Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Kemarahan Aditya dan Bella.


__ADS_3

Dafa bertambah emosi, karena Byan menahan tangan Aisyah. Dafa kemudian maju dan memukul wajah Byan.


"Kak Byan!" Jerit Aisyah, melihat Byan dipukul oleh Dafa.


Aisyah mendekati Byan untuk menolongnya dari amukan Dafa, tapi Dafa menahannya dan menarik Aisyah untuk masuk ke dalam mobil. Dafa menatap sengit wajah Byan.


"Jangan pernah ikut campur kamu!" Seraya menunjuk ke arah Byan. Dafa segera naik ke dalam mobil dan meninggalkan Byan.


"Aku nggak akan membiarkan Ais disakiti sama Dafa. Aku harus melindungi Ais darinya." Gumam Byan, yang menatap mobil Dafa yang sudah menjauh dari pendangannya.


Dafa membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, membuat Aisyah ketakutan.


"Dafa, tolong pelankan laju mobilnya," pinta Aisyah.


Akan tetapi Dafa tak mengindahkan permintaan Aisyah. Dafa membelokan mobilnya ke hotel dan mengajak Aisyah untuk masuk ke dalam hotel. Setelah cek in dan dengan perasaan emosi Dafa menyeret Aisyah ke arah lift.


"Dafa, kamu ngapain ajak aku kesini?"


"Diam! jangan banyak bicara!" sentak Dafa.


Aditya yang memang ada meeting di hotel tersebut, terkejut melihat Dafa menyeret Aisyah. Aditya geram dengan perlakuan Dafa dan Aditya melihat kalau Aisyah kesakitan karena di tarik oleh Dafa. Aditya bergegas menghampiri Dafa dan Aisyah yang tengah menunggu lift.


"Dafa!!"


Dafa dan Aisyah menoleh dan betapa terkejutnya Dafa melihat papanya disini.


"Papa...."


"Jadi seperti ini perlakuan kamu sama Ais?" geram Aditya.


"Apaan sih, pa. Aku sama Ais mau menghabiskan waktunya disini."

__ADS_1


"Tapi kenapa kamu menyeret Ais!"


"Aku nggak menyeret Ais, pa." Dafa berusaha mengelak dan tak ingin papanya marah, kalau ia sudah memperlakukan Aisyah seenaknya.


"Nggak menyeret gimana? Jelas-jelas papa melihatnya. Ais, ikut papa." Aditya tidak ingin terjadi hal buruk, apalagi tadi ia lihat sendiri saat Dafa menarik tangan Aisyah dengan kasar, serta terlihat jelas kalau Dafa tengah marah.


"Iya, pa."


Sebelum pergi, Aditya berkata." Papa tunggu kamu di rumah."


Aditya dan Aisyah pergi meninggalkan Dafa. Dafa hanya menatap kepergian papanya dan Aisyah.


Aditya mengantarkan Aisyah pulang, saat Aisyah akan turun. Aditya mencegah Aisyah.


"Ais, kalau kamu diperlukan tidak baik sama Dafa. Tolong beritahu papa, biar papa menegurnya. Papa tidak mau kalau kamu disakitin oleh Dafa. Papa sama ayahmu ingin melihat kamu bahagia bersama Dafa, tapi jika... Kamu tidak kuat kamu boleh tinggalkan Dafa."


"Iya, pa. Ais pasti akan cerita sama papa, jika Dafa jahat sama Ais."


"Papa mau tanya, apa Ais bahagia menikah sama Dafa?"


Aisyah mendengar helaan nafas berat papa mertuanya itu. Sebab Aisyah tidak menjawab pertanyaannya.


"Biar nanti papa kasih pelajaran ke Dafa."


"Ais masuk dulu, pa."


Aditya mengangguk. Melihat wajah sendu Aisyah, membuat hatinya langsung geram terhadap putranya itu.


***


Aditya saat ini sudah berada di rumahnya dan di temani oleh sang istri, Bella. Aditya menanti kedatangan Dafa dan Aditya berusaha menahan kemarahannya.

__ADS_1


Tidak lama, Dafa datang ke rumah dengan wajah masam karena Dafa tahu kalau ia akan diomelin sama kedua orang tuanya.


"Papa mau ngomong apa?" Kata Dafa.


"Kenapa kamu memperlakukan Ais seenaknya. Apa kamu tidak tahu kalau Ais itu tengah sakit dan sangat membutuhkan dukungan dari kamu."


"Lalu...."


"Papa minta, jangan lagi kamu sakiti Ais. Coba kamu belajar mencintai Ais, dia wanita yang sangat baik."


Dafa tertawa kecil. " Ngapain aku mencintai Ais, kalau sebentar lagi hidupnya juga bakalan mati dan lagian aku hanya cintanya sama Wulan."


Plakk


Tamparan keras mendarat di pipi Dafa. Bella tak terima menantu kesayangannya dikatai oleh anaknya sendiri dan Bella bertambah murka karena Dafa masih menjalin hubungan dengan Wulan.


"Ma...." Dafa menatap tak percaya kalau mamanya menamparnya.


"Kamu sudah keterlaluan! Harusnya kamu memberi semangat buat Aisyah sembuh. Kamu malah mengharapkan Ais cepat meninggal dan apa kamu bilang! Kamu masih berhubungan dengan wanita itu. Kamu tahu, kenapa mama tidak suka sama Wulan? Karena Wulan bukan perempuan baik-baik."


"Itu menurut mama, karena mama tidak mengenal Wulan seperti apa," timpal Dafa, karena mamanya selalu saja menilai Wulan buruk. Padahal dimatanya, Wulan itu perempuan yang sempurna.


"Tanpa Mama kenal pun, mama sudah tahu kelakuan Wulan itu seperti apa! Jadi mama minta kamu putusin Wulan." Tegas Bella.


"Nggak! Aku nggak akan mutusin Wulan, karena aku sangat mencintai Wulan dan soal Ais, aku akan ceraikan Ais secepatnya."


"Dafa!" Hardik Aditya, penuh emosi.


"Apa?! Dari awal aku sudah bilang kalau aku nggak pernah mencintai Ais. Jadi stop! Jangan paksa aku lagi karena aku sudah bisa memilih yang terbaik buat aku, yaitu Wulan. Bukan Aisyah, si perempuan penyakitan."


Dafa langsung meninggalkan kedua orang tuanya dan tidak memperdulikan panggilan papanya yang marah. Dafa sudah memutuskan jalan hidupnya dan tidak mau lagi diatur oleh orang tuanya.

__ADS_1


Aditya mengusap wajahnya kasar. Anaknya sangat sulit diberitahu yang terbaik, tapi Dafa malah memilih jalan yang salah. Aditya dan Bella tahu seperti apa Wulan itu di belakang Dafa. Wulan adalah wanita panggilan, selain itu juga Wulan perempuan matre.


Aditya jelas tak ingin Dafa masuk ke dalam kehidupan Wulan dan sebisa mungkin Aditya menjauhi Dafa dari Wulan.


__ADS_2