
Lengkap sudah kebahagiaan keluarga Aries yang sebentar lagi akan mendapatkan dua cucu dalam waktu dekat. Senyum terus tersungging di bibirnya, manakala melihat putrinya dan menantunya. Setelah puas berjingkrak-jingkrak dengan besannya, Aries kemudian mendekati Aisyah dan Zee. Aries langsung memeluk keduanya dengan sangat sayang. Aries juga memberikan kecupan manis di kening Aisyah dan Zee.
Aries berharap kandungan kedua putrinya selalu di beri kesehatan dan di lancarkan persalinannya nanti.
Ayah Haris juga tidak mau kalah dengan Aries, lalu ayah Haris menyingkirkan tubuh Aries dari Zee.
"Jangan lama-lama deket sama Zee. Aku nggak mau nanti cucuku ketularan sengklek kayak kamu," cetus ayah Haris tanpa filter.
"Sembarangan kamu ngatain aku sengklek!" Sungut Aries tak terima, lalu Aries mendorong bahu ayah Haris.
"Aku harap cucuku nggak menurunkan sifat jelekmu, apalagi hidungmu yang super pesek." Lanjut Aries, sembari tertawa terbahak-bahak.
"Eh! Hidungku tuh nggak pesek, tapi minimalis." Sanggah ayah Haris.
"Iya, minimalis alias super pesek alias mancung ke dalam," balas Aries masih dengan gelak tawanya.
Kesal karena diledekin terus sama Aries, kemudian ayah Haris mengunci leher Aries dan merubuhkan tubuhnya Aris ke karpet. Dou RIS saling mengunci tubuh lawan dan keduanya tidak mau kalah.
Semua yang melihat kelakuan Aries dan ayah Haris menggelengkan kepalanya.
Keesokan harinya, seperti biasa Aisyah selalu menyiapkan semua perlengkapan kerja buat Byan dan Aisyah juga sudah membuat sarapan.
"Kak, nanti siang aku sama kak Zee mau belanja kebutuhan bulanan ke mal," kata Aisyah.
"Iya, tapi ingat jangan terlalu lelah."
"Iya, kak."
Byan dan Aisyah selesai sarapan dan Aisyah bergegas mengantarkan Byan sampai depan pintu.
Sebelum berangkat kerja, Byan selalu mencium kening Aisyah dan mencium perut Aisyah. "jaga Mama ya, sayang," bisik Byan ke calon buah hatinya.
"Aku berangkat dulu ya," pamit Byan, sembari mengusap pipinya Aisyah yang semakin berisi.
__ADS_1
"Iya, kak. Hati-hati dijalan."
Byan pun segera naik mobil dan melambaikan tangannya kepada istri tercintanya.
Aisyah pun membalas lambaian tangannya Byan dan mobil yang dikendarai oleh Byan bergerak meninggalkan rumah. Setelah itu Aisyah pun langsung bersiap-siap untuk pergi ke mal bersama Zee.
Disinilah sekarang di sebuah pusat perbelanjaan yang cukup terkenal. Aisyah dan Zee terlebih dahulu mampir ke toko perlengkapan bayi. Aisyah sangat antusias memilih beberapa pakaian bayi.
Rasanya Aisyah ingin memborong semuanya melihat perlengkapan bayi di toko tersebut. Apalagi pakaiannya yang sangat lucu-lucu.
"Kak Zee ini lucu nggak?" Aisyah menunjukkan pakaian bayi model jumper berwarna biru langit.
"Bagus," jawab Zee dan Aisyah pun menyimpannya di kantong belanjaan yang disiapkan oleh pihak toko. Aisyah kembali memilih model pakaian yang lain dan beberapa topi dan kaos kaki.
Selesai menghabiskan makan siangnya, Aisyah menelpon Byan. Hanya sekedar menanyakan ada barang yang mau di belinya atau tidak. Atau menanyakan pulang kerja mau di masakin apa?.
"Sudah, itu saja yang kakak beli?" Kata Aisyah sebelum menutup telponnya.
"Iya, itu saja dan ingat jangan terlalu lelah. Aku nggak mau istriku yang cantik ini sampai kelelahan gara-gara belanja dan berputar mengelilingi mal, hanya untuk mencari barang yang cocok." Pesan Byan, yang tahu seperti apa perempuan kalau sudah berada di pusat perbelanjaan. Kalau tidak ada yang sesuai di toko tersebut, maka akan berpindah ke toko yang lain dan sampai ke toko yang lain lagi.
"Iya, kak...." Jawab Aisyah gemes dengan peringatan Byan, yang memang sering seperti itu jika sudah shopping.
"Ya sudah, aku tutup dulu telponnya," ujar Aisyah.
__ADS_1
Setelah itu, Aisyah dan Zee segera berjalan ke arah pintu masuk supermarket dan siap memburu kebutuhan sehari-hari.
Keduanya mengintari setiap lorong supermarket sambil mendorong troli belanjaan.
"Kak, aku ke tempat susu dulu," kata Aisyah dan Zee pun mengangguk.
Aisyah mengambil beberapa kotak susu hamil, setelah itu Aisyah mendorong trolinya ke arah tempat kosmetik. Aisyah mencari handbody dan lipstik.
Aisyah mencoba merek lipstik yang ia pegang. "Kayaknya bagus aku menggunakan lipstik ini," gumam Aisyah, sambil memperhatikan bibirnya di cermin.
Aisyah pun memasukkan lipstik tersebut ke belanjaannya dan Aisyah kembali mengintari lorong supermarket. Aisyah berhenti di depan rak minyak goreng dan saat sedang mengambil minyak yang paling atas, dari arah samping tubuh Aisyah di senggol oleh troli orang lain.
Tubuh Aisyah oleng dan untung saja seseorang menahan tubuh Aisyah, terutama melindungi perut besar Aisyah agar tidak menyentuh rak supermarket.
"Kamu nggak apa-apa, mba?"
"Iya, ak---." Ucapan Aisyah terhenti ketika tahu siapa orang yang menolongnya. Ia adalah Dafa.
"Ais...." Dafa berbinar senang, bisa bertemu dengan Aisyah. Apalagi melihat perutnya yang kini sudah besar.
Aisyah segera mundur, serta memeluk perutnya. Seolah takut kalau Dafa akan mengambil buah hatinya. Aisyah bergegas pergi dari hadapan Dafa dan secepatnya keluar dari supermarket.
Dafa menatap nanar kepergian Aisyah, tapi ada sesuatu yang sempat menjalar hangat ke seluruh darahnya ketika ia menyentuh perut Aisyah.
__ADS_1
"Anakku...." Gumam Dafa, sambil tersenyum.