Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Mendapatkan kejutan yang terduga


__ADS_3

"Aargh...." Dan sepasang tangan menangkap tubuh Aisyah yang hampir saja bokongnya mencium lantai.


"Hati-hati, kak," seloroh pelayan restoran, sembari membantu menegakkan tubuhnya Aisyah.


Jantung Aisyah berdetak kencang dan juga syok karena hampir saja terjatuh.


"Terima kasih sudah menolong saya," kata Aisyah.


"Iya, sama-sama. Jalannya hati-hati, kak, soalnya lantainya masih basah." Pelayan tersebut mengingatkan Aisyah dan Aisyah mengangguk kecil.


"Untung saja aku nggak sampai jatuh," gumam Aisyah, sembari mengelus dadanya. Hampir saja kandungannya terancam, akibat kelalaiannya yang tidak berhati-hati.


Aisyah kembali ke meja dimana Byan duduk menunggunya. Byan mengernyitkan dahinya melihat wajah Aisyah sedikit menegang. Byan menggeserkan kursinya mendekati Aisyah.


"Kamu nggak apa-apa?" Byan bertanya karena takut kalau Aisyah kenapa-napa.


"Nggak apa-apa, kak," jawab Aisyah sembari tersenyum.


"Bener?


"Iya, kak. Beneran aku nggak apa-apa." Aisyah kembali meyakinkan Byan.


"Syukurlah. Aku takut kamu sampai kenapa-napa, soalnya wajah kamu terlihat sedikit tegang."


"Perasaan kakak saja kali," elak Aisyah.


"Mungkin. Ya sudah lupakan. Ayo kita makan."


Lalu keduanya segera memakan makanannya yang begitu menggugah seleranya untuk menghabisinya.


"Setelah dari sini, kita pergi kemana lagi?" Tanya Aisyah.


"Bagaimana kalau kita pergi ke menara Tokyo. Kamu maukan?"


Aisyah mengangguk cepat dan segera menghabisi makanannya.


Selesai makan malam, Byan dan Aisyah bergegas pergi ke menara Tokyo. Menara Tokyo adalah menara tertinggi di dunia, dengan tingginya sekitar 332,6 m.


Senyum Aisyah bertambah lebar, saat tiba di tempat tersebut. Ia benar-benar sangat bahagia bisa datang ke tempat ini dengan orang terkasihnya.


"Kak, kita foto yuk. Tapi... Sambil ciuman," pintanya sedikit ragu.


"Ha...!" Byan terkejut dengan permintaan sang istri. "Ciuman?" Aisyah mengangguk kecil.


"Mau ya...." Mohon Aisyah dengan tatapan puppy eyes dan Byan tidak bisa menolaknya, apalagi melihat tatapan memohon Aisyah.

__ADS_1


"Oke. Kita akan berfoto sambil ciuman."


Aisyah segera mengarahkan kamera ponselnya. Aisyah dan Byan pun berciuman dengan background menara Tokyo. Beberapa foto pun sudah tersimpan di ponselnya Aisyah dan hari ini Aisyah sangat senang bisa jalan-jalan melihat kota Tokyo.


Tanpa terasa waktu sudah semakin malam. Byan segera mengajak Aisyah pulang ke hotel.


"Kamu sudah puas berkeliling?"


"Sebenernya belum. Masih ada satu tempat yang ingin aku kunjungi yaitu ingin melihat bunga sakura."


"Lain kali saja, sekarang sudah malam. Lebih baik kita pulang saja."


"Iya, deh...."


Aisyah dan Byan bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut, dengan membawa kenangan indah.


***


Di tempat yang berbeda.


Senyum terpancar dari bibir seorang lelaki yang berjuang keras demi wanita yang sangat di cintainya itu, dia adalah Dafa. Dengan langkah lebar, Dafa berjalan menuju apartemennya dan Dafa ingin memberikan surprise untuk Wulan karena hari ini adalah hari spesialnya Wulan. Hari ulang tahunnya Wulan.


Dafa sengaja pulang lebih awal, demi merayakan ulang tahun Wulan. Sebelum masuk, Dafa merapikan tatanan rambutnya yang berantakan dan tersenyum melihat apa yang ia bawa untuk kado ulang tahun Wulan.


Dafa membuka pintu apartemennya pelan-pelan, lalu Dafa menjulurkan kepalanya melihat kondisi apartemennya.


"Aman. Wulan nggak ada disini," gumam Dafa, lalu dengan perlahan Dafa menutup pintunya.


Terlebih dahulu Dafa membuka kardus yang berisi kue ulang tahun, lalu Dafa memasangkan satu lilin. Setelah itu Dafa melangkah ke arah kamarnya.


Akan tetapi, langkah kakinya terhenti saat telinganya menangkap sebuah suara yang sangat di kenalnya.


"Aaahh... Sa yangg ini... Aaahh...." Wulan mendesah nikmat.


"Kamu sema... Kin seksi dengan perut besarnya," ucap seorang lelaki dengan suara parau.


Seketika darahnya Dafa mendidih mendengar suara erotis dari balik kamarnya. Hati Dafa berdenyut nyeri mendengar suara Wulan tengah meng erang merdu.


"Uuuh... Sayang... Lebih cepat goyangnya...." Pinta Wulan dan Dafa yang mendengar permintaan Wulan semakin terbakar emosi.


Dafa membuka pintu kamarnya perlahan dan kedua bola matanya membulat melihat istri yang sangat dicintainya itu tengah digempur oleh Akemi.


Kedua mahluk yang tengah memadu kasih di atas ranjang tidak menyadari kehadiran Dafa, sebab keduanya tengah mengejar kenikmatannya dalam bercinta.


Dafa yang melihat Wulan tengah dijemaah oleh Akemi, langsung melemparkan kue ulang tahun ke arah dua insan yang tengah memadu kasih.

__ADS_1


Bugh


"Aargh...." Jerit Wulan terkejut mendapatkan lemparan kue, termasuk juga Akemi.


"Dafa...." Cicit Wulan, yang tak menyangka kalau Dafa akan pulang cepat.


Akemi langsung melepaskan diri dari tubuh Wulan dan menelan Salivanya melihat kemarahan Dafa.


"Jadi seperti ini kelakuan kamu dibelakang aku!" Hardik Dafa, dengan kemarahan yang sudah menggebu.


"Dafa... A aku... Aku bi- bisa jelasin." Suara Wulan tergagap-gagap.


"Jelasin apa, hah!!"


Lalu Dafa langsung menghajar Akemi. Dafa sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya.


Bugh Bugh Bugh


Dafa terus menghajar Akemi dan kini keduanya saling adu tonjok. Dafa yang sudah dikungkung emosi, tidak melepaskan Akemi begitu saja.


"Stoopp!!" Teriak Wulan, yang tidak berhasil membuat keduanya berhenti berkelahi. Dafa tidak mau kalah dan Dafa terus membabi-buta Akemi dengan pukulannya. Dafa sudah dikuasai oleh kemarahan yang tak bisa terkontrol.


Wulan yang frustasi melihat dua lelaki yang di cintainya itu tengah gelut, ia pun berusaha memisahkan keduanya dengan memeluk tubuh Dafa dari belakang dan berusaha menarik tubuh Dafa.


"Aaww...." Jerit Wulan, yang tak sengaja terkena sikut Dafa saat akan memukul Akemi.


Dafa berhenti memukul Akemi saat mendengar jeritan Wulan, lalu Dafa melepar lampu tidur ke kaca rias. Dadanya begitu sesak dan sangat sakit, saat tahu wanita yang selama ini ia perjuangan ternyata mengkhianatinya.


"Brengsek kalian berdua!!"


Lalu Dafa mengobrak-abrik ranjang yang sudah menjadi tempat perselingkuhan Wulan dan Akemi.


"Daf...." Wulan berkata sangat lirih dan menyentuh pundak Dafa, tapi dengan sangat kasar, Dafa menyingkirkan tangan Wulan.


"Jangan sentuh aku! Kamu wanita yang sangat menjijikkan!" Muak Dafa. " Dan kamu wanita murahan!"


Wulan terperanjat mendengar ucapan Dafa yang merendahkannya dan mengatainya. Seketika hatinya terasa tercubit nyeri mendengar hinaan yang keluar dari lelaki yang selama ini mencintainya.


"Pergi kalian berdua dari sini! Dan kamu jangan pernah lagi tampakkan dirimu dihadapan ku dasar wanita murahan!"


"Kamu mengusir aku...?"


"Iya! Sekarang juga kalian pergi dari sini!" Ucap Dafa penuh kemarahan. Tatapan matanya penuh dengan guratan api yang menyala-nyala dan juga tatapan yang merendahkan harga diri Wulan.


Sakit, kecewa, marah itu yang saat ini Dafa rasakan. Tidak ada lagi kata manis yang terucap dari mulutnya untuk Wulan. Tidak ada lagi rasa cinta yang selama ini mengagungkan cintanya terhadap Wulan. Semuanya sirna dan berganti dengan rasa jijik dan marah, benci dan muak melihat Wulan.

__ADS_1


__ADS_2