
Aisyah menatap sendu barang pemberian darinya, yang telah Dafa buang di depan matanya, tapi ternyata barang-barang tersebut tidak benar-benar dibuang.
Satu persatu barang pemberian darinya di keluarkan oleh Aisyah. Sungguh Aisyah tidak menyangka kalau Dafa menyimpannya, bahkan Aisyah sendiri sudah lupa dengan barang tersebut.
Melihat barang-barang tersebut, mengingatkan lagi memori masa lalu. Dimana Aisyah remaja sangat menyukai Dafa dan selalu berandai-andai bisa hidup bersama dengannya.
Awalnya Aisyah remaja menyukai Dafa dalam diam, tapi lama kelamaan perasaan Aisyah semakin tumbuh subur didalam hatinya. Hingga suatu hari Aisyah remaja memberanikan diri untuk mengatakan kalau dirinya suka sama Dafa.
"Dafa, aku suka sama kamu." Ungkap Aisyah, sambil mengulurkan coklat kepada Dafa.
"Maaf ya, aku nggak bisa terima kamu."
"Kenapa?"
"Karena aku nggak cinta sama!" Tegas Dafa kala itu. "Kamu nggak usah ngejar-ngejar aku lagi, karena sampai kapanpun aku nggak akan terima kamu."
Sejak hari itu Aisyah remaja bukannya berhenti mencintai Dafa, justru Aisyah semakin sering menunjukkan rasa sukanya lewat cara memberikan barang-barang untuk Dafa dan barang tersebut selalu berakhir di tempat sampah.
Penolakan demi penolakan, membuat Aisyah untuk berhenti dan tidak lagi menunjukkan rasa sukanya dan Aisyah memilih menyimpan perasaannya di dalam hatinya.
Aisyah menyeka air matanya yang terus berlinang membasahi pipinya. Byan mengelus punggung Aisyah, mencoba memberikan kekuatan kepada Aisyah agar tidak begitu bersedih.
"Jadi Da-fa sudah pe-pergi untuk s-selamanya?" ucap Aisyah sesegukan.
"Iya." Jawab Byan dan Byan pun menceritakan semua tentang Dafa kepada Aisyah tanpa terlewatkan sedikitpun.
Tangis Aisyah semakin pecah mendengar cerita Dafa, yang begitu tulus mendonorkan hatinya untuknya.
"Kak... Ajak aku pergi ke makam Dafa. Aku mau mengucapkan terima kasihku kepadanya," kata Aisyah sambil terus menangis.
"Iya. Nanti kalau kamu sudah diperbolehkan pulang, kita langsung pergi ke makam Dafa."
***
Setelah berhari-hari lamanya Aisyah di rawat, kini Aisyah sudah diperbolehkan pulang. Sedangkan baby Afkar sudah pulang lebih dulu beberapa hari yang lalu.
Senyum manis Aisyah terpancar dari bibirnya. Aisyah sangat senang karena sebentar lagi pulang ke rumah, terutama Aisyah sudah sangat merindukan buah hatinya.
Sesuai dengan rencananya, Aisyah dan Byan terlebih dahulu pergi ke makam Dafa dan disinilah sekarang. Didepan makam Dafa, Aisyah memanjatkan doa untuk Dafa. Semoga Dafa ditempatkan disisi-Nya.
Dengan tatapan sendu, Aisyah menaburkan bunga diatas pusara Dafa.
__ADS_1
Dafa... Terima kasih karena kamu sudah memberikan hatimu untukku. Aku janji akan menjaga hati ini dengan sebaik-baiknya.
Dafa... Tidurlah dengan damai di alam surga. Aku dan kak Byan akan selalu menjaga dan merawat anak kita.
Dafa... Namamu akan aku simpan di bagian hati yang terdalam dan akan selalu ku kenang disepanjang hidupku.
Semoga kamu bahagia di alam surga dan semoga kamu mendapatkan tempat terindah di surga-Nya Allah.
Aku juga minta maaf, karena aku juga sering mengabaikan kamu dan mengacuhkan kamu.
Aisyah menyusut air matanya yang terus mengalir. Aisyah mengelus-elus papan nisan Dafa. Aisyah belum percaya kalau Dafa sudah pergi meninggalkan dunia ini.
Byan mengelus punggung Aisyah yang bergetar hebat. Dihadapan pusara Dafa, Byan berjanji akan terus menjaga dua kesayangannya Dafa.
Kemudian Aisyah bangkit dan menggandeng tangan Byan. Tatapannya masih begitu lekat terhadap makam Dafa.
"Kami pulang dulu dan aku janji jika aku datang kembali, aku akan mengajak baby Afkar ke sini. Sekali lagi terima kasih atas hati yang telah kamu berikan," ucap Aisyah.
Setelah itu Aisyah dan Byan melangkah meninggalkan tempat peristirahatan terakhir Dafa dan membawa sejuta harapan dengan hadirnya pemilik hati baru yang kini sudah berada di tubuh Aisyah.
***
Kepulangan Aisyah ke rumah orang tuanya disambut hangat oleh seluruh anggota keluarganya. Semuanya bersuka cita menyambut Aisyah yang kembali sehat. Tidak hanya keluarga, sahabat Aisyah dan Byan juga turut hadir menyambut Aisyah pulang.
"Selamat datang kembali ke rumah ini, sayang," ucap Hana sambil menggendong baby Afkar.
Kedua bola matanya berkaca-kaca dan pastinya rasa syukur tidak pernah berhenti Aisyah panjatkan. Pandangan Aisyah kini jatuh kepada sosok mungil yang sangat menggemaskan.
Aisyah yang sudah begitu merindukan baby Afkar, langsung menggendongnya dan mengecupi seluruh wajah anak tersayangnya.
"Mama kangen banget sama kamu, sayang," seloroh Aisyah yang terus menciumi pipi Afkar.
Byan merangkul pundak Aisyah dan juga mendaratkan kecupan manis di pipi baby Afkar. Lalu Aisyah dan Byan melangkah masuk ke dalam rumah.
Ternyata di dalam rumah, Hana mengundang anak yatim sebagai bentuk rasa syukur karena Aisyah sudah benar-benar sembuh dari penyakit yang selama ini di deritanya.
Aisyah dan Byan duduk bersama diantara keluarganya dan para sahabat sambil mengikuti kajian dari pak ustadz.
Selesai acara syukuran, Aditya dan Bella datang sekaligus untuk melepaskan rasa rindu terhadap cucu tercintanya.
Kali ini sikap Bella tidak seperti kemarin. Ia sudah berubah seperti biasanya. Mungkin karena kemarin-kemarin Bella masih sangat terpukul dengan kepergiannya Dafa .
__ADS_1
"Ais, maafin sikap mama kemarin ya," sesal Bella.
"Iya, ma. Ais juga minta maaf karena kemarin melarang mama bawa Afkar pulang." Bella mengangguk dan keduanya saling berpelukan.
Kini kebahagiaan Aisyah berlipat ganda. Mantan mertua sudah baik lagi dan sekarang dirinya juga sudah sehat lagi.
Dari kesemuanya yang hadir di rumah Aisyah. Ada tiga kelompok yang terbagi. Byan, Marshall dan ketiga sahabatnya memilih duduk di halaman belakang rumah. Aisyah juga dengan sahabatnya, yaitu Widia dan Zia dan terakhir kelompok Aries, Aditya dan istri-istrinya.
"Ih... Baby Afkar lucu banget sih," gemas Zia yang ingin sekali menguyel-uyel pipi baby Afkar.
"Repot nggak ya ngurus bayi?" Timpal Widia.
"Menurutku nggak, karena aku senang mengurus anakku. Bagiku anak itu sebagai pelipur hati," ujar Aisyah.
Tidak lama terdengar salam dari arah luar, dia adalah Difa. Difa langsung menyalami tangan Aries, Hana dan orang tuanya.
"Baru pulang kuliah, Fa?" Tanya Hana.
"Iya, Tante. Difa ke Ais dulu ya, mau gendong baby Afkar."
Hana mengangguk dan Difa bergegas menuju Aisyah. Difa langsung duduk di dekat Aisyah.
"Ais, aku mau gendong dong."
"Boleh." Aisyah langsung memindahkan baby Afkar ke gendongan Difa.
"Uluh-uluh... Sekarang makin Ndut aja keponakan aunty," ujar Difa dan tak lupa Difa mendaratkan kecupan di pipi baby Afkar.
Aisyah kemudian melanjutkan pembicaraannya dengan Zia dan Widia. Pembicaraannya kali ini bukan lagi membahas bayi melainkan membahas pacar Zia.
"Jadi kamu putus sama pacar kamu?" Kata Aisyah.
"Iya. Sakit tahu, Ais. Aku nggak nyangka kalau dia selingkuh dibelakangku," ujar Zia, yang terlihat sedih.
"Jangan sedih, nanti kamu bakal dapat ganti yang lebih baik dari dia," timpal Widia sambil menepuk pundak Zia.
Aisyah ikut sedih melihat Zia yang diselingkuhi oleh pacarnya. Karena Aisyah pernah merasakan berada di posisi Zia.
"Ais, aku mau ke toilet dulu," ujar Difa yang memindahkan baby Afkar ke gendongan Aisyah.
Difa cepat-cepat melangkah ke arah kamar mandi yang dekat dengan dapur. Selesai buang air kecil, Difa memilih mengambil air minum yang sudah tersedia di meja makan.
__ADS_1
Dhika yang juga haus langsung terpana begitu melihat Difa yang tengah minum. Jiwa playboynya meronta-ronta ingin merayu gadis cantik yang tengah minum dengan anggun.