
"Berhenti...!!" Teriak Revan.
Revan langsung menarik baju lelaki itu hingga terdengar suara robekan dari bajunya. Revan menghajarnya, begitupun dengan lelaki itu yang tidak mau kalah.
Revan yang memang jago beladiri, mengalahkan tikus kecil seperti lelaki itu dengan sangat mudah.
Bugh Bugh Bugh.
Revan terus menghajarnya, walau lelaki itu juga melawannya dan akhirnya Revan berhasil mengalahkan lelaki itu.
"Mau kari kemana elo!!" Teriak Revan kepada lelaki itu yang kini tunggang-langgang masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya meninggalkan Revan.
Revan mendekati Difa yang tengah jongkok sambil menangis karena dirinya hampir saja jadi korban pemerkosaan.
Revan jongkok dan mengelus punggung Difa yang bergetar. "Sudah jangan nangis. Lelaki itu sudah pergi," ucap Revan menenangkan Difa.
Difa yang masih ketakutan, refleks memukul kepala Revan menggunakan kunci roda mobil.
Pletak.
"Aaww...." Ringis Revan memegangi kepalanya yang dipukul oleh Difa.
"Eh! Sudah ditolongin. Ini malah pukul kepala gue," sungut Revan.
Difa tidak peduli dengan gerutuan Revan, kemudian Difa bangun dan menundukkan kepalanya.
"Maaf. Aku pikir lelaki yang tadi," ucap Difa pelan.
"Hmm...." Jawab Revan malas.
"Kenapa kamu sampai diganggu sama lelaki tadi," lanjut Revan bertanya.
"Ban mobilku kempes dan saat sedang mengendurkan bautnya, lelaki tadi datang. Bukannya membantu aku, justru melecehkan aku," jawab Difa dengan suara pelan.
"Oh...."
Revan kemudian mengecek ban mobil Difa, lalu Revan membantu mengganti ban mobilnya.
"Sudah beres. Lain kali kamu harus hati-hati," ucap Revan sambil membereskan dongkrak mobil.
"Iya...."
Setelah semuanya selesai, Difa langsung tancap gas meninggalkan Revan seorang diri.
"Aku pikir tuh cewek bakal bilang terima kasih," cibir Revan.
***
__ADS_1
Di tempat yang berbeda, Byan saat ini tengah mengelus perut Aisyah. Byan sangat bahagia karena di dalam perut Aisyah ada buah hatinya, anak kandungnya.
Byan terus menerus menciumi perut Aisyah. "Baik-baik di perut mama ya, Sayang," ucap Byan sambil mengelusnya.
Aisyah tersenyum melihat tingkah Byan dan mengusap kepala Byan. Aku
"Kak, nanti kalau dia sudah lahir, apa kasih sayang kakak terhadap Afkar akan berubah. Secara Afkar bukan anak kandung kakak."
Byan kemudian menegakkan tubuhnya dan membawa tubuh Aisyah ke dalam dekapannya.
"Kasih sayang aku sama Afkar nggak akan pernah berubah. Bagiku Afkar adalah anak pertamaku dan sampai kapanpun tidak akan berubah. Jadi kamu nggak usah berpikir kalau aku akan membedakan antara Afkar dan anak kandungku. Bagiku mereka berdua sama saja. Sama-sama anakku."
Aisyah tersenyum lega. Apa yang tadi ia pikirkan menjadi ketakutannya sendiri. Ya... Aisyah takut kalau Byan tidak akan lagi sayang sama Afkar.
"O ya, besokkan tanggal merah. Kamu mau jalan-jalan kemana?" Tanya Byan sambil mengelus pipi Aisyah.
"Terserah kakak. Aku ikut saja."
Byan mangut-mangut dan sambil berpikir mau pergi kemana. Tiba-tiba Byan teringat dengan permintaan Dafa, yang ingin mengajak anaknya pergi ke pantai.
Sip, mungkin pergi ke pantai adalah destinasi yang bagus, pikir Byan. Sekaligus mengabulkan permintaan terakhir Dafa.
Keesokan harinya, Byan, Aisyah dan Afkar bersiap-siap untuk berangkat ke pantai. Sebelum berangkat Byan mengambil kotak yang berisi sweater couple dan memasukkannya ke dalam tas.
Byan tersenyum melihat Afkar yang terlihat keren dengan kemeja, celana pendek dan topi, tidak ketinggalan dengan kacamatanya.
"Sudah," jawab Aisyah. Lalu mereka bertiga segera berangkat.
Afkar berteriak-teriak lucu, seolah tahu kalau hari ini dia mau jalan-jalan.
"Seneng banget nih anak papa," ujar Byan.
"Aahhh...!!" Teriak Afkar penuh semangat.
Kurang lebih satu jam perjalanan menuju pantai dan kini mereka bertiga sudah berada di parkiran pantai.
Byan menggendong Afkar dan menggandeng tangan Aisyah. Lalu berjalan menuju ke arah pantai. Sesampainya di tepi pantai, Byan dan Afkar langsung menuju air laut yang tersapu ke tepi pantai. Byan mendudukkan Afkar di pasir dan membiarkan Afkar bermain pasir.
Sedangkan Aisyah duduk di bawah payung besar sambil memantau kedua lelakinya itu.
Aisyah tersenyum senang melihat Byan yang begitu sangat menyayangi Afkar dan berharap kasih sayang Byan tidak akan pernah pudar dan berubah.
Ketika ombak datang ke tepi pantai dan membasahi Afkar yang tengah duduk. Afkar langsung berpegangan kepada Byan.
"Jangan takut, Nak," ucap Byan lembut. "Lihat nih papa." Byan menunjukkan mengambil air dan membasahi tangannya. Akan tetapi Afkar tetap ketakutan dan semakin erat memeluk tangan Byan.
Karena merasa kasihan dan tak tega, Byan membawa Afkar ke arah Aisyah.
__ADS_1
"Afkar takut ombak," lapor Byan kepada Aisyah.
"Mungkin karena Afkar baru pertama kalinya terkena ombak, jadinya Afkar takut."
"Mungkin juga," tukas Byan.
Lalu Byan mendudukkan Afkar di kursi pantai dan memberikannya kacamata sebagai mainannya.
"Sayang, nanti kita nginep di penginapan yang dulu. Mau kan?"
" Boleh. Lagian aku juga ingin lihat sunset dan sunrise. Dulu aku nggak sempat lihat sunrise, gara-gara bangunnya kesiangan."
Karena hari semakin siang dan cuaca juga semakin terik. Byan mengajak Aisyah dan Afkar ke tempat penginapan dan beristirahat sejenak.
Sore harinya Byan kembali ke pantai hanya untuk melihat sunset. Sambil minum kelapa muda Byan dan Aisyah melihat sunset yang kini berubah berwarna jingga kemerah-merahan.
"Kak, kamu tahu nggak Kenapa aku suka lihat sunset?" Seloroh Aisyah.
"Kenapa memangnya?"
"Karena warna senja itu sangat memukau. Dari langit yang biru berubah kemerah-merahan dan itu sangat kontras dengan warna di langit. Makanya aku suka lihat warna senja dan aku merasakan akan kedamaian melihatnya."
"Aku juga, tapi bukan senja yang saat ini yang tengah kita pandangin. Melainkan aku ingin bersamamu sampai kita senja nanti."
Aisyah tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu Byan.
"Pppaaappaap... Pap," celoteh Afkar, yang seolah ingin ikut nimbrung dalam obrolan orang tuanya.
"Kayaknya Afkar juga suka senja," cetus Byan sambil mendaratkan ciuman di pipi gembul Afkar.
Selesai melihat sunset, Byan mengeluarkan sweater couple dan memakainya kepada Afkar. Aisyah tertegun melihat sweater tersebut, mengingatkan dirinya kepada Dafa.
"Sayang, pakai sweaternya." Byan memberikannya kepada Aisyah yang terlihat berubah muram.
"Kenapa?" Tanya Byan.
"Sweater ini mengingatkan aku kepada...."
"Dafa." Cetus Byan dan Aisyah mengangguk.
"Kok! Kakak tahu?"
"Karena sweater ini dari Dafa. Dia memberikannya kepadaku sebelum Dafa mendonorkan hatinya untukmu." Byan menghela nafasnya, mengingat kembali obrolan terakhirnya dengan Dafa.
"Dafa berpesan kepadaku, kalau dia ingin memakai sweater ini dengan kalian berdua, tapi karena keadaan yang tidak mungkin terwujud, maka dari itu aku memenuhi permintaannya sekarang. Mewujudkan satu persatu impiannya. Salah satunya dia memintaku mengenakan sweater ini."
Setetes air mata lolos dari pelupuk matanya Aisyah. Seketika hatinya merasa bersalah saat dulu menolak sweater ini.
__ADS_1
Maafkan aku, Dafa. Semoga kamu senang melihat aku dan Afkar memakai sweater ini. Tersenyumlah kamu di sana.