
Selesai sarapan, yang sebenarnya sudah masuk makan siang. Byan mengajak Aisyah pulang ke rumahnya sendiri. Rumah yang sudah dua bulan tidak ditempatinya.
"Kita akan tinggal disini lagi?" Tanya Aisyah.
"Tidak. Kita ke sini mau mengajak kamu berolahraga ranjang," jawab Byan enteng.
Aisyah memukul lengan Byan. Kenapa otak suaminya sekarang jadi mesum, pikir Aisyah.
Byan hanya tertawa kecil. "Ayo, cepat masuk." Ajak Byan dan langsung menutup pintunya. Byan sengaja meliburkan Mang Asep dan bibi Nuri, karena hari ini Byan ingin menghabiskan waktunya hanya di rumahnya sendiri, tanpa ada gangguan dari siapapun.
Seperti yang diinginkannya, Byan langsung saja mengajak Aisyah berpeluh bersama dan dahaganya dalam bercinta terus saja membawa Byan mereguk nikmatnya memadu kasih bersama Aisyah.
Byan terus merayu pemilik tubuh yang kini tengah merajainya di atas tubuhnya dan terus membantu Aisyah menarik turunkan pinggulnya. Hingga sebuah titik pencapaian yang sebentar lagi diraih keduanya.
"Sayang... Aku mau keluar." Byan meng erang panjang dan kepalanya mendongak ke atas sambil memejamkan matanya. Menikmati pelepasan yang begitu sempurna.
***
Selesai memadu kasih, Byan dan Aisyah beristirahat sejenak, setelah itu Byan melakukannya lagi. Entah sampai ke berapa kalinya, yang jelas Byan ingin terus mencumbui Aisyah dan tubuh Aisyah kini sudah menjadi candunya. Sore harinya menjelang malam, Aisyah dan Byan pulang ke rumah orang tuanya.
Tiba di sana Aisyah segera menggendong baby Afkar dari gendongan Hana dan menciumi baby Afkar dengan gemas. Hampir seharian penuh Aisyah tidak bertemu dengan jagoan kecilnya dan itu membuat Aisyah sangat merindukannya.
"Kalian sudah makan belum?" Tanya Hana.
"Sudah berkali-kali, Bu," jawab Byan.
"Memang berapa kali kalian makan?" Tanya Hana lagi.
"Kita makan baru sekali--"
"Lebih dari empat kali," potong Byan.
Aisyah kaget mendengar perkataan Byan. " Perasaan kita baru makan sekali deh."
"Makan yang benarnya memang sekali, tapi makan yang lain lebih empat kali sayang...."
Aisyah yang baru ngeh dengan perkataan Byan, langsung melototi Byan. Bisa-bisanya berbicara hal seperti itu di depan ibunya, mau ditaruh dimana wajahnya.
__ADS_1
Hana hanya tersenyum melihat tingkah anak dan menantunya, tapi dibalik itu semua Hana sangat senang. Apalagi melihat wajah Aisyah yang terlihat sumringah meski sedikit pucat. Mungkin karena kelelahan habis di garap oleh Byan.
"Kalian lebih baik makan dulu. Ibu yakin energi kalian sudah terkuras dan pastinya sangat lelah, setelah seharian kalian makan lebih dari empat kali."
Aisyah yang mendengar perkataan ibunya, seperti sebuah ledekan dan rasanya Aisyah ingin bersembunyi di lubang semut. Sungguh sangat malu mendengarnya. Ah! ini semua gara-gara mulut suaminya yang comel.
Berbeda dengan Aisyah yang merasa malu, Byan justru mengacungkan jempolnya dan tersenyum lebar.
"Sayang...." Panggil Aries dari lantai atas.
"Ibu sudah dipanggil sama ayah. Kalian jangan lupa makan," ucap Hana, sebelum meninggalkan anak dan mantunya.
"Iya, Bu," jawab Byan.
Setelah Hana pergi, Aisyah langsung mencubit perut Byan sambil memberikan tatapan horor.
"Jangan bilang ini kode dari kamu. Maaf, sayang, aku masih lelah," ujar Byan dan Aisyah semakin melototinya.
Byan tertawa kecil melihat Aisyah kesal kepadanya, tapi Byan sangat senang melihat Aisyah kesal.
"Ayo kita makan dulu. Aku tahu kamu pasti sangat lapar. Aku nggak mau istriku ini nantinya pingsan saat aku menggarap ladangku."
"Iya-iya, bercanda. Ayo makan dulu." Kemudian Byan mengambil baby Afkar dan menarik tangan Aisyah untuk segera melangkah ke arah meja makan.
Aisyah segera melayani Byan mengambilkan makanannya, setelah itu baru dirinya sendiri.
"Sini, biar aku saja yang gendong Afkar," kata Aisyah. Byan menggelengkan kepalanya dan tetap menggendong baby Afkar.
Aisyah yang tak tega melihat Byan makan sambil gendong baby Afkar, berinisiatif menyuapi Byan.
"Sini, aku suapin kakak makan."
Selesai makan malam, Byan mengajak Aisyah ke kamarnya dan kini Byan tengah bermain dengan baby Afkar. Byan sangat senang sekali ketika baby Afkar sudah bisa merespon saat dirinya mengajak bicara. Rasanya kebahagiaan yang tengah dirasakannya berlipat-lipat ganda.
Aisyah hanya memperhatikan anak dan suaminya yang tengah bersenda gurau dan hatinya selalu menghangat.
Terima kasih kak, atas apa yang sudah kakak lakukan untuk kami berdua. Terima kasih, karena kakak sudah hadir di dalam hidupku dan menjadi pelindung buat aku dan jagoan kecilku.
__ADS_1
Aku sangat bersyukur memiliki seorang suami seperti kakak. Suami yang sangat menyayangiku dan menerima setiap kekuranganku. Aku berjanji akan selalu berbakti kepada kakak dan berusaha menjadi istri yang baik buat kakak.
Semoga kita selalu bersama-sama sampai kita menua nanti dan janganlah berubah ketika aku sudah tidak menarik lagi. Semoga rumah tangga yang kita bina dijauhi dari orang-orang yang ingin merusak kebahagiaan kita.
Kami berdua sayang papa Byan. I love you papa....
***
Byan tidur memeluk malaikat kecilnya, sedangkan Aisyah sampai saat ini masih terjaga. Aisyah masih betah memandangi dua jagoannya. Kemudian Aisyah mengecupi kedua lelakinya itu.
"Semoga mimpi indah," bisik Aisyah.
Baru saja akan memejamkan matanya, tiba-tiba Byan membuka matanya dan menatapnya.
"Belum tidur?" Tanya Byan dengan suara seraknya.
"Ini mau tidur," jawab Aisyah.
"Tapi sayangnya kamu nggak akan bisa tidur."
"Nggak bisa tidur gimana?"
"Karena...." Byan menarik tangan Aisyah dan meletakkannya di atas anaconda yang kini sudah menggeliat bangun.
"Ih! Kakak...!"
"Sstt... Jangan berisik, nanti Afkar bangun."
Sebelum berolahraga, Byan terlebih dulu memindahkan baby Afkar ke boks bayi, agar nantinya ia bisa leluasa menjajah Aisyah. Byan berbalik badan dan langsung melepaskan seluruh pakaiannya, sedangkan Aisyah memalingkan wajahnya. Entah kenapa Aisyah masih sangat malu melihat suaminya itu tidak mengenakan busana.
"Sekarang buka pakaianmu, sayang," pinta Byan.
"Memang harus aku yan buka?" Jawab Aisyah sedikit gugup.
"Iya, biar aku langsung capcuss menggarap ladangnya."
Aisyah pun membuka pakaiannya, lalu Byan mendekatinya dan menarik Aisyah untuk duduk di pangkuannya. Setelah itu keduanya langsung hanyut dengan percintaan yang penuh dengan gelora dan saling mereguk nikmatnya memadu kasih.
__ADS_1
Permainan panas mereka berdua berakhir dengan kepuasan yang sangat indah dan rasanya ingin terus dan terus merasakan kehangatan yang keduanya ciptakan.