
Aisyah menatap sendu makam Dafa. Lelaki yang pernah mengisi hatinya, kini sudah tertidur damai di alam sana. Lelaki yang kini sudah memberinya seorang malaikat kecil yang menggemaskan.
Walau Dafa selalu menolak akan cintanya, bahkan pernikahan yang berakhir penuh luka. Aisyah akan tetap terus mengenang sosok Dafa. Apalagi disaat dirinya tidak ada harapan untuk hidup dan diambang Kematian, justru Dafa datang menolongnya dan memberikan hal berharganya untuk dirinya. Mengorbankan nyawanya hanya untuknya.
Sebagai hadiah terakhir darinya, Aisyah meletakkan sebuket bunga di atas makam Dafa dan Byan mendekatkan Afkar ke nisan untuk menciumnya.
Setelah itu Byan dan Aisyah mengirimkan doa untuk Dafa yang sudah tertidur abadi.
Aisyah, Byan dan si kecil Afkar kini meninggalkan makam Dafa. Seraya membawa sejuta harapan untuk semuanya. Harapan yang akan membawanya menuju kebahagiaan.
***
"Papa... Uyang...!" Afkar berlari kecil menyongsong Byan pulang. Byan langsung menangkap tubuh lelaki kecil itu ke dalam gendongannya dan mencium pipi Afkar.
Sekarang usia Afkar sudah satu tahun lebih dua bulan dan kehamilan Aisyah sudah sembilan bulan. Byan juga memperkerjakan suster untuk menjaga Afkar, agar Aisyah lebih fokus kepada kehamilannya dan pastinya tidak ingin melihat Aisyah kelelahan mengurus Afkar. Apalagi diusia Afkar yang sekarang, tengah aktif-aktifnya bermain kesana kemari.
"Papa... Nnih ppah?" Tanya Afkar sambil menunjuk paper bag di tangan Byan. Diusianya yang sekarang, Afkar sudah pandai dalam berbicara, walau bicaranya belum begitu jelas dan masih belepotan. Afkar juga memiliki rasa keingintahuan yang besar jika melihat sesuatu yang baru.
"Ini...." Byan mengangkat paper bag tersebut, yang langsung dianggukin oleh Afkar.
"Kira-kira Papa bawa apa, ya....." Kata Byan dan Afkar semakin penasaran. "Tara...!!" Byan mengeluarkan mainan mobil-mobilan yang menggunakan remote control.
Afkar terkejut dengan mimik wajah yang sangat lucu. Setelah itu Afkar minta turun dari gendongan Byan. Afkar jingkrak-jingkrak kesenangan mendapatkan mainan baru. Afkar langsung mengambil mobil-mobilan dari tangan Byan dan duduk untuk membuka kardusnya.
"Sini, papa ajarin cara mainnya."
Byan pun mengajarkan Afkar menjalankan mobil-mobilannya dengan remote control. Afkar bertambah kegirangan melihat mobilnya melaju cepat.
"Afkar... Sudah mainnya. Biarkan papa istirahat dulu, kasihan papa kan baru pulang." Aisyah menegur Afkar dan berlari kecil mengambil mobil-mobilannya.
"Jangan di tegur. Kasihan Afkar. Lagian aku juga nggak capek, justru aku senang." jawab Byan sambil mengusap perut besar Aisyah, kemudian merangkul pinggang Aisyah.
"Iya, walau kata kakak nggak capek, tapi tetap saja seharian bekerja di kantor pasti bikin kakak capek."
"Iya-iya!" Byan memilih mengiyakan saja.
Afkar datang dan meminta di gendongan dan Byan pun langsung menggendong Afkar.
Sesampainya di kamar Byan menurunkan Afkar di atas ranjang.
"Papa mandi dulu ya...." Ucap Byan seraya mengelus kepala Afkar.
"Ntuuut...." Pinta Afkar untuk ikut mandi bersama.
"Afkar kan sudah mandi," timpal Aisyah, yang lebih tepatnya melarang Afkar untuk ikut mandi. Kalau Afkar ikut mandi, pasti dua lelakinya itu bakal sejam lebih berada di kamar mandi.
__ADS_1
"Besok saja ya sayang mandi barengnya."
Afkar langsung mengerucutkan bibirnya. Aisyah yang melihat Afkar ngambek segera mendekatinya dan memilih mengalihkan marahnya dengan mainan barunya.
Malam harinya, keluarga kecil ini kedatangan tamu. Siapa lagi kalau bukan Revan.
"Afkar!!" Seru Revan dan langsung menggendong Afkar. Revan datang sembari membawa makan kesukaan Afkar. Lalu Revan duduk di sofa sambil memangku Afkar.
"Sudah sejauh mana persiapannya?" Tanya Byan.
"Sudah sembilan puluh persen," jawab Revan sambil menurunkan Afkar.
"Oh...."
"Besok kamu dan Ais datang ya ke butik. Fitting seragam mumpung masih ada waktu jika seragamnya nggak pas," tukas Revan.
Lelaki berusia 33 tahun ini akan melepaskan masa lajangnya dan ia akan menikah dengan wanita pujaan hatinya, yaitu Difa. Ya... Akhirnya Revan berhasil menaklukkan seorang Difa yang memiliki sifat dingin terhadap lawan jenisnya. Entah dengan cara apa Revan bisa meluluhkan hatinya Difa dan bersedia menikah dengan Revan.
"Oke... Besok aku dan Ais akan datang ke butik."
Sesuai apa yang disuruh Revan, Byan dan Aisyah pergi ke butik esok harinya.
Seluruh keluarga dari Mami Yuyun kini sudah berada di butik. Aisyah saat ini tengah mencoba seragam yang akan dikenakan saat resepsi.
Walau sudah lama menikah, Aisyah selalu tersipu jika suami tercintanya memujinya.
"Ais, perut kamu sudah terlihat turun," ujar Tante Wenti, adik nomor dua Mami Yuyun.
"Iya, Tan. Soalnya sekarang sudah sembilan bulan," jawab Aisyah sembari mengelus perutnya.
"Semoga pas kamu lahiran, semuanya dilancarkan dan pastinya kamu dan calon anakmu sehat."
"Aamiin...."
"Rencananya mau lahiran normal atau Caesar?"
"Pengennya sih normal." Tante Wenti manggut-manggut.
Selesai fitting seragam buat nikahan Revan. Byan dan Aisyah mencari makan terlebih dahulu. Restoran yang dipilih adalah makanan siap saji.
Sambil menunggu Byan membawa makanannya, Aisyah mengajak Afkar bermain di arena bermain yang ada di dalam restoran tersebut.
Aisyah memalingkan wajahnya ke arah Byan dan Aisyah mengerutkan keningnya ketika seorang perempuan menghampiri Byan.
"Siapa perempuan itu? Tunggu! Sepertinya aku pernah melihatnya?" Aisyah mengingat-ingat kembali perempuan yang tengah berbicara dengan Byan.
__ADS_1
Karena penasaran dan pastinya rasa cemburunya kini hadir. Aisyah membawa Afkar mendekati Byan.
"Kak By...."
Byan dan perempuan itu menoleh kearahnya. "Dia siapa?" Tanya perempuan itu kepada Byan.
"Istriku," jawab Byan seraya menggendong Afkar.
"Oh...."
Tatapan perempuan itu terlihat tidak suka terhadap Aisyah. Kemudian Aisyah melingkarkan tangannya posesif di lengan Byan. Dari pengelihatan Aisyah, perempuan yang ada didepannya ini sepertinya menyukai Byan.
"Sayang, giliran kita," ujar Aisyah, yang langsung menggandeng Byan ke depan kasir, sekaligus memesan makanannya. Perempuan itu mendengus kesal karena Aisyah menarik Byan. Padahal dirinya masih ingin berbicara banyak dengan Byan.
"Siapa perempuan itu," bisik Aisyah, sambil melirik perempuan tadi yang kembali duduk di mejanya.
"Dia Hanum, teman SMA aku."
"Oh ... Pantes kayak pernah lihat tuh cewek. Ternyata teman sekolah kakak."
"Iya... Kamu ingat mantan pacarnya Marshall?"
"Mm... Kalau nggak salah Liora kan?"
"Iya dan Hanum teman gengnya Liora."
Aisyah manggut-manggut. Aisyah jadi teringat kalau Liora dulu pernah terkena kasus perundangan terhadap Zee. Kira-kira nasibnya seperti apa sekarang?
Selesai memesan makanan, Byan dan Aisyah langsung duduk dan memakannya.
Aisyah terus saja menatap tajam kearah Hanum yang masih duduk di mejanya. Tidak peduli jika Hanum membencinya, yang jelas Aisyah tidak akan pernah memberikan celah kepada pelakor-pelakor yang bisa saja merusak rumah tangganya.
"Mama...." Panggil Afkar yang meminta disuapin, tapi Aisyah terus saja menatap Hanum.
"Sayang... Afkar minta disuapin tuh." Byan menyentuh lengan Aisyah.
"Ah! Iya... Kenapa?" Jawab Aisyah gelagapan.
"Afkar minta disuapin." Byan mengulangi ucapannya.
"Oh iya...."
Aisyah langsung menyuapi Afkar, tapi sesekali Aisyah melirik sinis wajah Hanum yang tengah ngeliatin Byan.
Dasar perempuan ganjen! Nggak lihat apa kalau lelaki yang tengah dipandangnya sudah punya istri. Apa dia nggak lihat kalau istrinya tengah hamil besar. Kayaknya tuh matanya perlu dicolok pakai sedotan! Kesel aku lihatnya!
__ADS_1