
Hari ini Aisyah dan Byan menempati rumah barunya dan keduanya langsung membuat syukuran keci-kecilan sebagai bentuk rasa syukurnya.
Walau rumah yang ditempati oleh Byan dan Aisyah tidaklah besar, Aries merasa sudah cukup bangga terhadap Byan yang mau berusaha memberikan yang terbaik untuk Aisyah dan Aries menghargai itu. Apalagi melihat senyum ceria di wajah putri tercintanya, yang terlihat bahagia.
Di saat sedang bercengkrama, Mami Yuyun datang karena sebelumnya Byan mengatakan kalau ia akan mengadakan syukuran buat rumah barunya.
Mami Yuyun datang seorang diri dan pastinya beliau tidak memberitahu kepada suaminya kalau ia akan menemui anaknya.
"Mami...!" Seru Byan, yang tak menyangka kalau maminya benar-benar datang memenuhi undangannya.
Byan langsung menyongsong kedatangan maminya dan Byan membawa tubuh rentang itu ke dalam pelukannya. Byan sungguh sangat senang maminya datang.
"Terima kasih, mami sudah mau datang ke sini."
"Iya, mami juga ingin melepaskan rasa rindu mami sama kamu dan juga Ais."
"Ayo, kita bergabung dengan mertuaku." Byan mengajak maminya dan bergabung dengan Aries, Hana dan yang lainnya.
Aisyah yang melihat mertuanya duduk, langsung menghampirinya.
"Mi, gimana kabar mami?" Tanya Aisyah.
"Kabar mami baik, nak," jawabnya seraya mengelus perut Aisyah yang sudah terlihat membuncit dan mereka semua bercengkrama.
Hingga tak terasa waktupun sudah malam. Aries dan keluarga kecilnya sudah lebih dulu pulang, sedangkan Mami Yuyun masih betah berada di sana. Mami Yuyun ingin sedikit menghabiskan waktunya bersama Byan. Beliau masih merindukan Byan, yang memang sudah lama tak bertemu.
"Mi, gimana kabar papi?" Tanya Byan, yang saat ini tengah tiduran di pangkuan maminya.
"Kabar papi baik," jawab Mami Yuyun lesu. Bagaimanapun Mami Yuyun ingin suami dan anaknya kembali rukun.
"Syukurlah kalau kabar papi baik."
"Mami berharap, papi kamu bersedia memaafkan kamu dan kita bisa berkumpul lagi." Suara Mami Yuyun sedikit bergetar menahan tangisnya.
Byan menarik tangan Maminya yang dari tadi mengelus kepalanya untuk di genggam.
"Aku juga maunya sih begitu, mi. Lagian papi memang berhak membenciku karena aku sudah membuatnya kecewa. Mami do'akan saja, semoga suatu saat papi benar-benar memaafkan aku." Byan menatap wajah tua itu, wanita yang sangat Byan sayangi dan cintai. Wanita yang menjadi cinta pertamanya.
"Mi... Sekali lagi maafin aku." Sambung Byan.
Mami Yuyun mengangguk dan tersenyum menatap putranya itu.
"By, mami harus pulang. Maaf, mami nggak bisa lebih lama lagi disini. "
__ADS_1
"Iya, mi."
Byan bangun, lalu memeluk maminya. Tidak lupa Byan mencium pucuk kepala Mami tersayangnya.
***
Setelah mengantarkan maminya ke depan rumah, Byan mencari Aisyah di kamar. Byan terkejut begitu masuk ke kamar, melihat Aisyah tengah mengenakan pakaian yang sangat menerawang. Memperlihatkan seluruh lekuk tubuhnya.
Byan menelan Salivanya dan tertegun melihat Aisyah.
"Ke-kenapa kamu mengenakan pakaian tak beradab itu," kata Byan sembari mengalihkan pandangannya.
"Apa kakak tidak menginginkan aku?"
"Siapa yang tidak menginginkan kamu, tapi... Aku tidak berani melakukannya. Aku takut akan menyakiti bayimu."
Aisyah langsung tertunduk kecewa dengan perkataan Byan, sedangkan ia sudah berusaha membuka hatinya untuk Byan. Dengan dimulai dari ia menyerahkan tubuhnya untuk di sentuh oleh Byan.
Byan mendekati Aisyah sembari membawa selimut yang ia tarik dari ranjang. Byan menutupi tubuhnya Aisyah dan mengangkat kepala Aisyah dengan telunjuknya.
"Aku minta maaf, kalau sampai sekarang aku belum memberikan kamu nafkah batin. Bukannya aku nggak mau menyentuhmu, tapi beneran aku tidak mau menyakiti bayimu. Aku harap kamu mengerti dan jika sudah waktunya aku akan meratukan kamu di ranjang."
"Tapi kalau aku minta cium, boleh?" Entah kenapa Aisyah sangat menginginkan Byan dan tak apalah jika Byan belum siap memberikan haknya kepadanya.
Aisyah mengangguk penuh harap.
"Baiklah. Kalau itu aku siap memberikannya."
Byan segera mendaratkan ciumannya ke bibir Aisyah, yang langsung disambut hangat oleh Aisyah. Byan terus menyesap bibir Aisyah dengan lembut. Memangutnya yang terasa manis di bibirnya.
Aisyah melingkarkan tangannya di pinggang Byan, merapatkan tubuhnya ke tubuh Byan. Aisyah memperdalam ciumannya dan respon tubuhnya menginginkan lebih dari ini, begitupun dengan Byan.
Byan yang sudah menegang, menahan gejolak di tubuhnya. Segera menghentikan tautan bibirnya, lalu Byan menyatukan keningnya dengan kening Aisyah, seraya menetralkan nafasnya yang mulai memburu.
"Istirahatlah. Sejak tadi kamu belum istirahat."
Ada rasa kecewa di hati Aisyah. Ia pikir Byan akan melanjutkan ciumannya dan berakhir dengan kegiatan panas. Ternyata Byan benar-benar tidak mau menyakiti kandungannya.
"Apa kamu sudah minum vitamin?"
"Belum. Aku lupa," jawab Aisyah, yang memang sering lupa meminum vitaminnya.
Byan mendengus dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kebiasaan deh," ucap Byan gemas seraya mencubit hidungnya Aisyah dan Aisyah hanya nyengir kuda.
Byan segera mengambil vitaminnya dan menyerahkannya kepada Aisyah, tidak lupa Byan juga memberikan air minumnya yang sudah tersedia di kamar.
"Ayo kita tidur."
Keduanya langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Aisyah melingkarkan tangannya di pinggang Byan dan Byan mengelus punggung Aisyah, hingga keduanya jatuh terlelap tidur.
***
Sang fajar malu-malu menampakkan biasnya dan langit jingga mewarnai pagi yang terlihat cerah. Aisyah bangun dan meregangkan otot-ototnya, lalu Aisyah turun dari ranjang dan mencari keberadaan suaminya yang lebih dulu bangun.
Aisyah tersenyum ketika melihat Byan tengah berkutat dengan alat dapur.
"Kenapa kakak nggak bangunin aku?"
"Eh!" Byan terperanjat mendengar suara Aisyah. " Aku nggak tega bangunin kamu. Aku nggak mau membuat kamu kelelahan."
"Memang kakak masak apa?"
"Nasi goreng."
Aisyah berdiri di samping Byan dan nasi goreng buatan Byan membuat Aisyah tergugah ingin mencicipinya.
"Apa sudah matang? Aku mau segera memakannya."
"Sudah. Kamu duduk saja sana di meja makan," suruh Byan.
Byan segera memindahkan nasi goreng buatannya ke piring, setelah itu membawanya ke meja makan.
"Nih, makanlah," seraya meletakkannya di depan Aisyah.
"Terima kasih, kak."
Byan mengangguk dan kembali ke dapur. Kali ini Byan membuatkan susu hamil untuk Aisyah.
"Selesai makan, habiskan susunya."
Aisyah mengangguk dan kembali melahap nasi gorengnya. Byan tersenyum melihat Aisyah begitu menikmati masakannya.
"Nasi goreng buatan kakak enak. Aku suka. Besok kakak buat lagi ya," pinta Aisyah dengan senyum cerahnya.
"Siap Nyonya Byan."
__ADS_1