
Aisyah yang sudah masuk ke alam mimpi harus membuka matanya, karena perutnya tiba-tiba merasakan sakit.
"Kak...."
"Hmm... Kenapa?" Jawab Byan yang baru saja akan tertidur.
"Perutku sakit," ucap Aisyah meringis, merasakan kontraksi.
Mendengar perut Aisyah sakit, Byan terbangun dan menatap Aisyah yang tengah meringis.
"Beneran perutnya sakit?" Tanya Byan penuh khawatir.
"Iya, tapi sekarang sudah nggak sakit," jawab Aisyah.
"Beneran?"
"Iya... Mungkin tadi hanya kontraksi palsu."
"Ya sudah, kalau gitu tidur lagi."
Walaupun rasa sakit yang dialami Aisyah sudah hilang, Byan tetap mencemaskannya. Tidak lama perutnya kembali terasa sakit dan Aisyah meringis sambil mencengkram pergelangan tangan Byan.
"Sakit lagi?" Pertanyaan bodoh Byan lontarkan, sudah jelas-jelas Aisyah tengah meringis kesakitan.
"He'em...." Jawab Aisyah.
Yang bisa Byan lakukan adalah mengelus pinggang Aisyah. Berharap dengan cara begitu, rasa sakit yang tengah Aisyah rasakan berkurang.
Setelah kontraksinya menghilang Aisyah memilih untuk bangun dan berjalan-jalan, tapi baru saja bangun dari duduknya Aisyah merasakan ada sesuatu yang pecah dari dalam perutnya dan air ketubannya merembes keluar.
"Ka, aku ngompol," seloroh Aisyah sambil melihat ke arah kakinya yang basah.
Byan segera memeriksanya dan Byan yakini kalau itu bukan air kencing.
"Sayang... Ini pasti air ketuban?"
"Kakak yakin?" Byan pun mengangguk.
Aisyah kemudian merasakan kembali kontraksinya dan mencengkram erat bahu Byan.
"Kak... Perutku kerasa lagi," lirih Aisyah.
Byan langsung merasakan kepanikan. Kemudian Byan mendudukkan Aisyah di tepi ranjang.
"Sayang, kamu tunggu dulu disini. Aku akan panggilkan ibu sama ayah."
"Iya, kak...." Jawab Aisyah meringis.
Byan bergegas menuju kamar mertuanya. Sesampainya di depan kamar mertuanya Byan langsung mengetuk pintunya.
Tok tok tok.
"Ibu...! Ketubannya Ais sudah pecah!" Teriak Byan sembari mengetuk pintunya.
Tok tok tok.
"Ibu... Ayah...!" Byan terus mengetuk pintunya. Berharap mertuanya segera bangun dari tidurnya.
Lama Byan mengetuk pintu, akhirnya pintu pun terbuka oleh Aries.
"Ayah, Ais sudah kontraksi," ucap Byan panik.
"Cepat, bawa Ais ke rumah sakit," ujar Aries dan Hana muncul di belakang Aries.
__ADS_1
Byan mengangguk dan bergegas kembali ke kamarnya. Byan tidak tahu kalau Aries tengah ngedumel di dalam hatinya, karena gagal membuka sarang.
"Kenapa harus merasakan kontraksinya sekarang. Kenapa tidak nanti saja kalau aku sudah selesai menuntaskan pekerjaanku yang menyenangkan." Aries bersungut-sungut sambil melangkah ke kamar Aisyah.
Hana yang berada di sampingnya langsung menjewer telinga Aries. Di saat sedang genting begini, suaminya itu tetap saja memikirkan soal ranjang. Sungguh menyebalkan bukan.
Sebelum pergi Byan membangunkan pengasuh Afkar untuk menjaganya , setelah itu Byan segera membawa Aisyah ke rumah sakit.
"Bu... Sakit...." Ringis Aisyah sambil menangis. Hana memeluk Aisyah dan mengelus punggung Aisyah.
"Iya, ibu tahu... By cepatan bawa mobilnya."
"Iya, Bu. Ini juga sudah cepat," jawab Byan, yang sebenarnya sangat panik dan takut kalau Aisyah kenapa-kenapa.
Kurang lebih dua puluh menit, akhirnya mereka sampai di rumah sakit.
Byan langsung menggendong tubuh Aisyah dan membawanya masuk.
"Sus...! Tolong sus! Istri saya mau melahirkan," teriak Byan.
Para petugas medis pun segera menghampiri Byan dan meminta Byan untuk mendudukkan Aisyah di kursi roda.
"Kamu jangan panik dan kamu harus tetap tenang," ujar Hana.
"Iya, Bu...."
Setelah itu Aisyah di bawa ke sebuah ruangan untuk diperiksa. Seorang bidan datang dan mengecek serviks Aisyah untuk mengetahui sudah pembukaan berapa.
"Baru pembukaan tiga ya, Bu," kata bidan sambil membuka sarung tangannya.
Setelah itu, bidan tersebut menempelkan alat fetal Doppler di perut Aisyah dan mendengarkan suara detak jantung si jabang bayi.
"Bagus. Ibu akan kami pindahkan ke kamar inap dulu, sambil menunggu pembukaannya maju."
Jika kontraksinya menghilang, maka Aisyah akan jalan-jalan di dalam kamar atau duduk di birthing ball.
"Kak...." Aisyah merasakan lagi kontraksinya, Byan kemudian memeluk Aisyah yang tengah duduk di birthing ball.
"Sayang... Kalau kamu nggak kuat, bagaimana kalau di Caesar saja."
Aisyah menggelengkan kepalanya. "Nggak mau, kak. Aku pengen melahirkan normal saja."
Sudah hampir tiga jam Aisyah merasakan kontraksi yang silih berganti. Dokter Azizah kini sudah sampai di rumah sakit. Beliau segera memeriksa keadaan Aisyah.
"Hallo... Bu Ais," sapa dokter Azizah, yang datang bersama suster.
"Silahkan ibu Ais berbaring. Saya mau mengecek pembukaannya," sambung dokter Azizah.
Aisyah yang tadinya duduk, langsung membaringkan tubuhnya.
"Lututnya ditekuk ya dan tahan nafas," perintah dokter Azizah.
Aisyah pun menuruti perkataan dokter Azizah, kemudian dokter Azizah memasukkan jarinya ke dalam serviks Aisyah.
"Bagus, pembukaannya sudah maju dan sekarang sudah pembukaan enam. Ibu yang sabar ya, karena harus menunggu pembukaan sepuluh dulu. Kalau ibu Ais masih kuat untuk berjalan, ibu boleh berjalan-jalan dulu." Imbuh dokter Azizah, yang dianggukin oleh Aisyah.
Setelah itu dokter Azizah keluar dari kamar. Aisyah yang masih sanggup untuk berjalan, ia memilih mondar-mandir dan jika kontraksinya datang maka Aisyah memeluk Byan.
Aisyah kini sudah berkeringat dan rasa sakit di perutnya semakin sering.
"Ibu... Ais mohon doanya dari ibu. Semoga persalinan Ais berjalan lancar. Bu... Maafin Ais jika Ais punya salah." Aisyah berkata lirih.
"Iya, nak. Ibu doakan semoga Ais melahirkannya dipermudah dan lancar."
__ADS_1
Aisyah lalu menarik tangan Hana dan mencium tangan Hana penuh takzim.
"Aaahh...." Aisyah meringis sambil meneteskan air matanya.
Ternyata melahirkan itu penuh perjuangan dan harus melewati masa-masa kontraksi yang membuatnya harus bersabar menahan rasa sakit di perutnya. Hingga rasa sakit itu semakin lama semakin sering.
"Kak... Tolong panggilkan dokter," pinta Aisyah dan Byan segera memanggil dokter Azizah.
Kini dokter Azizah sudah di kamar inap Aisyah dan tengah mengecek pembukaannya. Dokter Azizah manggut-manggut, lalu dokter Azizah membuka sarung tangannya.
"Sus, bawa ibu Aisyah ke ruang VK," perintah dokter Azizah, yang langsung dianggukin oleh suster.
"Sudah pembukaan berapa, dok?" Tanya Hana
"Sudah pembukaan delapan dan sekarang ibu Ais akan kami bawa ke ruang bersalin."
Byan, Hana dan Aries mengikuti Aisyah ke ruang VK. Dokter Azizah ditemani oleh suster dan satu bidan.
"Buka saja celana segitiganya," suruh dokter Azizah kepada suster.
"Baik, dok."
"Ibu Ais, jangan mengejan dulu ya. Karena pembukaannya belum sempurna. "
Aisyah mengangguk. Sebisa mungkin Aisyah tidak mengejan dulu, walau dorongan dari dalam perutnya terus semakin kuat.
"Dok...." Ringis Aisyah yang sudah tidak sanggup menahan dorongan dari perutnya.
"Tahan dulu ya, Bu. Tunggu pembukaannya sempurna."
Aisyah semakin meringis dan tetap menahan diri agar tidak mengejan. Byan yang sejak tadi disampingnya hanya bisa berdoa. Sesekali Byan mengelap keringat Aisyah yang bercucuran.
"Dok, cepat keluarkan bayinya...." Akhirnya Byan tidak tega melihat Aisyah kesakitan menahan kontraksi.
"Sabar ya, pak. Saya akan cek lagi," jawab dokter Azizah.
"Sayang... Kamu harus kuat." Bisik Byan.
"Oke, ibu Ais. Pembukaannya sudah sempurna. Jika ibu mulai merasakan kontraksi, ibu boleh mengejanya."
Kini kontraksinya datang dan Aisyah mulai mengejanya sekuat tenaga.
"Iya, pintar. Terus dorong...."
"Huuuh... Huuuh...." Aisyah berhenti mengejan dan menarik nafas dalam-dalam.
"Kalau lagi mengejan jangan tutup mata dan ibu harus fokus ke arah perut. Ayo, mulai lagi."
Aisyah mengarahkan seluruh tenaganya dan mengejan penuh semangat agar dirinya bisa secepatnya bertemu dengan buah hatinya.
"Sayang... Ayo, kamu pasti bisa," bisik Byan sambil mengangkat punggung Aisyah.
"Aaahh...." Aisyah terus dan terus mengejan.
"Ayo terus dorong, kepalanya sudah kelihatan," ujar dokter Azizah.
"Dok apa perlu episiotomi," kata bidan.
"Tidak perlu."
Hampir dua puluh menit Aisyah berjuang melahirkan sang buah hati, kini Aisyah mengejan untuk yang terakhir.
"Ayo, Bu Ais semangat," ucap suster.
__ADS_1
Dokter Azizah kini berhasil mengeluarkan bayi laki-laki dan seketika ruangan tersebut dipenuhi dengan tangisan seorang bayi.