
Hari ini Dafa berangkat lagi ke Jepang dan tanpa sepengetahuannya, Aditya menyuruh seseorang untuk menguntit Dafa selama berada di Jepang.
Setibanya di Jepang, Dafa langsung di sambut oleh Wulan yang sejak tadi menunggunya datang. Dafa langsung memeluk Wulan dengan sangat erat. Kerinduannya kini terobati, setelah beberapa hari berada di Indonesia.
"Aku sangat merindukan kamu," cetus Dafa.
"Sama, aku juga merindukan kamu," balas Wulan tak kalah mesranya.
Kemudian Dafa mencium bibir Wulan. Setelah itu Dafa dan Wulan bergegas meninggalkan bandara.
Dafa dan Wulan sudah sampai di apartemennya. Dafa sangat senang karena sebentar lagi ia akan segera menikahi Wulan.
"Bagaimana, urusan kamu di sana sudah selesai kan?" Tanya Wulan yang kini duduk diatas pangkuan Dafa.
"Sudah dan kamu tenang saja papaku tidak akan lagi memaksa aku untuk kembali ke perempuan penyakitan itu," timpal Dafa, sembari mengecup pipinya Wulan.
"Bagus deh. Lagian aku tuh heran sama orang tua kamu, bisa-bisanya kamu di jodohkan sama perempuan yang penyakitan. Mending sama aku, yang jelas-jelas sehat dan mencintai kamu dengan segenap hatiku."
Dafa pun mengangguk setuju dengan perkataan Wulan, lalu Wulan mendekatkan wajahnya ke wajah Dafa. Ia mencium bibir Dafa, seraya mengelus dada bidangnya Dafa.
Ciuman Wulan berpindah ke lehernya Dafa dan merayu kulit lehernya. Dafa meng erang menikmati kecupan mesra di lehernya, kemudian Wulan membuka kancing bajunya Dafa. Akan tetapi Dafa menahan tangannya Wulan.
"Jangan lakukan sekarang. Nanti saja kalau kita sudah sah," tukas Dafa.
"Sekarang dan setelah menikah sama saja. Sama-sama akan melakukannya."
"Beda sayang... Rasanya pasti berbeda. Kamu yang sabar ya, cuma tinggal dua hari lagi."
Wulan mendengus kesal. Lagi-lagi dirinya ditolak oleh Dafa, padahal dua hari lagi juga akan menikah dan apa salahnya melakukannya sekarang.
"Jangan ngambek, dong...." Rayu Dafa, yang melihat Wulan merengut manyun.
"Hmm...." Jawabnya dengan gumaman.
Sepertinya aku harus mencari pelampiasan untuk menyalurkan gai rahku. Dafa benar-benar tidak bisa di ajak begituan.
"Sayang, aku pergi dulu ya," Kata Wulan.
__ADS_1
"Kemana?"
"Emm... Aku harus mengecek persiapan pernikahan kita."
"Kalau gitu aku ikut."
"Jangan!" Pekik Wulan. Dafa terperanjat mendengar pekikan Wulan.
"Maksudku kamu nggak usah ikut. Aku cuma mau mengecek sebentar saja dan setelah itu aku mau pergi ke salon. Kamu tahu sendiri kan kalau aku suka lama banget kalau sudah nyalon."
"Baiklah, tapi kabarin aku kalau ada apa-apa."
"Iya...." Wulan tersenyum senang dan segera memeluk tubuh Dafa.
"Aku pergi dulu. Bye...." Ucapnya sambil mencium pipinya Dafa.
"Hati-hati dijalan!" Seru Dafa, saat Wulan akan menutup pintunya.
"Iya, sayang!"
Wulan bergegas pergi dan menemui seseorang yang selama ini menjadi tempat memenuhi has ratnya. Orang suruhan Aditya yang sejak tadi standby, segera mengikuti kemana Wulan pergi. Orang suruhan Aditya selalu membawa kamera, untuk melaporkan apa saja yang terjadi selama Dafa berada di Jepang.
Wulan segera memeluk Akemi dan tidak ketinggalan Wulan mendaratkan ciumannya. Lelaki itu tersenyum smrik, ia tahu kalau Wulan menemuinya pasti minta untuk dipuaskan.
"Aku membutuhkan kamu untuk memuaskan aku." Pinta Wulan tanpa basa-basi.
"Oke. Kamu maunya kita main dimana?"
"Pantai. Aku mau kamu memuaskan aku dipinggir pantai."
Akemi menggelengkan kepalanya, Wulan perempuan yang tidak memiliki rasa malu. Jika kebutuhan has ratnya sudah menggebu, maka Wulan tidak memperdulikan tempat, walau di tempat terbuka sekalipun.
"Oke. Kalau gitu ayo kita ke pantai."
***
Setelah dua hari lamanya menunggu. Kini Dafa akan mempersunting Wulan, wanita yang sangat ia cintai. Dafa tengah mematut dirinya di depan cermin sembari mengagumi ketampanannya yang paripurna.
__ADS_1
"Daf, kamu sudah siap." Tanya Roland.
Roland sengaja datang untuk menghadiri acara pernikahan Dafa. Ia tahu betul, bagaimana perjuangan Dafa mempertahankan hubungannya dengan Wulan.
"Sudah."
"Ayo, sebentar lagi acaranya akan segera dimulai."
Dafa mengangguk dan bergegas keluar dari ruangan tersebut. Dafa berkaca-kaca, ketika dirinya melihat Wulan berjalan ke arahnya. Dafa tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Sungguh, ini adalah momen yang sangat dinanti olehnya.
Dafa mengulurkan tangannya dan di sambut mesra oleh Wulan. Dafa dan Wulan duduk di depan penghulu, karena Dafa dan Wulan tetap menggunakan adat Indonesia.
Sebelum memulainya, Dafa menarik nafasnya dan membuangnya perlahan. Dengan satu tarikan nafas, Dafa mempersunting Wulan.
Kini Dafa dan Wulan sudah sah menjadi sepasang suami istri. Dafa tak henti-hentinya menyunggingkan senyumnya, rasa bahagia begitu membuncah di hatinya.
"Akhirnya kita menikah juga," ucap Dafa dengan binar bahagia.
"Iya. Aku sangat bahagia," balas Wulan.
"Semoga pernikahan kita selalu langgeng dan di jauhi dari hal buruk," sambung Dafa dan di angguki oleh Wulan.
Selesai acara pernikahannya, Dafa dan Wulan menghabiskan malam pengantinnya di hotel. Dafa sedang mengagumi kemolekan tubuh Wulan yang berbalut pakaian lingerie.
Wulan berjalan perlahan mendekati Dafa, yang kini sudah siap menerkam kemolekan tubuh Wulan.
"Apa kamu sudah siap, sayang...." Ucap Wulan dengan nada mendayu.
"Sangat siap."
Dafa langsung menarik tubuh Wulan dan mengukungnya. Malam ini Dafa tidak akan melepaskan Wulan dari jeratannya. Dafa ingin Wulan menikmati sentuhan mesranya.
Dafa mengabsen setiap lekukan tubuh Wulan. Dafa ingin malam ini menjadi momen yang bersejarah dalam hidupnya dan Wulan, momen mesra membelah duren.
Dafa kini sudah siap menembus lorong gelap milik Wulan dan tiba-tiba... Dafa terdiam sejenak karena ia sangat mudah memasuki lorong gelap milik Wulan.
Dafa menatap ke bawah perutnya dan di sana tidak ada noda merah yang keluar dari milik Wulan. Berbeda dengan yang ia lakukan kepada Aisyah. Bahkan Dafa kesulitan saat menembus lorong gelap milik Aisyah.
__ADS_1
"Sayang, kamu sudah tidak perawan?!"