Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Aisyah cemburu


__ADS_3

Seminggu sudah Byan dan Aisyah menempati rumah barunya. Byan benar-benar memperatukan Aisyah di dalam rumah tangganya. Bahkan saat akan pulang kantor pun, Byan selalu bertanya mau dibawakan apa.


Aisyah benar-benar merasa sangat beruntung, memiliki seorang suami seperti Byan. Mungkin benar kata orang, setelah hujan akan muncul pelangi untuk menghiasi hidupnya dan pelangi itu adalah Byan. Orang yang selalu ada disaat dirinya terpuruk.


Byan tersenyum melihat Aisyah tengah duduk menanti dirinya pulang kerja. Aisyah segera berdiri dan menyambut Byan pulang. Aisyah langsung memeluk Byan manja dan menghirup aroma tubuh Byan yang beberapa hari ini membuatnya suka dengan aroma tubuh Byan.


"Kenapa belum tidur," kata Byan, sebelum mencium kepala Aisyah yang masih betah memeluknya.


"Karena aku kangen, kakak," jawab Aisyah manja.


Byan menautkan kedua alisnya mendengar kata kangen. Padahal setiap hari bertemu dari buka mata sampai tutup mata ( tidur ).


Aisyah merenggangkan pelukannya dan mendaratkan kecupan mesra di rahang tegas Byan. Aisyah juga ingin mencium bibirnya Byan, tapi Byan menahan bibir Aisyah dengan telunjuknya.


"Boleh aku mandi dulu, sebelum mencium yang lain?"


Aisyah langsung menekuk wajahnya. Ia tak suka kalau Byan menunda keinginannya untuk mencium bibirnya.


"Jangan cemberut dong. Jelek tau." Ledek Byan.


"Tapi aku kan pengen cium kakak dulu," rengek Aisyah, sembari memanyunkan bibirnya.


"Iya-iya. Kamu selalu menang kalau sudah merengek begini." Dan pada akhirnya Byan tak bisa menolak keinginan Aisyah.


Byan langsung mendaratkan ciumannya yang di sambut mesra oleh Aisyah.


***


Byan yang saat ini tengah mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai, dibuat heran dengan Aisyah yang sudah berapa kali mengganti posisi tidurnya dari menghadap ke kiri-kanan dan juga terlentang.


"Kamu kenapa gelisah begitu?" Tanya Byan, sambil mengusap kepala Aisyah.


Aisyah membuka matanya dan memilih mendudukkan dirinya. Aisyah memeluk lengan berotot Byan.


"Kak...." Panggilnya lirih.


"Kenapa? Apa yang membuatmu gelisah?"


"Aku... pengen makan bubur ayam." Aisyah mengungkapkan keinginannya dengan suara pelan.


"Bubur ayam?" Cicit Byan dan Aisyah mengangguk kecil.


Byan kemudian melirik jam di dinding dan saat ini sudah pukul sembilan malam.


Dimana dirinya harus mencari bubur ayam malam-malam begini. Pikir Byan.


"Kak... Aku pengen bubur ayam sekarang."


"Dimana yang jualan bubur ayam malam-malam begini?" Jawab Byan bingung, karena jarang ada yang jualan bubur ayam malam-malam.


Aisyah mengedikan bahunya, karena Aisyah juga tidak tahu dimana yang jualan bubur ayam.


Mungkin kalau mintanya pagi, Byan akan segera membelikannya di depan komplek, tanpa bingung harus mencarinya.


"Kak...." Aisyah merengek karena saat ini juga ia sangat ingin makan bubur ayam.


"Oke. Aku akan cari bubur ayam." Tidak ada pilihan. Byan memang harus mencari bubur ayam sampai dapat.


Aisyah tersenyum senang dan langsung memeluk Byan dari samping.

__ADS_1


Byan turun dari kasur dan segera memakai jaketnya yang diikuti oleh Aisyah.


"Loh! Kenapa pakai jaket juga?"


"Aku juga mau ikut cari bubur," jawab Aisyah santai.


"Nggak usah. Kamu tunggu saja di rumah, ini sudah malam. Nggak baik buat ibu hamil."


"Nggak mau! Pokoknya aku ikut." Kekeuh Aisyah, yang langsung menggandeng tangan Byan.


"Ais...!"


"Sstt... Jangan banyak ngomong. Aku harus ikut, karena aku nggak mau suamiku digondol ulet bulu."


Byan mendesah mendengar penuturan Aisyah.


Digondol katanya?


Lagian siapa yang akan menggondol dirinya. Aneh-aneh saja ibu hamil yang satu ini. Pikir Byan.


Karena Aisyah kekeuh ingin ikut, Byan memilih menggunakan mobil milik Aisyah.


"Jangan pakai mobil. Pakai motor saja." Suruh Aisyah, lebih tepatnya perintah.


"Nggak. Pakai mobil saja. Aku nggak mau kamu terkena angin malam kalau naik motor. Nggak baik buat kesehatan kamu yang lagi hamil."


"Tapikan aku maunya naik motor. Biar aku bisa peluk kakak."


"Baiklah, kalau begitu nggak jadi beli buburnya."


"Kok, gitu!" Seru Aisyah menatap kesal wajah Byan.


"Iya deh, naik mobil," jawab Aisyah mengalah, daripada tidak jadi.


"Gitu dong. Itu baru istriku yang cantik," seraya mengacak-acak rambutnya Aisyah.


Byan segera menjalankan mobilnya dan berbaur di jalan dengan kendaraan lainnya yang berlalu lalang.


Hampir setengah jam mencari bubur, tapi sampai detik ini keduanya belum menemukan penjual bubur. Membuat Aisyah mulai uring-uringan.


"Dari tadi kita cari, tapi nggak ada yang jual bubur ayam." Aisyah mengeluh dan terlihat sudah sangat kesal.


"Sabar. Kita cari lagi. Siapa tahu ada yang jual bubur." Byan menjawab dengan sangat lembut, agar Aisyah tidak kesal.


"Sabar ya Ade sayang... Papa akan mencari sampai dapat," ucap Byan kepada perutnya Aisyah, sambil mengusap perut Aisyah.


Byan terus melajukan mobilnya pelan, sambil tengok kanan-kiri. Berharap ada penjual bubur di sekitar sana. Setelah cukup lama mencari, akhirnya ada juga penjual bubur.


Byan menghentikan mobil tepat di depan penjual bubur dan saat akan mengajak Aisyah keluar dari mobil, ternyata Aisyah tidur.


"Giliran sudah nemu penjualan bubur, kamunya malah tidur," gumam Byan seraya menggelengkan kepalanya.


Byan keluar dari mobil dan membiarkan Aisyah tidur. Byan tak tega jika harus membangunkan Aisyah.


"Mang, bubur ayam satu. Bungkus ya...."


"Siap mas."


Byan duduk menunggu dan tiba-tiba ada seseorang orang memanggilnya.

__ADS_1


"Byan!"


Byan menoleh ke arah orang yang memanggilnya.


"Laura...."


Laura segera menghampiri Byan dan bersalaman, lalu Laura duduk di samping Byan.


"Gimana kabar kamu?" Tanya Laura, yang malam ini terlihat senang karena bisa bertemu dengan Byan.


"Baik. Kamu sendiri?"


"Seperti yang kamu lihat. Aku baik kan."


Byan mangut-mangut sembari menerima bubur ayam yang sudah jadi dan segera membayarnya.


"Aku pulang dulu." Pamitnya kepada Laura.


"Tunggu!" Laura mencekal tangan Byan.


"Kenapa?"


"Mm... Aku mau tanya? Kenapa kamu nggak pernah balas WA aku?"


"Karena aku sibuk."


"Sesibuk apa, sampai kamu nggak balas satu pun WA dariku."


"Apa aku harus menjabarkannya? Selain itu juga aku--"


"Sayang! Kok lama belinya."


Aisyah langsung menggandeng tangan Byan dan melirik tak suka kepada Laura.


"Ini udah," jawab Byan seraya mengangkat kantong plastiknya.


"Kalau gitu, ayo kita pulang." Aisyah menarika Byan untuk segera masuk ke mobil dan tidak memperdulikan Laura yang menatapnya bingung. Sebab Laura belum mengetahui kalau Byan sudah menikah.


Aisyah memasang wajah masam, ia benar-benar tidak suka melihat Byan dekat dengan Laura.


"Aku nggak suka kakak ngobrol sama dia."


"Nggak suka?"


"Iya. Aku nggak suka kakak deket-deket sama cewek itu!" Ketus Aisyah.


Byan mengulum senyumnya, rupanya saat ini istri tercintanya tengah mengalami rasa cemburu.


"Siap Nyonya Byan."


"Aku serius, kak!" Aisyah mendelikkan matanya.


"Iya. Aku nggak akan ngobrol sama Laura."


"Awas kalau kakak ketahuan ngobrol lagi sama dia. Aku akan pulang ke rumah orang tuaku." Ancam Aisyah.


"Iya, sayang...."


Byan sangat senang karena Aisyah cemburu. Itu tandanya Aisyah sudah mencintainya.

__ADS_1


__ADS_2