
Afkar pikir, ia tidak akan di jemput oleh supir pribadi mamanya. Padahal ia berniat mau mampir dulu ke rumah Sandy. Tapi ternyata supir pribadi mamanya sudah datang menjemputnya di depan gerbang sekolah.
Afkar mendengus saat melihat supir pribadi mamanya yang berdiri di samping mobil.
"Kenapa harus di jemput sih...." Gerutu Afkar.
"Bukannya itu supir mama kamu ya?" Tunjuk Sandy.
"Iya. Sorry ya, San. Aku nggak bisa mampir ke rumah kamu," kata Afkar sedikit kecewa karena dirinya sudah di jemput.
"Iya, Nggak apa-apa. Bisa lain waktu kamu main ke rumahku," jawab Sandy sambil menepuk pundak Afkar.
Besok-besok dirinya harus bilang sama mamanya agar tidak perlu menjemputnya. Bukannya tidak suka di jemput, tapi Afkar ingin belajar mandiri dan tidak bergantung terus menerus terhadap orang tuanya.
"Aku pulang duluan, San." Sebagai jawabannya Sandy menganggukkan kepalanya.
Mobil pun kini melaju meninggalkan sekolahannya. Afkar yang berada di dalam mobil, melihat Vania tengah mendorong sepedanya.
"Kenapa sepedanya masih dituntun?" gumam Afkar.
Entah kenapa Afkar merasa iba terhadap gadis berkacamata itu, apalagi melihat wajahnya yang seperti minta di belas kasih.
"Pak, tolong berhenti," pinta Afkar.
"Baik, den."
Setelah mobil berhenti, kemudian Afkar segera keluar dari mobil dan menghampiri Vania.
"Vania! Kenapa sepedanya masih didorong?"
"Eh! Anu... Bengkelnya tutup." Vania terkejut melihat Afkar yang tiba-tiba ada di dekatnya.
"Masa! Tadi aku lihat bengkelnya buka kok." Jawab Afkar yang tidak yakin dengan jawaban Vania
Vania bingung. Mana mungkin dirinya harus menjelaskan kalau ia tak punya uang untuk membawa sepedanya ke bengkel.
"Oh... Begitu ya, tapi tadi aku lihat tutup."
Vania berusaha menutupi kebohongannya dengan tersenyum palsu. Tetapi Afkar merasa kalau Vania tengah menutupi sesuatu. Karena merasa kasihan, Akhirnya Afkar berniat mengantarkan Vania pulang.
"Kalau gitu kamu naik mobilku saja."
"Eh! Nggak usah. Aku nggak mau merepotkan kamu," tolak Vania, apalagi melihat mobilnya sangat bagus. Vania merasa tidak pantas naik mobil sebagus itu.
"Sudah, jangan banyak protes. Cepat kamu naik ke mobil. Sepedanya biar digantung di belakang mobil, kebetulan di mobil ada tali."
"Tapi...."
"Nggak ada tapi-tapian dan aku tidak suka penolakan." Afkar berkata tegas dan akhirnya Vania terpaksa membiarkan Afkar mengantarkannya pulang.
Lalu Afkar meminta supirnya untuk menggantung sepedanya Vania di belakang mobil, kemudian Afkar menyuruh Vania masuk.
Vania benar-benar segan terhadap Afkar, padahal dirinya hanya gadis biasa. Tapi kenapa Afkar begitu peduli terhadapnya, bahkan dirinya dan Afkar tidak dekat. Kenal dengan Afkar juga tadi.
"Dimana rumah kamu?" Tanya Afkar, karena Vania dari tadi hanya diam.
"Di ujung jalan sana," tunjuk Vania.
__ADS_1
Sesampainya di ujung jalan, Vania bergegas turun dari mobil. Begitu juga dengan Afkar.
"Rumah kamu yang mana?" Afkar kembali bertanya dan menatap sederet rumah yang ada di depannya.
"Rumahku masuk ke gang ini."
"Oh...." Lalu Afkar segera menurunkan sepeda Vania dan dibantu sama supirnya.
Vania berbicara di dalam hati, semoga Afkar tidak ikut ke rumahnya. Kalau Afkar sampai ikut, bisa panjang urusannya dan Vania tidak mau itu terjadi.
Sepeda Vania sudah diturunkan dan diserahkan ke Vania. " Sekali lagi terima kasih banyak, karena kamu sudah mengantarkan aku pulang," ucap Vania seraya memberikan senyum.
"Ya, sama-sama. Apa mau aku antar sampai rumah kamu?"
"Jangan!" Jawab Vania dengan suara meninggi, membuat Afkar sedikit terkejut. "Ma-maksudnya nggak usah. Rumahku nggak jauh kok dari sini."
"Oke, kalau begitu aku langsung pulang."
"Iya, sekali lagi terima kasih."
Afkar segera naik ke mobil dan meninggalkan Vania yang masih berdiri di tepi jalan.
"Untung saja dia nggak maksa ikut ke rumahku," cicit Vania, lalu segera melangkah menuju rumahnya.
Afkar kini sudah sampai di rumah. Aisyah tersenyum lebar melihat Afkar yang sudah pulang ke rumah.
"Akhirnya Abang pulang juga," kata Aisyah.
"Pasti Abang pulang, ma. Mana mungkin Abang nggak pulang," jawab Afkar, yang merasa aneh denga perkataan mamanya.
"Ma, Abang boleh bicara?"
"Besok-besok, Abang nggak usah di jemput. Abang ingin berangkat dan pulang sekolah sendiri."
"Mama kan cuman khawatir saja. Lagian bukan Abang saja yang di jemput. Adik-adik Abang juga di jemput."
"Tapi kan Abang sudah besar dan sudah bisa berangkat dan pulang sendiri. Nanti yang ada dikatain lagi sama teman-teman Abang."
Bagaimana pun Afkar ingin mandiri dan tidak melulu tergantung dengan fasilitas dari orang tuanya.
"Memang siapa yang berani ngatain Abang?"
"Teman-teman Abang," jawab Afkar sekenaknya.
"Oke, kalau itu mau Abang. Mama nggak akan mempermasalahkannya, asalkan kalau ada apa-apa segera beritahu mama."
"Itu sudah pasti, ma...." seraya mengacungkan jempolnya senang, karena mamanya mengizinkannya berangkat dan pulang sendiri.
"Sekarang ikut mama, seseorang sudah menunggu Abang sejak tadi."
"Siapa?" seraya menatap lekat wajah mamanya.
"Nanti juga kamu tahu," jawab Aisyah.
Aisyah kemudian mengajak Afkar menuju ruang makan dan dua orang yang sudah sepuh tengah menantinya. Mereka adalah Bella dan Aditya.
"Afkar...." Panggil Bella yang langsung berdiri, ketika melihat cucu tersayangnya pulang.
__ADS_1
"Oma! Kapan Oma sama Opa datang?" Afkar segera menghampiri Bella dan Aditya. Tidak lupa mencium tangannya penuh takzim.
"Tadi sekitar jam sepuluh," jawab Aditya.
"Oma kangen banget sama kamu, sayang." Bella langsung memeluk Afkar. Rasa rindunya kini terobati setelah beberapa bulan tidak bertemu.
Semenjak Difa menikah, Aditya dan Bella memutuskan pindah ke Surabaya. Selain menghabiskan masa tuanya di sana, Aditya juga membuka perusahaan baru di Surabaya.
"Kamu makin besar makin ganteng," puji Bella, sembari mengelus kepala Afkar.
"Oma sama Opa, nginep disini kan?"
"Pengennya, tapi sayangnya Oma sama Opa harus jenguk Revan, bukannya kamu sudah tahu kalau uncle kamu tengah sakit," jawab Aditya.
"Iya, tahu," jawab Afkar, sedikit kecewa karena Oma dan Opa nya tidak menginap di rumahnya.
Bella tersenyum senang melihat cucunya kini sudah besar dan wajah Afkar mengingatkannya kepada Dafa, karena wajah Afkar begitu mirip dengan Dafa.
"Kapan Oma sama Opa mau jenguk uncle Revan?"
"Paling nanti sore. Kenapa memangnya?"
"Abang ikut boleh?"
"Tentu saja boleh," jawab Aditya.
Sore harinya Afkar ikut bersama dengan Aditya dan Bella menjenguk Revan. Selain itu juga, Afkar ingin menghabiskan waktunya bersama Oma dan opa nya. Mumpung keduanya ada disini.
Hampir dua jam Afkar berada di rumah sakit, menemani Bella dan Aditya.
Afkar melihat jam di ponselnya dan sudah menunjukkan pukul delapan malam.
"Oma, Opa, Tante Difa. Afkar pulang dulu ya. Besok kalau nggak ada halangan Afkar akan datang lagi ke sini."
"Iya, terima kasih sudah mau jenguk uncle mu," kata Difa.
"Iya, Tan."
Setelah berpamitan, Afkar segera pulang. Ia pulang di antar oleh supir pribadinya Revan.
Sesampainya di rumah, Afkar segera melangkah menuju kamarnya.
"Abang...." Panggil Byan.
"Iya, Pa...." Afkar menghentikan langkahnya dan mendekati Byan.
"Bagaimana keadaan uncle mu?"
"Tadi sih sudah lebih baik."
"Bagus kalau keadaannya sudah membaik."
"Kalau gitu, Abang ke kamar dulu, Pa."
"Iya...."
Byan menatap punggung Afkar dan tak menyangka kalau Afkar sekarang sudah besar.
__ADS_1
Dafa, lihatlah anakmu sekarang. Dia sudah besar dan pintar. Semoga kamu bangga melihat anakmu dan tersenyumlah kamu di sana.