
Aisyah dan Byan, yang saat ini mulai mencicil barang-barang yang di butuhkan untuk rumah barunya. Byan sangat antusias membeli perabotan untuk rumah masa depannya bersama Aisyah.
"Geser lagi ke sebelah sini," perintah Byan kepada Sigit dan Jojo, yang sedang membantu membenahi rumah barunya Byan.
"Sip. Ini baru pas," ujar Byan.
Aisyah datang dari dapur, membawa makanan dan minuman.
"Istirahat dulu, pasti capek," seloroh Aisyah, yang sembari meletakkan nampan di atas meja.
"Tahu aja kalau aku lagi haus," cetus Jojo, yang langsung menyambar gelas.
Aisyah memberikan minuman kepada Byan. "Terima kasih," ucap Byan, yang diangguki oleh Aisyah.
Aisyah mengambil selembar tisu dan mengelap keringat Byan yang bercucuran membasahi wajahnya. Byan tersenyum melihat perhatian Aisyah terhadapnya. Sedangkan jauh di negara lain, Wulan tengah cemberut karena Dafa sudah tidak bisa memberinya uang ataupun barang-barang yang diinginkan olehnya.
Dafa benar-benar dibuat frustasi oleh kelakuan papanya yang main bekukan kartu mantra gunanya. Sehingga Dafa tidak bisa memenuhi kebutuhan istrinya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Dafa, yang melihat Wulan tengah bersiap-siap untuk pergi.
"Bukan urusan kamu aku mau kemana!" Jawab Wulan ketus. Wulan sudah malas berada di dekat Dafa, yang sudah tak mampu memberinya kemewahan.
Wulan pergi dan mengabaikan perkataan Dafa. Wulan sudah tidak peduli lagi dengan Dafa yang sudah melarat.
Dafa membuang nafasnya kasar. Dafa menjambak rambutnya frustasi. Dafa menghempaskan tubuhnya di sofa, ia benar-benar sangat kalut dengan semuanya.
Dafa pikir setelah menikah dengan Wulan, hidupnya akan bahagia tapi nyatanya tidak. Justru sekarang Wulan terlihat acuh terhadapnya.
"Apa aku harus mencari kerja?" Gumam Dafa, yang sudah tak tahu lagi bagaimana mendapatkan uang. Selama ini, Dafa punya uang dari hasil meminjam dari temannya, Roland dan sekarang uang pinjamannya sudah hampir habis.
"Baiklah aku memang harus cari kerja."
Dafa segera menyambar mantelnya dan berlalu dari apartemennya, berharap ia mendapatkan pekerjaan. Dafa menyusuri pertokoan di sepanjang jalan yang ia lewati, sembari melihat-lihat apa ada yang membuka lowongan pekerjaan.
Dafa tersenyum ketika melihat selembar kertas tertempel di pintu kaca dan bertuliskan lowongan pekerjaan. Dafa segera masuk dan berharap ia di terima bekerja.
__ADS_1
"Permisi, apa di restoran ini masih membuka lowongan pekerjaan?" Tanya Dafa kepada salah satu pelayan restoran.
"Sebentar, saya tanyakan dulu sama pemiliknya."
Beberapa menit menunggu, akhirnya pemilik restoran tersebut menghampiri Dafa yang tengah melihat-lihat menu makanan di buku menu.
"Ini Pak yang menanyakan lowongan pekerjaan." Pelayan tersebut menunjuk ke arah Dafa.
Dafa membungkukkan sedikit tubuhnya kepada pemilik restoran tersebut.
"Kamu mau bekerja disini?" Tanya pemilik restoran, yang bernama Daichi.
"Iya," jawab Dafa penuh harap.
Melihat kesungguhan Dafa dan memang kebetulan ia tengah membutuhkan karyawan, Pak Daichi memutuskan menerima Dafa.
"Baiklah. Saya terima kamu bekerja disini."
Dafa tersenyum sumringah, ia sangat senang karena mendapatkan pekerjaan. "Terima kasih, Pak. Terima kasih sudah menerima saya bekerja disini."
"Baik, pak. Saya akan datang tepat waktu," jawab Dafa, penuh binar bahagia.
Dafa melangkah keluar dengan langkah ringan, karena ia sudah mendapatkan pekerjaan. Dafa kembali ke apartemennya, tapi saat akan naik bus, Dafa sepintas melihat Wulan tengah berjalan dengan laki-laki.
"Mungkin aku salah lihat dan mana mungkin Wulan selingkuh dariku," ucap Dafa yang meyakinkan dirinya sendiri.
***
Keesokan harinya, Dafa berangkat kerja. Dengan penuh semangat, Dafa melangkahkan kakinya menuju tempatnya bekerja.
"Selamat pagi, bos," sapa Dafa kepada Pak Daichi.
"Pagi. Nih, kamu pakai seragam ini." Pak Daichi menyerahkan pakaian kerja untuk Dafa.
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu."
__ADS_1
Hari itu, Dafa bekerja dengan sungguh-sungguh dan tidak peduli rasa lelah karena seharian bekerja. Semangatnya menghasilkan pundi-pundi uang, agar ia bisa membahagiakan orang tercintanya dan memenuhi semua keinginan Wulan.
"Aaah... Capek juga ternyata." Dafa selonjorkan kakinya yang pegal, karena jam kerjanya sudah selesai.
"Dafa, ini makanan buat kamu bawa ke rumah," kata teman kerjanya, yang bernama Akira.
"Terima kasih, Akira."
"Sama-sama."
Dafa tersenyum melihat makanan di tangannya. Dafa berniat memberikan makanan ini ke Wulan dan pastinya Wulan pasti suka. Pikir Dafa.
Dafa bergegas pulang dan sesampainya di apartemen, Dafa menghembuskan nafas kasar. Sebab di apartemen tidak ada Wulan.
"Ternyata Wulan belum pulang," gumamnya.
Dafa melirik jam yang tergantung di dinding, yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dafa mencoba menelpon Wulan, hanya sekedar menanyakan keberadaannya.
Dafa mendesah, telponnya tidak diangkat oleh Wulan.
"Sebenernya kamu lagi dimana dan kenapa tidak mengangkat telponku?" Ucapa Dafa sembari menatap layar ponselnya.
Kemudian Dafa meletakkan kantong plastik yang berisi makanan yang dia bawa dari tempatnya kerja, lalu Dafa memilih membersihkan diri.
Malampun semakin larut, tapi sampai detik ini Wulan belum pulang. Dafa sudah beberapa kali mengirim pesan singkat ke Wulan, tapi tak ada satupun pesannya yang di baca oleh Wulan.
Dafa mengadahkan kepalanya, yang terus memikirkan Wulan. Sampai tak terasa rasa ngantuk menyerangnya.
Sang fajar menyingsing memancarkan cahayanya. Dafa mengerjapkan matanya dan mengedarkan pandangannya, yang ternyata Dafa ketiduran di sofa.
"Apa Wulan sudah pulang ya...."
Dafa bangun dan melangkah masuk ke dalam kamar. Dafa langsung lesu, karena Wulan tidak ada di kamar. Itu berarti Wulan tidak pulang dari semalam.
"Sebenernya kamu pergi kemana sih," ucap Dafa lesu. Dafa membuang nafasnya panjang dan segera bersiap-siap untuk berangkat kuliah setelah itu langsung berangkat kerja.
__ADS_1