Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Bertemu dengan orang tuanya Byan


__ADS_3

"Pa, kita susul Dafa ke Jepang."


Bella sungguh tidak sabar ingin memarahi anaknya itu. Rasanya saat ini juga Bella ingin terbang ke Jepang.


"Boleh, tapi tunggu lusa. Soalnya papa, besok ada pertemuan dengan klien penting dan itu nggak bisa di tunda."


"Terserah bisanya kapan, yang jelas kita harus bicara sama Dafa. Mama nggak habis pikir sama jalan pikirannya Dafa, bisa-bisanya dia nggak mau menginginkan anaknya. Laki-laki macam apa dia itu." Bella sungguh sangat geram terhadap anaknya sendiri.


"Iya, benar ma. Aku juga kesel sama Dafa. Kasihan Ais, harus menikah sama Dafa yang tidak memiliki perasaan. Jika aku diposisi Ais, sudah aku pelintir lehernya Dafa!" Timpal Difa.


***


Keesokan harinya, Aisyah yang baru selesai kuliah tidak sengaja bertemu dengan Byan di restoran yang berada di mal. Byan makan siang bersama ibunya, yang bernama Mami Yuyun.


"Ais, kamu disini juga." Ucap Byan.


"Iya, Kakak sama siapa disini?"


"Sama mami. Ayo, aku kenalin kamu sama mami aku."


Byan mengajak Aisyah untuk bergabung dengan maminya dan memperkenalkannya kepada maminya.


"Mi, kenalin ini temanku namanya Ais."


Mami Yuyun tersenyum menatap wajah Aisyah dan berjabat tangan dengan Aisyah.


"Ais, Tante...." Aisyah memperkenalkan diri kepada Mami Yuyun dan Aisyah disambut hangat oleh maminya Byan.


Mami Yuyun terus saja memandangi Aisyah, sampai-sampai Aisyah tertunduk malu.


"Kamu sudah punya pacar belum?" Tanya Mami Yuyun, sembari menyentuh tangan Aisyah.


"Mi...." Tegur Byan.


Aisyah menggelengkan kepalanya pelan dan Mami Yuyun tersenyum senang. Entah kenapa hati Mami Yuyun langsung klik terhadap Aisyah, tidak seperti perempuan-perempuan yang selama ini mendekati Byan.


"Baguslah, kalau Ais belum punya pacar," ucapnya senang.


"Mami...." Byan kembali menegurnya. Rasanya tak elok maminya menanyakan hal itu, tapi melihat ekspresi wajah maminya terhadap Aisyah, sedikit membuat hati Byan lega. Itu tandanya maminya suka sama Aisyah dan juga sudah terlihat lampu hijau dari maminya. Tinggal dirinya berjuang mendapatkan hati Aisyah.


"Maaf-maaf, papi telat," kata papinya Byan yang baru datang bersama perempuan muda.


"Nggak apa-apa, Pi. Kita juga belum lama disini," timpal Mami Yuyun.


Pak Sanjaya duduk di samping istrinya, sedangkan perempuan yang datang bersama papinya Byan duduk di dekat Aisyah.


"Byan, kenalin ini anak teman papi namanya Laura."


"Hai, aku Byan." Byan berjabat tangan dengan Laura.


"Gimana, cantik kan?" Bisik Pak Sanjaya kepada Byan.


"Iya, cantik," jawab Byan.

__ADS_1


Aisyah yang duduk ditengah-tengah antara keluarganya Byan, merasa tak enak hati dan berniat pindah duduknya. Aisyah tidak mau ikut nimbrung dengan keluarga Byan dan Aisyah melihat gelagat papinya Byan merasa tak suka kepadanya.


"Kak, aku pindah aja ya duduknya."


"Loh... Kenapa?"


"Nggak apa-apa, soalnya sebentar lagi temanku datang."


"Tunggu saja dulu sampai temanmu datang," celetuk Mami Yuyun, yang sebenarnya tidak suka Aisyah pindah duduknya.


"Baiklah," jawab Aisyah mengalah, sembari melirik papinya Byan. Takut kalau papinya Byan merasa terganggu dengan adanya Aisyah di sana.


"Byan, habis dari sini kamu antarkan Laura pulang ya," suruh Pak Sanjaya dan Byan mengangguk kecil.


Hati Aisyah semakin tak nyaman, karena berkali-kali papinya Byan meliriknya. Seolah memintanya pergi dari meja ini. Aisyah juga gelisah karena Widia dan Zia tak kunjung datang.


"Kamu kenapa, Ais?" Tanya Mami Yuyun.


"Maaf Tante, Ais pulang duluan ya."


"Loh... Kenapa harus buru-buru pulang. Nanti saja pulangnya." Mami Yuyun berusaha mencegah Aisyah pulang.


"Tapi, Ais harus pulang."


"Ya sudah kalau begitu. Hati-hati ya...." Mami Yuyun cipika-cipiki dengan Aisyah, setelah itu Aisyah bergegas meninggalkan keluarga Byan.


"Perempuan tadi pacar kamu?" Tanya Pak Sanjaya kepada Byan.


"Nggak apa-apa." Pak Sanjaya tidak mau mengungkapkan rasa tidak sukanya terhadap Aisyah, karena Pak Sanjaya sudah mendengar pengakuan Byan kalau Aisyah bukan pacarnya.


"Om, aku pamit pulang dulu ya," ucap Laura. Pak Sanjaya mengangguk, lalu Pak Sanjaya menatap wajah Byan.


"Byan, antarkan Laura pulang."


"Iya, Pi. Ayo, aku antar kamu pulang."


"Tante aku pulang dulu," pamit Laura.


"Iya...."


Byan dan Laura pergi meninggalkan mami dan papinya. Setibanya di parkiran, Byan segera menyalakan mobilnya. Saat Byan akan keluar dari mal tersebut, Byan melihat Aisyah tengah duduk di halte seorang diri. Byan menghentikan mobilnya tepat di halte tersebut.


Byan segera turun dan menghampiri Aisyah, yang tengah duduk.


"Ais, kamu belum pulang?"


"Eh! Kak Byan. Belum kak, ini lagi nungguin Pak Bejo."


"Kalau gitu, biar aku antar kamu pulang."


"Nggak usah, kak. Paling sebentar lagi Pak Bejo juga datang. Nah... Itu dia Pak Bejo sudah datang," ujar Aisyah.


"Aku pulang duluan ya, kak."

__ADS_1


Byan mengangguk dan Aisyah bergegas masuk ke dalam mobil. Setelah mobil yang di tumpangi oleh Aisyah pergi, Byan juga segera mengantarkan Laura pulang.


***


Malam harinya, Byan tengah duduk di dekat kolam renang sembari menyeruput coklat panas. Byan kemudian merogoh handphonenya di saku celana pendeknya dan membuka layar handphonenya.


Byan memandangi foto Aisyah, yang tengah tersenyum manis. Byan teringat saat memotret foto candid Aisyah diam-diam.


"E'hem...!" Sebuah deheman mengagetkan Byan yang tengah memandangi foto Aisyah.


"Mami, bikin aku kaget saja."


"Hayo... Kamu lagi pandangin foto siapa?" Ledek Mami Yuyun.


"Ada deh...."


"Pasti kamu lagi pandangin foto Ais, ya...."


Byan tersipu malu dan menganggukkan kepalanya. Maminya ini selalu tahu soal perasaan hatinya.


"Kalau kamu suka sama Ais, kamu harus terus pepet Ais. Jangan sampai kalau Ais diambil orang."


"Memang Mami mendukung aku sama Ais?"


Mami Yuyun mengangguk." Mami akan selalu setuju, jika itu membuat kamu bahagia."


Byan langsung memeluk maminya dan mencium pipi maminya. " Mami memang paling the best." Senang Byan.


"Doain ya, mi. Mudah-mudahan aku bisa mendapatkan Ais." Mami Yuyun mengangguk dan menepuk lembut lengan Byan.


Senang rasanya hati Byan, karena mendapatkan dukungan dari maminya dan berharap ia bisa menaklukkan hatinya Aisyah.


"Sudah malam, Mami masuk dulu." Cetus Mami Yuyun.


"Iya, mi...."


Mami Yuyun pun masuk ke dalam rumah, sedangkan Byan menghabiskan dulu coklat yang sudah mulai menghangat itu. Setelah itu, Byan juga masuk ke dalam rumah. Saat akan melangkahkan kakinya ke anak tangga, Pak Sanjaya memanggil Byan dan memintanya mendekatinya.


"Byan, papi mau bicara hal yang serius."


"Soal apa?"


"Gimana, kamu tertarik sama dia?"


Disini Byan menangkap kata dia itu adalah Aisyah dan Byan pun mengangguk, kalau ia memang tertarik sama Aisyah.


"Syukurlah, papi senang kalau kamu suka sama dia." Pak Sanjaya langsung memeluk Byan dengan rasa bahagia.


"Terima kasih, nak. Akhirnya papi bisa besanan sama Pak Atmodjo," sambung Pak Sanjaya.


Byan termangu mendengar perkataan papinya. Byan pikir papinya itu membicarakan tentang Aisyah, tapi ternyata papinya itu membicarakan soal Laura.


Byan bingung dan ingin meluruskan kesalahpahamannya, tapi melihat ekspresi papinya yang sangat bahagia, membuat Byan mengurungkan niatnya. Byan menjadi risau dan tak tahu harus mengatakan apa kepada papinya itu, yang jelas Byan tidak tertarik kepada Laura dan Byan bingung gimana menolaknya.

__ADS_1


__ADS_2