Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Hati Untuk Aisyah


__ADS_3

Orang-orang berlarian menolong korban kecelakaan dan segera membawanya ke rumah sakit. Setelah di tolong warga, para petugas medis segera mengobati korban.


Petugas medis berusaha keras, agar korban tetap terselamatkan, sebab kondisi korban sangat parah.


"Sus, jahit kepala pasien dan pastikan detak jantungnya tetap stabil." Perintah dokter yang kini tengah membersihkan luka sobek di dada korban.


"Baik, dok."


***


Seorang dokter, kini tengah menemui Aries dan Hana yang kala itu tengah duduk di kursi tunggu.


"Pak, saya mau bicara sama bapak," kata dokter kepada Aries.


"Iya, kenapa dok?" Aries langsung terlihat tegang dan ketakutan-ketakutan tentang Aisyah membayangi benaknya.


"Saya mau membawa kabar baik untuk bapak, bahwa anak bapak akan mendapatkan transplantasi hati."


"Serius, dok?" Dan dokter pun mengangguk.


"Alhamdulillah...." Seru Aries dan Hana bersamaan. Keduanya langsung sujud syukur kepada Tuhan, akhirnya Aisyah mendapatkan donor hati.


Aries dan Hana kemudian saling berpelukan dan senyum kini menghiasi bibir keduanya. Rasa lega kini Aries dan Hana rasakan dan beban yang sejak lama menghimpit dadanya kini terangkat entah kemana.


"Kira-kira kapan operasinya dilakukan?" Tanya Aries. Aries sungguh tidak sabar ingin melihat Aisyah kembali sehat seperti dulu.


"Secepatnya. Bapak tinggal mengurus administrasinya ke bagian administrasi." Ujar dokter.


"Baik, dok. Saya segera mengurus biaya administrasinya," jawab Aries penuh semangat.


"Kalau gitu, saya permisi dulu."


"Tunggu, dok!" Cegah Aries. " Mm... Kalau boleh tahu siapa orang yang telah bersedia mendonorkan hatinya untuk anak saya?"


"Kalau soal itu, saya belum bisa memberitahukannya. Permisi...." Dokter pun segera pergi.


Hana dan Aries saling pandang dan saling bertanya-tanya siapa orang yang berbaik hati mendonorkan hatinya untuk Aisyah.


"Kira-kira siapa orangnya, bay?"


"Entahlah. Semoga orang baik itu mendapatkan pahala yang berlipat ganda."


Setelah itu Aries segera pergi ke bagian administrasi, agar Aisyah secepatnya di operasi.


Dengan perasaan cemas, Aries dan Hana kini tengah menunggu proses operasi Aisyah. Keduanya saling menggenggam tangan dan pastinya untaian doa terus Aries dan Hana lantunkan.


"O ya... Apa Byan sudah diberi tahu soal Aisyah?" Tukas Hana yang baru teringat dengan menantunya itu. Saking senangnya, ia sampai lupa mengabari Byan.


"Aku lupa," ujar Aries sambil tepuk jidat.


Aries merogoh ponselnya dan segera menelpon Byan.

__ADS_1


"Nomornya nggak aktif," ujar Aries dan mencoba menelpon lagi.


"Gimana?" Tanya Hana dan Aries menggelengkan kepalanya.


"Tumben ponselnya nggak aktif?" Kata Hana.


"Mungkin ponselnya lowbat."


Sudah hampir empat jam Aisyah menjalani operasi transplantasi hati dan Byan sampai detik ini belum menampakkan batang hidungnya. Aries sudah berkali-kali menelpon Byan, tapi nomor ponselnya tidak aktif-aktif.


"Sayang, aku pergi dulu. Aku mau cari Byan di ruang bayi," tukas Aries yang kini sudah berdiri dari duduknya.


"Iya...." Lalu Aries segera pergi menuju ruang bayi.


Sesampainya di ruang bayi, Aries tidak melihat Byan di dalam sana. Membuat Aries merasa aneh, karena Byan tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa ada yang tahu.


"Aneh. Kira-kira Byan pergi kemana ya?" gumam Aries.


Karena tidak menemukan Byan, akhirnya Aries memutuskan untuk kembali menunggu Aisyah.


"Mana byan-nya?" Tanya Hana, ketika Aries sudah berada di sana.


Aries menggeleng-gelengkan. "Byan nggak ada di sana."


Hana mengerutkan keningnya, mendengar perkataan suaminya. "Tapi abay sudah cari Byan kan?"


"Sudah, tapi aku nggak lihat Byan dimana-mana," jawab Aries yang merasa janggal dengan Byan yang tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa ada kabar darinya.


Hana mengangguk dan segera menelpon Mami Yuyun. Karena ini sudah malam, telponnya belum diangkat-angkat oleh besannya.


Lama menunggu, akhirnya telponnya diangkat juga oleh Mami Yuyun.


"Halo...." Jawab Mami Yuyun diujung telpon.


"Iya, halo. Mm... Maaf kalau saya menggangu waktu istirahat ibu," kata Hana yang merasa tidak enak hati harus mengganggu Mami Yuyun yang tengah beristirahat.


"Iya, tidak apa-apa. Ada apa, jeng?"


"Ini... Mmau tanya. Apa Byan ada di rumah ibu?"


"Byan? Tadi siang sih dia datang ke sini, tapi setelah itu dia pergi lagi. O iya, gimana keadaan Ais? Byan bilang Ais masuk rumah sakit."


"Iya, tapi sekarang Ais lagi operasi transplantasi hati. Minta doanya ya, Bu."


"Pasti saya doakan. Maaf, saya belum sempat jenguk Ais."


"Iya, tidak apa-apa Bu, kalau gitu saya tutup dulu telponnya. Sekali lagi maaf mengganggu."


"Iya, nggak apa-apa. Santai saja, jeng," jawab Mami Yuyun. Setelah itu sambungan teleponnya di tutup.


"Ada Byan di sana?" Tanya Aries.

__ADS_1


"Nggak ada, tapi tadi siang sih katanya pergi ke sana, tapi setelah itu Byan pergi lagi. Kira-kira Byan pergi kemana ya?" Hana benar-benar merasa aneh.


Di sebuah lorong rumah sakit, dua orang lelaki tengah berjalan menuju ruang operasi. Satu.lelaki itu terlihat lesu dengan apa yang terjadi dan tidak menyangka dengan apa yang telah ia dan temannya lewati.


"Kamu yakin nggak apa-apa?" Tanyanya sahabatnya.


"Nggak apa-apa. Kamu duluan saja, nanti aku menyusul."


"Baiklah," jawab sahabatnya.


Setelah kepergian sahabatnya, ia menyandarkan tubuhnya ke dinding dan merosot duduk di lantai. Ia menumpahkan tangisannya. Sungguh ia tak menyangka dengan apa yang telah seseorang lakukan untuknya.


Setelah itu, dengan langkah gontai ia berjalan menuju ruang operasi.


***


"Bucan, ayah...."


Keduanya menengok. "Marshall?"


"Gimana operasi Ais?" Tanya Marshall harap-harap cemas.


"Ais masih di operasi," jawab Hana.


"Bang, apa kamu lihat Byan?" Tanya Aries.


"Byan?" Lalu Marshall menoleh ke belakang. "Tuh, Byan." Tunjuk Marshall kepada Byan yang tengah berjalan lunglai.


Dengan raut wajah kuyu, Byan kini sudah bergabung dengan mertuanya. Bola matanya menyimpan kesedihan.


"By, kamu habis darimana? Ayah sudah cari kamu kemana-mana," kata Hana, tapi lega karena Byan dalam keadaan baik-baik saja.


"Dari tadi Byan sama Abang. Maaf kalau kami tidak mengabari ayah sama bucan." Marshall yang jawab, sebab Marshall tahu saat ini hati Byan tengah sedih dengan apa yang sudah ia lewati bersama Byan.


"Maaf, Bu... Yah. Kalau aku sudah membuat ibu sama ayah mencemaskan aku," ucap Byan.


"Iya, nggak apa-apa. Yang penting kamu baik-baik saja," sahut Aries.


Setelah menunggu berjam-jam, akhirnya pintu operasinya terbuka dan dokter yang menangani operasi Aisyah keluar.


"Dok, gimana operasinya?" Cecar Hana.


Senyum dokter itu terbit. "Operasinya berjalan lancar. Satu jam lagi pasien akan di pindahkan ke ruang rawat," ucap dokter.


"Alhamdulillah...." Ucap semuanya yang kini merasa lega.


"Terima kasih, dok," ucap Aries, lalu dokter kembali masuk ke ruang operasi.


Semua langsung berpelukan dan bahagia. Akhirnya Aisyah terbebas dari penyakit yang selama ini menggerogotinya.


Terima kasih atas apa yang sudah kamu berikan. Aku berjanji akan mengabulkan semua keinginanmu dan semoga kamu tenang di alam sana. Doaku akan selalu mengiringi perjalananmu menuju keabadian. Sekali lagi terima kasih... Dafa.

__ADS_1


__ADS_2