
Siang itu Byan meminta Aisyah datang ke rumah sakit. Byan sudah menunggu Aisyah di depan pintu masuk rumah sakit. Kini Aisyah sudah sampai di rumah sakit dan Byan segera mengajak Aisyah bertemu dengan papinya.
Sesampainya di depan kamar inap Pak Sanjaya. Aisyah menggenggam erat tangan Byan. Aisyah tiba-tiba saja di serang rasa gugup.
"Nggak usah gugup. Papi kan sudah merestui kita," ucap Byan, menenangkan Aisyah.
"Iya, kak." Jawab Aisyah pelan.
Kemudian Byan membuka pintunya dan melangkah masuk bersama Aisyah.
Aisyah berdiri di belakang tubuh Byan, rasa gugup dan takut Aisyah rasakan menjadi satu. Mengingat pertemuan terakhirnya, Pak Sanjaya begitu murka kepada dirinya juga Byan.
Mami Yuyun terlihat senang melihat menantunya itu. Sedangkan Pak Sanjaya menatap bingung melihat Aisyah yang bersembunyi dibalik tubuh Byan.
"By... Ajak kemari istri kamu," pinta Pak Sanjaya.
"Ayo, sayang," ujar Byan mendekati ranjang pak Sanjaya.
Dengan ragu-ragu, Aisyah berdiri di samping Byan sambil menundukkan kepalanya. Aisyah tidak berani menatap wajah Pak Sanjaya.
"Nak... Nggak usah takut. Papi nggak akan memakan kamu." Gurau pak Sanjaya.
Aisyah memberanikan mengangkat kepalanya dan menatap wajah Pak Sanjaya yang kini tengah tersenyum kepadanya.
"Ais, terima kasih sudah mau datang ketemu sama papi. Papi cuma mau bilang maaf, karena papi sudah menentang keras pernikahan kalian. Nggak seharusnya papi melarang kalian menikah. Jadi maafin papi...."
"Pa-papi nggak perlu minta maaf. Wajarlah kalau papi melarang kami menikah. Pasti ada alasan lain sehingga papi melarang kami menikah waktu itu."
"Iya, papi memang punya alasan karena waktu itu Byan sudah papi jodohkan dengan anak teman papi, tapi ternyata Byan justru memilih menikahimu. Papi merasa dibohongi dan di kecewakan sama Byan, karena Byan tidak memberitahu papi kalau kalian akan menikah dalam waktu cepat."
__ADS_1
"Maafin kami, Pi...."
Aisyah bertambah bersalah, andai saja waktu itu Byan memberitahunya, mungkin mertuanya itu tidak begitu kecewa terlalu dalam.
"Tapi itu sudah berlalu dan sekarang papi sudah merestui pernikahan kalian. Rasanya papi sudah begitu jahat sama kalian. Sekarang harapannya papi ingin terus melihat kalian berdua bahagia."
Aisyah sangat bahagia, akhirnya papinya Byan merestui pernikahannya. Aisyah kemudian mencium tangan Pak Sanjaya dengan takzim.
"Terima kasih, Pi. Sudah merestui kami," ucap Aisyah sumringah. Sekarang, satu persatu kebahagiaannya ia raih penuh suka cita dan Aisyah terus berharap kebahagiaan ini jangan cepat berlalu.
Mami Yuyun mengelus lengan suaminya. Mami Yuyun juga tak henti-hentinya berucap syukur karena semuanya sudah saling memaafkan dan kembali hidup rukun. Sesuai dengan keinginannya selama ini.
Selesai pembicaraan dengan Pak Sanjaya. Aisyah diajak duduk bersama dengan Mami Yuyun.
"Gimana keadaan kamu sekarang?" Tanya Mami Yuyun.
"Alhamdulillah sudah jauh lebih baik, mi."
"Iya, nggak apa-apa, mi."
"Nanti kalau papimu sudah sembuh, mami akan ajak papi bertemu dengan anakmu." Aisyah mengangguk senang.
***
Aisyah dan Byan kini sudah berada di rumah orang tuanya Aisyah. Byan saat ini tengah menimang-nimang baby Afkar. Sedangkan Aisyah baru saja selesai mandi.
"Sayang, mungkin Minggu depan aku akan lebih sibuk di kantor. Tadi papi meminta aku untuk mengurus perusahaan papi yang saat ini tengah mengalami masalah."
"Iya, nggak apa-apa kok. Aku nggak mempermasalahkannya, yang penting kakak harus jaga kesehatan."
__ADS_1
"Mudah-mudahan permasalahan perusahaan papi tidak begitu rumit," lanjut Aisyah.
"Mudah-mudahan sih begitu," timpal Byan.
"Malam ini kakak mau nginep lagi di rumah sakit?"
"Iya, kasihan mami kalau harus jagain papi sendirian." Aisyah pun mengangguk setuju.
Sebelum menjelang malam, Byan sudah bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit. Byan kemudian mendekati Aisyah yang tengah duduk sambil mengASIhi Baby Afkar.
"Sudah tidur belum?"
"Sudah. Kenapa memangnya?" Jawab Aisyah bingung. Lalu Byan mengambil baby Afkar dan dibaringkan di atas ranjang.
"Aku butuh amunisi dari kamu," bisik Byan.
Aisyah kemudian mencubit lengan Byan dengan wajah bersemu merah. Lalu Byan membawa tubuh Aisyah ke pangkuannya dan mencium bibir ranum Aisyah. Byan begitu rakus menciumi bibir Aisyah. Tangan Aisyah menekan kepala Byan, agar Byan semakin memperdalam ciumannya.
Ciuman Byan kini turun ke ceruk leher Aisyah dan menciumi setiap jengkal kulit leher Aisyah.
"Aaahh...." Tanpa sadar Aisyah mengeluarkan suara desa hannya dan hal itu semakin memancing ga irah Byan.
Niat awal hanya sekedar ciuman lembut dan sebentar, tapi kini ciuman itu semakin memanas.
Ciuman Byan kini bergerak ke belahan dada Aisyah dan Aisyah semakin menekan kepala Byan.
"Oek... Oek... Oek...."
Suara tangisan baby Afkar menghentikan kegiatan panas yang mulai tercipta. Aisyah dan Byan saling tertawa karena tangisan baby Afkar seperti sebuah alarm agar tidak melakukan ke hal yang lebih membara.
__ADS_1
"Tau saja kalau papa sama Mama belum boleh melakukannya," ujar Byan.
Aisyah segera menggendong baby Afkar dan Byan langsung pamit untuk berangkat ke rumah sakit.