya, yang membuatnya begitu menyesakkan dadanya.


Perlahan Byan melangkah mendekati Aisyah. Dipandanginya wajah Aisyah yang tengah menutup matanya. Sekuat apapun dirinya terlihat tegar, pada akhirnya hatinya tetaplah rapuh.


Byan mencium kening Aisyah dalam-dalam, lalu memandangnya lekat-lekat.


"Sayang... Aku mohon bangun...." Lirih byan, yang kini menjatuhkan kepalanya di bahu Aisyah. Tubuhnya bergetar karena tangisannya yang begitu pilu.


"Sayang... Bukalah matamu dan lihatlah anak kita. Dia sangat membutuhkan kamu dan menunggu kamu memberi nama untuknya. Ayo... Sayang bangun...." Pinta Byan dengan suara bergetar.


Marshall yang melihat Byan dari pintu yang ada kacanya, ikut merasakan kesedihannya. Di saat seperti ini, ia tidak mampu mengobati kesakitan Aisyah.


Marshall terngiang kembali dengan permintaan terakhir papa Adam, yang memintanya untuk terus menjaganya. Marshall merasa tak becus menjadi seorang Abang, karena sampai detik ini dirinya tidak bisa mendapatkan hati untuk Aisyah.


Ya Tuhan, hamba mohon berikanlah kesembuhan buat adikku....


***


Aries terus menatap sang cucu dari luar ruangan bayi. Dibalik dinding kaca besar, Aries melihat cucunya tengah menggeliat dan mengerjap-ngerjakan matanya.


Aries tersenyum simpul melihat cucunya itu. Hana langsung melingkarkan tangannya di lengan Aries.


"Cucu kita sangat tampan," ujar Aries tanpa mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


Hana mengangguk setuju. "Tentu saja, diakan cucumu. Cucu kita mewarisi ketampanannya dari kamu, Bay."


Aries mendesah samar. Begitu berat beban yang di pikirannya dan terus berusaha mencari cara untuk mendapatkan pendonor hati.


Aries sudah meminta Sam untuk memasang iklan, untuk yang bersedia mendonorkan hatinya untuk Aisyah. Tapi sampai detik ini tidak ada satupun yang bersedia. Lagian manusia mana yang rela mendonorkan hatinya, walaupun akan mendapatkan uang yang sangat banyak.


"Gimana keadaan Ais?" Tanya Aries. Sebab Aries belum berani menjenguk Aisyah di ruang ICU. Ia takut kalau dirinya akan rapuh di depan Aisyah.


"Masih sama," jawab Hana lirih dan hatinya begitu gamang melihat Aisyah.


Tiba-tiba sang cucu menangis. Suster yang jaga ruangan bayi, segera menggendongnya dan menenangkannya.


Hampir setengah jam, sang cucu tidak berhenti menangis. Membuat Aries dan Hana menjadi cemas.


"Pasti cucu kita, sangat merindukan Ais," ucap Aries sendu.


Sesampainya di depan ruang ICU. Byan tengah memandangi Aisyah dari jendela pintu.


"By...."


Byan menoleh. "Iya. Kenapa, Bu?"


"Anakmu nangis terus. Sana gih, kamu tenangin dulu. Kasihan cucu ibu," suruh Hana.


"Iya, Bu. Aku ke sana dulu."


Dengan langkah cepat, Byan segera menemui anaknya. Raut wajah Byan sangat mencemaskan anaknya. Kini pikirannya harus terbagi dua antara Aisyah dan putranya.

__ADS_1


Byan segera masuk ke ruang bayi dan menggendongnya. Dengan telaten Byan mengASIhi putranya sambil berdendang pelan, menidurkan anaknya. Kasih sayang yang ia curahkan membuat putranya tenang dan tidak merengek lagi.


Aries yang masih berdiri di luar, terharu dengan perhatian Byan terhadap cucunya. Padahal cucunya itu, bukanlah anak kandungnya, tapi kasih sayang yang Byan curahkan begitu tulus.


Ais, cepatlah sembuh. Lihatlah, betapa telatennya Byan menjaga anakmu dan lihatlah, betapa sabarnya Byan mengASIhi anakmu.


Byan yang berada di dalam, tersenyum melihat putranya tersenyum kecil dan mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Adek kangen ya sama papa, makanya nangis cariin papa," ujar Byan.


Setelah di rasa sudah aman untuk di tinggal, Byan menidurkan putranya di boks bayi, Setelah itu Byan harus segera kembali ke ruangan Aisyah.


Sesampainya di sana, ternyata sudah ada Sigit, Dhika dan Jojo dan pastinya Marshall yang selalu setia menemaninya. Dhika yang melihat Byan, segera mendekatinya dan merangkul pundaknya.


"Kamu jangan sedih, kami di sini akan siap membantumu. Walau itu sangat sulit mendapatkan pendonor hatinya," ujar Dhika.


"Terima kasih atas perhatian kalian," sahut Byan dengan suara serak.


Kemudian Jojo menyodorkan sekotak nasi dan sebotol air mineral.


"Kata Marshall kamu belum makan apa-apa. Sekarang kamu makan ya," pinta Jojo.


"Terima kasih, Jo, tapi aku nggak lapar," tolak Byan. Dalam keadaan seperti, mana mungkin dirinya bisa menelan makanan dengan baik.


"Kamu tuh harus makan, kalau kamu sampai sakit siapa yang akan jagain Ais dan anaknya." Timpal Sigit.


Benar juga apa kata Sigit. Kalau dirinya sakit, siapa yang akan jagain Aisyah dan sang buah hatiku. Pikir Byan.

__ADS_1


Akhirnya Byan memaksakan diri untuk makan, walau makan yang masuk ke mulutnya terasa hambar .


__ADS_2