Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Gara-gara Dhika


__ADS_3

"Ais nggak mau, Bu." Tolak Aisyah yang kini sudah berdiri di ambang pintu.


Hana dan Byan menatap bingung dengan jawaban Aisyah. Padahal Hana menyarankan tinggal kembali bersama demi menghindari Dafa, yang sewaktu-waktu bisa datang kapan saja ke rumah ini.


Hana tidak mau kalau Dafa mengganggu keutuhan rumah tangga Aisyah dan Byan. Apalagi tadi Aisyah mengatakan rasa takutnya.


"Kenapa nggak mau, sayang?" Tanya Byan. Aisyah kemudian mendekati Byan dan merangkul pundak Byan, yang sedang duduk.


"Karena aku bertekad akan melawannya. Aku nggak mau menunjukkan kalau aku lemah di depan Dafa."


"Tapi, Ais. Kamu tahu sendiri kan tadi dia seperti apa sama kamu." Hana jelas tidak setuju dengan keputusan putrinya.


"Ibu harus percaya sama aku." Aisyah tetap kekeuh dengan keputusannya.


"Tapi Ais---."


"Gini aja deh." Byan memotong perkataan Hana. " Jika nanti dia datang lagi dan mengganggu kamu lagi, terpaksa kita harus tinggal bersama dengan ibu." Byan mencoba memberi jalan tengah, karena Byan tahu seperti apa Aisyah. Jika sudah mengatakan A maka tidak bisa di ganggu gugat.


"Oke...." Jawab Aisyah.


"Ya sudah, terserah kalian. Mudah-mudahan tuh orang nggak datang kesini lagi dan gangguin Ais lagi." Hana sebenarnya kesal dengan jawaban Byan, tapi Hana tetap menghargainya. Hana percaya kalau Byan tidak akan membiarkan Aisyah diganggu oleh Dafa.


"Kalau gitu ibu pulang."


"Iya, Bu. Terima kasih sudah menemani Ais," ucap Byan tulus.


"Ih... Kamu tuh, kayak ke siapa saja. Wajarlah kalau ibu nemenin Ais," balas Hana, lalu Hana pun segera pulang.


Setelah mobil yang tumpangi Hana menghilang dari pandangannya, Byan langsung mengajak Aisyah masuk ke dalam rumah.


"Aku siapkan air hangat dulu buat kakak."

__ADS_1


"Nggak usah, biar aku saja. Kamu juga pasti lelah." Byan kemudian mendudukkan Aisyah di tepi ranjang, setelah itu dirinya bergegas ke kamar mandi.


Selama mandi, Byan terus memikirkan perkataan ibu mertuanya. Byan jelas sangat mengkhawatirkannya Aisyah dan tidak mau Dafa datang untuk mengganggunya.


Sepertinya aku harus mencari security buat jagain rumah dan Ais. Aku nggak mau sampai kecolongan lagi seperti tadi, apalagi minggu depan aku harus pergi ke luar kota.


***


Sesuai dengan rencananya, kini Byan meminta Dhika untuk datang ke rumahnya.


Dhika datang tidak sendirian, dia datang bersama pacar barunya. Dengan senyum tengilnya, Dhika memperkenalkan pacarnya ke Byan dan Aisyah, sekaligus mempamerkannya.


"Kenalin dia Rani, pacar gue."


"Pacar yang ke berapa?" Celetuk Byan, yang sengaja menyindir Dhika.


Dhika langsung mendelikkan matanya, tak suka kalau Byan membongkar kartu As nya, yang sering gonta-ganti pacar. Sedangkan Byan hanya mengulum senyumnya.


Setelah berbicara ke sana kemari, kini Byan mengajak Dhika duduk di depan rumah. Sedangkan Aisyah menemani pacarnya Dhika di dalam rumah.


"Security? Buat apa? Kayak rumah elo gede aja," ledek Dhika.


"Bukan masalah rumah aku gede atau nggak nya, tapi ini demi keamanan Ais."


"Kenapa memangnya dengan Ais," potong Dhika.


"Mantan suaminya Ais datang kesini dan mengganggu Ais. Aku nggak mau Ais sampai kenapa-napa, makanya aku minta tolong kamu carikan aku security."


"Oh... Oke, gue bisa cariin security buat elo, tapi ada syaratnya," tukas Dhika seraya menarik turunkan alisnya.


"Apa syaratnya?"

__ADS_1


Kemudian Dhika membisikkan sesuatu ke telinga Byan dan Byan tercengang dengan apa yang dikatakan Dhika.


"Gimana?" Kata Dhika.


"Ogah! Kamu kalau mau ke tempat seperti itu jangan ngajak aku, mending kamu ngajak Sigit atau siapa lah. Yang jelas aku nggak mau." Tolak Byan mentah-mentah. Gila aja, Dhika ngajakin dirinya dugem hanya untuk membantunya mendapatkan perempuan yang bekerja di club itu. Nanti yang ada dirinya di sunat sama Aisyah.


"Ah! Elo, nggak care sama gue." Cibir Dhika.


"Bukan aku nggak care, terus cewek yang di dalam gimana?" Apa Dhika lupa dengan perempuan yang ada di dalam rumahnya? Ah, Dhika kan memang playboy cap kadal. Pikir Byan.


"Dia kan cuman cadangan gue. Lebih tepatnya mm... Hanya main-main saja."


"Apa?" Pekik Rani, yang kini berdiri di ambang pintu bersama Aisyah. "Jadi selama ini kamu hanya mainin aku! Dasar brengsek!" Maki Rani penuh emosi.


Dhika terperanjat mendengar suara Rani dan tak menyangka kalau Rani bakal mendengarnya. " Ka-kamu salah dengar." Dhika berusaha mengelak nya dan mendekati Rani yang terlihat kesal.


"Yang kami bicarakan itu bukan kamu, tapi... Pacarnya Byan." Ya, hanya itu yang ada di kepalanya, agar Dhika tidak putus sama Rani yang entah di jadikan yang ke berapa.


Ucapa Dhika yang seenaknya, menjadi bumerang buat Byan, dan lihatlah sekarang, Aisyah tengah menatapnya penuh emosi dan dengan perasaan kesal Aisyah kembali masuk ke dalam rumah.


"Kamu nggak bohong kan?" Ujar Rani memastikan.


"Nggak lah, ngapain aku bohong. Pokoknya kamu yang paling ter ter ter the best dan tercantik." Rayu Dhika, sembari mencolek dagunya Rani.


Plakk.


Byan memukul kepalanya Dhika dari belakang. Gara-gara Dhika asal bicara, membuat Aisyah marah terhadapnya.


"Elo apa-apain sih pukul gue!" Pekik Dhika, yang tak terima kepalanya di pukul Byan.


"Lebih baik kalian pulang sana!" Usir Byan. "Gara-gara kamu, istriku marah, tuh!"

__ADS_1


"Iya! Gue balik. Ayo my sweety, kita pergi dari sini."


Dhika dan Rani pun pergi dari rumahnya. Byan membuang nafasnya perlahan sebelum siap mendengar Omelan panjang dari Aisyah.


__ADS_2