Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Bangunlah... Demi anak kita


__ADS_3

Setelah kepergian Byan ke ruangan bayi, Aries dan Hana menunggu dokter keluar dari ruang ICU. Keduanya sama-sama gelisah memikirkan Aisyah.


Aries yang berdiri di depan pintu sambil terus mengamati dokter dan suster dan tak henti-hentinya memanjatkan doa.


Dokter pun akhirnya keluar juga untuk membicarakan tentang kondisi Aisyah.


"Gimana dok anak saya?"


"Penyakit yang di derita anak bapak sudah parah, makanya pasien mengalami kejang-kejang. Tapi bila ini terjadi lagi kemungkinan pasien bisa meninggal. "


Aries membuang nafas beratnya dan menundukkan sedih.


"Semoga masih ada keajaiban dan semoga ada yang bersedia memberikan hatinya untuk putri anda, Pak." Sambung dokter berjaya dan Aries mengangguk lemah. Setelah itu dokter pun pergi.


"Abay...." Hana langsung memeluk Aries dan menumpahkan tangisannya.


Sungguh Hana tidak mau kehilangan Aisyah. Ia ingin Aisyah cepat sembuh, tapi apalah daya ia tak bisa berbuat banyak untuk putri tercintanya.


Dafa yang sejak tadi bersembunyi, kini tengah termangu mendengar kondisi Aisyah dan Dafa mendesah samar. Dafa memutuskan untuk pergi dari sana, sambil terus memikirkan kondisi Aisyah.


Saat sedang kalut memikirkan kondisi Aisyah, tanpa sengaja ia melihat Marshall dan Zee berjalan ke sebuah ruangan yang tidak ia ketahui.


Dafa yang penasaran mengikuti Marshall dan Zee. Dafa mengernyitkan dahinya saat tahu ruangan apa yang Marshall dan Zee datangin.


"Ruangan bayi? Ngapain mereka ke ruangan bayi?"


Dari jarak aman Dafa terus memperhatikan Marshall dan Zee. Ada rasa penasaran menggelitik hatinya, tapi ia harus menunggu Marshall dan Zee pergi dari sana.


***


"Anaknya Ais lucu ya, yang," kata Zee sambil memandangi bayinya Aisyah yang tengah di gendong oleh Byan. Keduanya berdiri di luar ruang bayi.


"Iya, tapi... Kasihan Ais. Dia saat ini tengah kritis." Ucap Marshall sedih.


"Semoga Ais cepat sembuh. Kasihan bayinya... Padahal saat-saat seperti ini bayinya sangat membutuhkannya."


Kedua raut wajah suami istri itu berubah muram dan pastinya sangat prihatin dengan kondisi Aisyah.


Setelah puas melihat bayinya Aisyah, keduanya memutuskan untuk melihat kondisi Aisyah di ruang ICU.


Dafa yang melihat Marshall dan Zee pergi, segera mendekati ruangan bayi. Keningnya mengkerut saat melihat Byan tengah menidurkan bayi dan di dalam hatinya bertanya-tanya, bayi siapa yang bersama Byan?

__ADS_1


Dafa cepat-cepat bersembunyi ketika Byan akan keluar dan setelah melihat Byan pergi dari sana, Dafa mendekati lagi ruangan bayi dan menatap bayi yang kini sudah tertidur di dalam boks bayi.


Seketika hatinya menghangat melihat bayi tersebut dan pelupuk matanya berkaca-kaca melihatnya. Dafa bergeser ke yang lebih dekat dan ingin tahu nama orang tua sang bayi.


Dafa mempertajam pandangannya saat melihat sebuah papan nama yang tergantung di boks bayi. Tenggorokannya terasa tercekat saat tahu siapa orang tua sang bayi dan setetes air matanya jatuh dari pelupuk matanya.


"Anakku...." Lirih Dafa, kemudian tangan Dafa mengelus kaca yang sebagai dinding penyekat ruangan. Seolah ia tengah mengelus bayinya.


"Sayang... Ini papa." Dafa tersenyum senang melihat bayinya yang menggeliat. Dafa sungguh tak menyangka kalau sekarang ini dirinya sudah menjadi seorang ayah.


Dafa kemudian memilih untuk masuk dan berharap diizinkan untuk menggendong bayinya.


"Sus, apa aku boleh masuk dan menggendong bayiku?" Tanya Dafa penuh harap.


"Kalau boleh tahu nama anda siapa?"


"Dafansya Saputra."


Suster kemudian mengecek nama orang tua para bayi. Setelah di cek sebanyak dua kali tidak ada nama Dafansya Saputra yang tercantum di sana.


"Maaf, di sini tidak ada nama anda." Kata suster.


Dafa mendesah samar, ternyata keluarga Aisyah benar-benar tidak mencantumkan namanya sebagai orang tua dari anaknya.


"Tapi di sini nama ayahnya Byan Keenandra."


"Itu nama ayah sambungnya dan aku ayah kandungnya." Dafa memperjelas lagi.


"Maaf, saya tidak bisa mengizinkan anda untuk masuk. Saya tidak mau ambil resiko. Silahkan anda keluar dari sini."


"Sus, aku mohon... Izinkan aku untuk masuk. Aku janji hanya sebentar." Dafa memohon dengan tatapan mengiba.


"Tapi saya tidak mengizinkan orang sembarangan masuk ke sini." Suster berkata tegas.


Dafa membuang nafasnya dan terpaksa menuruti perkataan suster. Baru akan melangkah keluar, Dafa kembali ke hadapan suster.


"Kalau minta di videoin, boleh?" Hanya ini yang bisa Dafa lakukan. Hanya memandangi wajah bayinya lewat video dan semoga suster berkenan memvideokan bayinya.


"Aku mohon...." Ucap Dafa seraya menyatukan kedua tangannya di depan dadanya.


"Baiklah."

__ADS_1


Senyum Dafa seketika terbit dan kedua bola matanya berbinar senang.


"Terima kasih, sus. Ini ponselku." Sambil menyerahkan ponselnya ke tangan suster. Kemudian suster tersebut segera memvideokan bayinya Dafa.


Selesai memvideokan bayinya, suster menyerahkan ponselnya Dafa. "Terima kasih banyak, sus. Kalau gitu aku permisi dulu."


Setelah mendapatkan video anaknya, kini Dafa tengah memandangi wajah anaknya dan ternyata suster juga memfoto bayinya. Dafa tak henti-hentinya tersenyum bahagia melihat foto anaknya.


Dafa mengelus wajah foto anaknya, seolah ia tengah mengelus langsung wajah anaknya.


"Malaikatku yang tampan."


***


Awalnya Dafa berniat untuk pulang, tapi saat mengetahui kalau Aisyah sudah melahirkan dan sudah melihat bayinya. Dafa akhirnya tetap memutuskan berada di rumah sakit dan sambil terus memantau perkembangan kondisi Aisyah.


Bagaimanapun Aisyah adalah ibu dari anaknya dan juga wanita yang kini sudah mengisi relung hatinya.


Setelah tadi menengok malaikat kecilnya, Dafa kini memilih menuju ke ruang ICU dan berharap kali ini ia dapat melihat keadaan Aisyah secara langsung.


Kali ini Dewi Fortuna tengah memihaknya, di depan ruang ICU tidak ada keluarga Aries ataupun Byan. Dafa mempercepat langkah kakinya.


Dafa sudah berdiri di depan pintu ruang ICU dan seketika hatinya terenyuh melihat keadaan Aisyah. Hatinya ikut terasa tersayat melihat berbagai alat medis menempel di tubuhnya Aisyah.


Air matanya pun kini menetes dan dadanya terasa terhimpit beban berat.


Aisyah, wanita yang dulu ia benci kini tengah terbaring lemah di rumah sakit.


Aisyah, wanita yang sering ia katai agar cepat mati, kini tengah berjuang melawan penyakitnya.


Aisyah, istri yang dibuang olehnya, kini telah memberikan seorang malaikat kecil yang lucu.


Dan sekarang, di saat ia mengharapkan akan cintanya, kini ia tidak bisa berbuat banyak untuknya.


*Ais, maafkan aku yang dulu selalu menyakiti hatimu. Dulu aku sering mendoakan kamu agar cepat meninggal dan sekarang aku sungguh menyesal.


Ais, bangunlah... Aku berjanji kali ini aku tidak akan mengganggumu lagi dan tidak akan merusak kebahagiaanmu.


Ais... Terima kasih, karena kamu sudah mempertahankan anakku di saat aku tidak menginginkannya*.


Jika sampai terjadi sesuatu sama kamu , maka akulah orang pertama yang akan menyesal seumur hidupku.

__ADS_1


"Aku mohon... Bangunlah, demi anak kita." Lirih Dafa.


Dafa tidak bisa berlama-lama menjenguk Aisyah, takut kalau nanti dirinya ketahuan sama keluarga Aries ataupun Byan. Sebelum melangkah pergi, Dafa sekali lagi melihat Aisyah. Setelah itu Dafa pergi dari sana dengan membawa rasa yang sedih.


__ADS_2