Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Bertambah parah


__ADS_3

Siang itu Byan lagi-lagi tidak ada selera makan, cuman gara-gara bakso. Padahal yang makan baksonya adalah Erick. Byan merasa aneh dengan dirinya dan biasanya ia sangat suka bakso, tapi hari ini entah kenapa membuatnya eneg.


Jadi siang itu Byan hanya meminum kopi cortado dan tidak ada niatan untuk makan sedikitpun. Selesai jam makan siang Byan melanjutkan meeting-nya dengan perusahaan Corpus. Hingga tak terasa meeting sudah berjalan hampir dua jam.


Perut Byan mulai merasakan perih dan pusing semakin menjadi. Untung saja meeting-nya sudah selesai. Byan kini menyandarkan tubuhnya di sofa sambil memejamkan matanya.


"Erick!"


"Iya, Tuan."


"Hari ini aku mau pulang cepat. Tolong semua pekerjaanku kamu yang menghandle, Rick."


"Baik, Tuan."


"Tolong kamu telpon Pak Andri. Katakan padanya sebentar lagi aku mau pulang," ujar Byan dan Erick segera menelpon Pak Andri.


Byan bangun dari duduknya dan keluar dari ruang kerjanya. Sesampainya di lobby, Pak Andri segera membukakan pintu mobilnya dan Byan langsung masuk.


Selama perjalanan, Byan memilih beristirahat. Berharap rasa pusing segera menghilang dan juga rasa perih di perutnya juga menghilang.


Kini mobil yang dikendarai oleh Pak Andri sudah berhenti di depan rumah. Pak Andri menoleh ke belakang, berniat membangunkan Byan. Akan tetapi melihat Byan tertidur pulas membuat Pak Andri bingung.


"Gimana ini? Apa saya bangunkan saja?" Gumam Pak Andri serba salah.


"Tapi kalau dibiarkan, kasihan...." Tapi ternyata Byan justru kini bangun.


"Sudah sampai ya...."


"Iya, Tuan," jawab Pak Andri seraya menganggukkan kepalanya.


Byan segera turun dan melangkah masuk ke dalam rumah. Byan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.


Aisyah terkejut melihat Byan pulang lebih cepat dan Aisyah segera mendekatinya.


"Kak, tumben jam segini sudah pulang."


"Iya...." Jawab Byan lesu.


"Kakak sakit? Kok suaranya lemes gitu."


"Hmm...." Hanya itu yang bisa Byan jawab.


***


Dua hari pun sudah berlalu. Akan tetapi rasa mual dan pusing yang Byan rasakan belum juga menghilang, justru kini bertambah parah.


Kemarin-kemarin hanya bakso yang membuatnya eneg, tapi kini setiap mencium bau nasi, Byan juga akan merasa mual dan pusing. Alhasil Byan tidak mau makan makanan berat, tapi untungnya perutnya Byan masih bisa menerima roti sebagai pengganti makannya.


"Kakak kenapa makannya pindah? Terus kenapa kakak nggak makan?" Tanya Aisyah yang bingung melihat suaminya pindah duduknya dan menjauhi meja makan.


"Nggak apa-apa. Aku pengen makan di sini," jawab Byan sambil mengunyah roti.


"Oh...." Aisyah pun melanjutkan langkahnya ke dapur.


Walau pusing, Byan tetap memaksakan diri untuk bekerja. Rasa tanggung jawabnya terhadap perusahaan begitu besar dan pastinya ia tidak mau lalai.


Siang itu, Hana datang ke rumah Aisyah, sebelumnya Hana mampir terlebih dahulu ke rumah Marshall.


"Ais! Cucu ibu mana?" Teriak Hana yang baru saja memasuki ruang makan. Hana datang sambil menjinjing paper bag.

__ADS_1


"Eh, ibu! Afkar lagi tidur," sahut Aisyah yang tengah membuat salad buah.


Mendengar cucunya tengah tidur, Hana mendekati Aisyah dan mengambil sepotong buah naga dan memakannya.


Aisyah sudah selesai membuat salad buah dan membawanya ke meja makan.


"Ibu bawa apa ini?" Tanya Aisyah.


"Bawa mainan buat Afkar."


"Oh...."


Saat tengah asik berbincang dengan Hana, tiba-tiba ponselnya Aisyah berdering.


"Erick...." Gumam Aisyah. "Tumben Erick telpon." Lalu Aisyah pun mengangkat telponnya.


"Halo...." Jawab Aisyah.


"Apa?! Oke aku segera ke rumah sakit. Tolong jagain dulu suamiku." Setelah itu sambungan teleponnya mati.


"Kenapa?" Tanya Hana.


"Kak Byan pingsan," ujar Aisyah yang kini sangat mencemaskan Byan.


"Ais mau ke rumah sakit. Tolong jagain Afkar, Bu," ucap Aisyah sambil berlalu dari hadapan ibunya dan berlari kecil ke kamarnya. Aisyah segera menyebar tasnya, setelah itu ia cepat-cepat pergi ke rumah sakit.


***


Aisyah kini sudah sampai di rumah sakit. Ia berjalan tergesa-gesa menuju kamar inap Byan. Aisyah segera membuka pintunya, ketika sudah sampai di depan kamar inap Byan.


"Kak By...."


Erick yang melihat Aisyah datang, membungkukkan sedikit tubuhnya. "Bu Ais," sapa Erick. Setelah Erick keluar dari sana.


Aisyah mengangguk dan menatap Byan. "Kenapa bisa pingsan?" Tanya Aisyah kepada Byan.


"Aku cuma kelelahan saja, Sayang," jawab Byan.


"Bener cuman kelelahan?" Aisyah tidak percaya begitu saja.


"Iya, Sayang. Aku kelelahan."


Aisyah mendesah samar. Aisyah sangat sedih melihat suami tercintanya itu tengah sakit.


Aisyah kemudian mengelus pipi Byan lembut dan tatapan Aisyah berubah sendu.


"Cepat sembuh, kak," ucap Aisyah lirih. Lalu Byan meraih tangan Aisyah yang tengah mengelusnya dan membawanya ke bibirnya. Byan mencium tangan dan tersenyum simpul, agar Aisyah tidak begitu mencemaskan keadaannya.


"Aku pasti sembuh, sayang."


Pintunya kini terbuka, seorang suster masuk membawa makan siang buat Byan.


"Ini makan siangnya, Bu," kata suster sambil meletakkan di atas nakas.


"Iya, sus. Terima kasih," jawab Aisyah. Setelah itu suster kembali keluar. Aisyah kemudian mengambil makan siang buat Byan.


"Sekarang Kakak makan dulu," ujar Aisyah sambil menyendokkan nasi dan sayurnya.


Byan yang melihat nasi, langsung membekap mulutnya dan rasa mual kini Byan rasakan.

__ADS_1


"Hoek...."


"Kakak kenapa?" Tanya Aisyah bingung.


"Jauhkan makanannya. Aku akan mual jika lihat nasi," jawab Byan yang kini memiringkan tubuhnya sembari menutup mulut juga hidungnya.


"Tapi kakak harus makan. Tadi pagi aja kakak cuman makan sepotong roti."


"Nggak mau. Aku nggak bisa makan nasi."


"Kakak jangan lebay deh! Lagian sejak kapan kakak nggak suka makan nasi? Cepat kakak makan. Katanya mau sembuh." Aisyah tetap memaksa Byan.


"Aku bilang nggak mau ya nggak mau!" Akhirnya Byan membentak Aisyah, karena terus memaksanya untuk makan.


Apa Ais tidak mengerti kalau dirinya tidak bisa makan nasi? Melihat saja sudah buat dirinya mual. Pikir Byan yang saat ini kesal.


Aisyah kaget mendengar bentakan dari Byan. Semarah-marahnya Byan tidak akan membentak dirinya.


"Oke, kalau kakak nggak mau makan. Maaf jika aku memaksa kakak. Aku cuma ingin kakak cepat sembuh," ucap Aisyah dengan suara pelan.


Byan mengusap wajahnya dan merasa bersalah. Nggak seharusnya ia membentak Aisyah yang memang tidak tahu dengan keadaan dirinya. Byan juga merasa aneh dengan dirinya yang tiba-tiba moodnya suka berubah-ubah.


"Maafkan aku, Sayang. Bukannya aku memarahi kamu, tapi... Sudah beberapa hari ini aku nggak suka lihat nasi atau bakso. Sekali lagi aku minta maaf." Byan berkata dengan perasaan menyesal.


"Iya, nggak apa-apa. Tapi kok aneh aja. Kenapa tiba-tiba kakak tidak suka lihat nasi dan bakso?"


"Aku juga nggak tahu," jawab Byan, yang memang tidak tahu penyebabnya.


"Terus kalau kakak nggak makan nasi, lalu makan sama apa?"


"Cukup roti saja."


Aisyah mengangguk, kemudian Aisyah menyuruh Erick untuk membeli roti dan juga buah-buahan. Bagaimana pun juga Byan harus tetap memakan makanan yang sehat.


Tidak lama dokter pun datang dan mengecek keadaan Byan.


"Gimana dok keadaan suami saya?" Tanya Aisyah.


"Sudah lebih baik," jawab dokter sambil mengecek tubuh Byan.


"Syukurlah," ucap Aisyah lega.


"Tapi kalau bisa perutnya jangan sampai kosong dan jangan kebanyakan minum kopi," imbuh dokter. Aisyah mengangguk mengerti.


"Tapi dok, kenapa suami saya tidak mau makan nasi? Melihatnya saja sudah membuat suami saya mual," ungkap Aisyah.


"O ya... Aneh ya. Sudah lama suami ibu seperti itu?"


"Akhir-akhir ini aja sih, dok."


Dokter mangut-mangut mendengarkannya dan sekarang dokter bisa menyimpulkan penyebab pasiennya pingsan saat datang ke rumah sakit.


"Kalau gitu saya saranin, ibu pergi ke spesialis OBGYN."


"Hah! Ngapain saya harus datang ke dokter kandungan?" Kata Aisyah bingung, begitu juga dengan Byan.


"Saya tidak bisa menjelaskannya, takutnya analisa saya tidak tepat. Alangkah baiknya ibu langsung datangin aja dan semoga apa yang saya pikirkan benar."


Aisyah dan Byan saling pandang, keduanya bingung dengan ucapan dokter. Aisyah merasa kalau dirinya tidak lagi hamil, tapi kenapa dokter menyuruhnya harus menemui dokter kandungan? Dan biasanya orang yang hamil pasti akan merasakan mual, sedangkan dirinya tidak mengalaminya.

__ADS_1


__ADS_2