Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Tiba-tiba berubah


__ADS_3

Setelah mengetahui kalau papinya Byan sudah pulang dari rumah sakit. Aries ingin mengajak Hana ke rumah orang tua Byan, sekalian mengajak Byan dan Aisyah, tidak ketinggalan baby Afkar.


Sesampainya di rumah kediaman Pak Sanjaya. Aries, Hana, Byan dan Aisyah segera melangkah masuk ke dalam rumah.


"Mi... Pi...." Panggil Byan.


Mami Yuyun yang saat ini tengah berada di dapur, terkejut dengan panggilan dari Byan. Mami Yuyun menghentikan acara memasaknya dan menghampiri Byan.


"Loh! Ada besan juga rupanya?" Mami Yuyun tak menyangka kalau mertuanya Byan juga berada di rumahnya.


Mami Yuyun mendekati Aries dan Hana.


"Gimana kabarnya, Bu?" Tanya Hana sambil cipika-cipiki.


"Alhamdulillah, baik. Silahkan duduk."


"Papi mana, mi?" Tanya Byan.


"Papi di kamar. Mami panggilkan papimu dulu."


"Nggak usah, biar aku saja."


Mami Yuyun mengangguk, lalu Byan melangkah naik ke lantai dua dan memanggil Pak Sanjaya.


Mami Yuyun sangat senang dengan kedatangan Aries dan Hana, apalagi melihat baby Afkar yang tengah digendong oleh Aisyah.


"Ini cucu mami?" Ucap Mami Yuyun sambil mengambil baby Afkar dari gendongan Aisyah.


"Ganteng banget cucu nenek." Seraya mencium pipi baby Afkar.


Tidak berselang lama, Pak Sanjaya dan Byan ikut bergabung. Pak Sanjaya tertegun ketika melihat Aries.


"Ini bukannya Pak Aries pemilik perusahaan The Star Grup?" Tanya Pak Sanjaya.


"Iya, betul," jawab Aries.


"Wah! Saya tidak menyangka, ternyata saya besanan sama pengusaha hebat seperti anda." Puji pak Sanjaya dan ini pertama kalinya Pak Sanjaya bertemu dengan Aries yang ternyata adalah mertuanya Byan.


Pak Sanjaya begitu mengagumi sosok Aries, sebab Aries salah satu pengusaha sukses yang memiliki banyak perusahaan. Tidak seperti dirinya yang hanya memiliki satu perusahaan.


Bahkan Aries sering menyabet penghargaan sebagai pengusaha terhebat. Banyak para pengusaha yang ingin bekerjasama dengan perusahaan Aries.


Pak Sanjaya seperti bermimpi bisa bertemu dengan seorang Aries. Bahkan pak Sanjaya berharap bisa bekerjasama dengan perusahaan The Star Grup.


"Pi, lihat. Ini cucu kita," ujar Mami Yuyun yang memperlihatkan baby Afkar.


Pak Sanjaya tersenyum dan mengelus pipi baby Afkar dengan sayang.

__ADS_1


Pertemuannya dengan Aries membawa baik bagi kesejahteraan perusahaannya, sebab Aries menawarkan diri untuk bekerjasama dengan perusahaan Pak Sanjaya.


***


Malam ini Byan dan Aisyah menginap di rumah orang tuanya dan kini keduanya sudah berada di kamar Byan yang berdominasi warna abu-abu.


Dulu saat pertama kali masuk ke kamar Byan, Aisyah tidak begitu detail melihat-lihat kamar Byan.


Byan saat ini tengah sibuk dengan ponselnya, bahkan raut wajah Byan begitu sangat serius. Aisyah yang tengah bermain dengan baby Afkar, menatap heran wajah Byan.


"Lagi lihatin apa sih. Dari tadi serius banget?"


"Lagi lihat kerjaan," jawab Byan, tapi pandangannya tidak teralihkan dari layar ponsel.


"Bener lagi lihat kerjaan?!" Aisyah menatap curiga.


"Iya, sayang."


Aisyah mendengus, karena Byan tetap fokus ke layar ponselnya. Melirik pun tidak, bahkan kini Byan tersenyum-senyum. Membuat Aisyah semakin curiga.


Aisyah yang sudah kesal, berniat merebut ponsel Byan. Akan tetapi Byan segera mengamankan ponselnya.


"Kenapa aku nggak boleh lihat!" Marah Aisyah.


"Aku kan sudah bilang. Aku lagi lihat kerjaan, bukan lagi lihat yang aneh-aneh," sanggah Byan.


"Kalau memang lagi lihat kerjaan, kenapa aku nggak boleh lihat!" Aisyah masih sangat kesal.


"Kerja? Bukannya besok kantor libur?" Aisyah semakin bertambah curiga.


"Apa kamu lupa. Perusahaan papi kan lagi ada masalah dan aku harus secepatnya menyelesaikan masalah ini."


"Tapi aku nggak percaya sama omongan kamu!"


"Ya sudah kalau kamu nggak percaya," jawab Byan sekenanya. Lalu Byan membaringkan tubuhnya di samping baby Afkar yang tengah menggerak-gerakkan kaki dan tangannya.


Byan lebih memilih bermain dengan baby Afkar, dibandingkan dengan Aisyah yang terlihat sangat kesal. Bahkan Byan tidak memperdulikan perasaan Aisyah, yang biasanya kalau marah, Byan pasti akan membujuknya atau menenangkannya.


Pada akhirnya Aisyah memilih ikut berbaring dan menatap kesal wajah Byan.


Waktupun semakin larut, Aisyah terbangun karena kantong kemihnya terasa penuh.


"Kak Byan kok nggak ada," gumam Aisyah. Lalu Aisyah turun dari kasur dan segera melangkah ke kamar mandi.


Selesai dari kamar mandi, sayup-sayup Aisyah mendengar suara Byan dari arah balkon. Karena penasaran Aisyah menguping pembicaraan Byan.


"Besok aku akan datang ke sana dan kamu jangan pergi kemana-mana dulu."

__ADS_1


"Iya dan kamu harus mempersembahkan yang terbaik buat aku dan jangan buat aku kecewa. Pokoknya kamu harus membuat aku puas, jika tidak aku tidak mau menjalin hubungan lagi dengan kamu."


Aisyah yang mendengar pembicaraan Byan, seketika di penuhi rasa curiga. Hati Aisyah mendadak berdenyut nyeri mendengar pembicaraan Byan.


"Apa yang dilakukan suamiku dibelakangku?" Lirih Aisyah.


Dengan langkah gontai Aisyah melangkah ke arah kasur . Byan yang sudah selesai bertelepon mendekati Aisyah, kemudian mencium kening Aisyah.


"Maafkan aku... Semoga kamu tidak marah sama aku nantinya," gumam Byan, lalu Byan ikut bergabung di kasur.


Deg.


Aisyah yang pura-pura tidur, terkejut mendengar perkataan Byan.


Apa maksud kakak bicara seperti itu?


Malam itu Aisyah tidak bisa tidur dan kemudian membuka matanya melihat wajah Byan yang kini sudah terlelap tidur. Setetes air matanya jatuh dari pelupuk matanya, mengingat kembali perkataan Byan.


Apa jangan-jangan kakak selingkuh dariku?


***


Keesokan paginya, Byan mengantarkan Aisyah pulang ke rumah orang tuanya. Hati Aisyah masih dirundung rasa sedih.


Sesampainya di kamar, Byan langsung berganti pakaian dengan pakaian kantor. Walau sedih dan sakit hati, Aisyah membantu Byan memasangkan dasinya.


"Nanti pulang jam berapa?" Tanya Aisyah dan berpura-pura tidak tahu kalau Byan akan bertemu dengan seseorang yang sudah membuatnya curiga.


"Aku belum tahu."


"Oh...."


Tiba-tiba ponselnya Byan berdering. Byan hanya menatapnya saja tanpa menjawab telpon tersebut.


"Aku berangkat dulu ya...." Pamit Byan dan langsung meninggalkan Aisyah.


Biasanya akan ada peluk cium, tapi ini untuk pertama kalinya Byan tidak melakukannya dan pergi begitu saja.


Aisyah yang sudah curiga, segera mengikuti Byan dan baby Afkar sudah Aisyah titipkan kepada Hana.


Aisyah terus mengikuti mobil Byan dan berhenti di depan rumah berlantai dua. Aisyah akan terus memantau Byan dari mobilnya dan berharap Byan tidak mencurigainya.


Byan turun dari mobil dan kedatangannya di sambut oleh seorang wanita berparas cantik dan seksi.


Aisyah yang melihat Byan menemui seorang wanita, membuat Aisyah sakit hati. Bahkan Aisyah melihat Byan cipika-cipiki dengan wanita tersebut.


"Jadi ini yang di bilang kamu kerjaan?" Lirih Aisyah. Air matanya kini membasahi pipinya.

__ADS_1


Aisyah tak menyangka kalau Byan begitu tega mengkhianatinya. Aisyah pikir Byan lelaki yang berbeda, tapi ternyata Byan sama saja dengan Dafa.


"Jahat kamu sama aku...."


__ADS_2