
Aisyah termangu seorang diri dan dirinya belum percaya dengan kenyataan barusan. Rasanya tulang-tulang ditubuhnya terasa lepas, bahkan untuk jalan pun rasanya lemas.
Aisyah menghela nafasnya perlahan, lalu Aisyah melangkah perlahan menuju kamar inap suaminya.
Tiba di sana, Byan menatap penuh tanya dan Aisyah mendekatinya.
"Gimana hasilnya?" Tanya Byan, yang sejak tadi gelisah memikirkan hasil pemeriksaannya.
Aisyah tidak menjawab, tapi Aisyah menyerahkan amplop ke tangan Byan dan Byan segera membuka amplopnya.
Byan ternganga melihat sebuah foto kecil ditangannya, lalu Byan mengalihkan pandangannya ke Aisyah.
"Sayang... Jadi beneran kamu... Hamil?"
Aisyah mengangguk kecil. Byan kemudian duduk dan meraih tubuh Aisyah ke dalam pelukannya.
"Sayang... Ini kabar yang sangat membahagiakan," ucap Byan penuh haru, tapi Aisyah terlihat biasa saja dan hal itu membuat Byan bingung.
"Kenapa? Apa kamu tidak senang mengandung anakku?"
"Bukan!"
"Terus...."
"Aku senang tapi... Afkar kan masih kecil. Di sisi lain aku juga belum siap punya anak lagi," keluh Aisyah dengan tatapan murung.
"Tapi ini kan rezeki dari Tuhan. Itu artinya kita masih diberi kepercayaan lagi. Kamu seharusnya tidak boleh mengeluh atas apa yang sudah Tuhan beri untuk kita. Walaupun Afkar masih kecil, aku yakin kamu bisa merawat anak kita."
"Iya...." Jawab Aisyah.
Sore harinya Byan sudah diperbolehkan pulang dan keadaan Byan sudah jauh lebih baik. Sepanjang perjalanan pulang, Aisyah tetap belum percaya kalau dirinya tengah hamil lagi. Byan yang berada di sampingnya terus mengelus tangan Aisyah dan meyakinkan Aisyah kalau kita bisa merawat anak-anak, walau jarak usianya berdekatan.
Sampai di rumah, keduanya di sambut dengan tangisan Afkar. Hana sudah sejak tadi berusaha menenangkan Afkar, tapi Afkar tidak kunjung berhenti menangis.
Afkar yang melihat orang tuanya datang, langsung menyodorkan tangannya kepada Byan. Memintanya untuk di gendong.
"Cup... Cup... Kenapa anak papa nangis?" Ujar Byan menenangkan Afkar dan mengusap punggung Afkar.
"Nggak tahu kenapa Afkar jadi rewel," sahut Hana, sambil menyerahkan botol susu ke tangan Byan.
"Kangen ya sama papa?" Kata Byan dan kini Afkar tenang di gendongan Byan. " Atau mungkin jagoan papa takut kalau perhatian papa terbagi dua sama dede di perut mama."
"Maksudnya? Ais hamil lagi?" Tanya Hana.
"Iya, Bu...." Jawab Aisyah.
"Alhamdulillah...." Ucap Hana senang, tapi Aisyah masih terlihat merengut manyun, membuat Hana heran melihatnya.
"Kenapa Ais nggak terlihat senang?" Kata Hana.
"Ais belum siap punya anak lagi, Bu." Byan yang menjawabnya.
"Loh! Kok gitu!"
__ADS_1
"Katanya Afkar masih kecil," sambung Byan.
"Harusnya nggak boleh begitu. Namanya kita perempuan harus siap jika hamil lagi. Ibu aja yang banyak anaknya nggak kayak gitu, yang ada ibu senang. Lagian anak itu titipan dan di luar sana banyak yang ingin hamil tapi Tuhan belum juga memberikan kepercayaan kepada mereka."
"Iya, Ais minta maaf kak...."
"Nggak apa-apa, Sayang. Wajarlah kalau kamu belum siap punya anak lagi, Afkar kan memang masih kecil. Tapi kamu nggak perlu risau, karena aku akan selalu siaga dan membantu kamu mengurus anak-anak kita."
"Tuh! Suami kamu aja siap membantu kamu," timpal Hana.
"Iya, ibu...."
***
Setelah kepergian Hana, Byan dan Aisyah kini tengah berada di kamar sambil menemani Afkar bermain. Byan yang begitu senang terus saja membelit tubuh Aisyah dan berkali-kali melayangkan kecupan-kecupan kecil di wajah Aisyah dan tangannya mengelus perut Aisyah.
"Ih! Kakak!!" Keluh Aisyah, karena Byan terus saja memborbardir Aisyah ciuman.
"Hentikan!" Seraya menahan wajah Byan dari wajahnya.
"Aku tuh lagi senang," cetus Byan yang tetap memaksa mencium pipi Aisyah.
"Iya, tapi jangan terus-terusan!"
"Oke, aku berhenti mencium kamu."
Malam harinya, Byan tidak ikut makan. Sebenarnya Byan sangat ingin makan nasi, tapi apalah daya dirinya akan langsung mual jika melihat dan mencium wangi nasi.
Yang bisa Byan lakukan hanya duduk dan mengerjakan pekerjaan sambil memakan roti isi.
"Hmm... Apa sayang," jawab Byan dan Afkar mengulurkan tangannya meminta untuk di gendong.
Byan langsung menggendongnya dan mendudukkan Afkar di pangkuannya. Ternyata Afkar ingin tidur di pangkuan Byan, terbukti Afkar langsung tertidur di pangkuannya.
Sambil memomong Afkar, Byan mengerjakan pekerjaannya.
"Kak, sini biar aku pindahkan Afkar ke kamar," ucap Aisyah.
Baru saja di gendong oleh Aisyah, Afkar merengek tidak mau dipindahkan dari pangkuan Byan.
"Sudah sini, biarkan Afkar tidur di pangkuanku." Akhirnya Aisyah membiarkan Afkar tidur di pangkuan Byan, lalu Aisyah duduk di samping Byan dan menemani Byan menyelesaikan pekerjaannya.
"Kak...."
"Hmm...."
"Kayaknya enak makan sate ayam," seloroh Aisyah.
"Kamu mau sate ayam?"
"Iya...."
"Oke, aku akan membelikannya."
__ADS_1
"Makasih suamiku," ucap Aisyah senang seraya memeluk Byan.
Sebelum membeli sate, Byan terlebih dahulu memindahkan Afkar ke kamar. Setelah itu Byan bergegas keluar untuk mencari keinginan istrinya.
"Kak, aku ikut ya...."
Byan pun mengangguk, lalu keduanya segera membeli sate yang tidak jauh dari komplek perumahannya.
"Mba, pesen sate ayam sekodi," pesan Byan.
"Baik, mas--." Pedagang itu langsung terdiam saat menoleh ke arah Byan.
"Kamu...." Ucap Byan dan pedagang itu bersamaan.
"Sekarang kamu jualan sate?" Tanya Byan.
"Iya, aku jualan sate. Itu juga berkat uang yang kamu kasih," jawabnya dan pedagang itu adalah Wulan.
"Syukurlah kalau uang yang aku beri bermanfaat buat kamu."
"Iya, sekali lagi terima kasih." Jawab Wulan tersenyum sumringah. Wulan senang bisa bertemu dengan Byan lagi, berkat Byan hidupnya tidak terlunta-lunta di jalanan.
Aisyah yang melihat Byan akrab dengan penjual sate, langsung melingkarkan tangannya di lengan Byan dan menatap sinis wajah Wulan.
"Kamu kenal dia, kak?" Byan mengangguk. Kemudian Aisyah menarik Byan untuk duduk dan tetap memeluk lengan Byan.
Wulan yang melihat Byan sudah punya pasangan, hanya mendesah samar. Itu artinya dirinya tidak ada kesempatan untuk mengenal lebih jauh dengan Byan.
"Kakak kenal sama dia dimana?" tanya Aisyah, sambil melirik Wulan. Aisyah semakin melingkarkan tangannya ketika Aisyah menangkap Wulan melirik Byan.
"Dari Dafa," jawab Byan.
"Dafa? Maksud kakak gimana?" Aisyah tidak mengerti.
"Dia itu pacarnya Dafa."
"Jadi dia itu Wulan?"
"Iya, dia Wulan."
"Aku nggak jadi makan sate disini," tukas Aisyah.
"Tapi aku sudah pesan satenya."
"Cancel saja!"
Aisyah jelas tidak sudi sama orang yang sudah membuatnya menderita kala itu. Aisyah juga tidak mau kalau suaminya dilirik sama Wulan, sebab Aisyah pernah mendengar desas-desus kehidupan Wulan dari Bella.
"Ayo kita cari tempat lain saja!" Paksa Aisyah.
Dengan terpaksa Byan menurutinya.
"Maaf ya, aku nggak jadi beli," ucap Byan kepada Wulan.
__ADS_1
"Ngapain minta maaf! Ayo kita pergi!" Aisyah menarik paksa Byan. Tidak peduli dengan tatapan Wulan yang protes karena tidak jadi membeli sate ditempatnya.
Aisyah harus menghindarkan suaminya dari orang-orang seperti Wulan. Karena orang seperti Wulan bisa nekat jika sudah menginginkannya dan Aisyah jelas tidak mau itu sampai terjadi.