
Afkar makan dengan begitu lahapnya. Si jagoan kecil ini memang sangat suka makan dan Afkar ini termasuk anak yang tidak pilih-pilih makanan. Jadi setiap kali Aisyah masak untuk Afkar, pasti makanannya sering habis. Saat tengah asik menyuapi Afkar, tiba-tiba perutnya mules.
"Kak, aku ke toilet dulu," ucap Aisyah sambil menggeserkan piringnya ke depan Byan dan menggantikannya menyuapi Afkar.
Hanum yang melihat Aisyah pergi, segera menghampiri Byan dan langsung duduk di samping Byan.
"By... Aku boleh minta nomor hape kamu," ucap Hanum seraya menyerahkan ponselnya ke Byan.
"Untuk apa?"
"Untuk komunikasi lah! Memang untuk apa lagi," jawab Hanum sambil mengusap punggung Byan.
"Maaf ya Hanum. Aku nggak bisa memberikan nomor hape aku," tolak Byan, sembari menepiskan tangannya Hanum.
"Kenapa? Aku kan cuman ingin berteman baik sama kamu." Hanum mulai memaksa.
Tiba-tiba dari belakang, Aisyah menarik rambut Hanum. Aisyah sudah sangat geram melihat perempuan gatel ini mendekati suaminya.
"Aaww...!!" Jerit Hanum.
"Ais!" Byan tercengang melihat Aisyah menjambak rambut Hanum.
"Sayang! Sudah hentikan," pinta Byan berusaha melepaskan tangan Aisyah dari rambut Hanum.
Aisyah pun melepaskan jambakannya dan menatap sengit wajah Hanum. Aisyah tidak peduli dengan orang-orang yang tengah melihatnya. Baginya perempuan yang ada didepannya harus ia hempaskan ke dasar laut yang terdalam.
"Sakit tahu!" Hardik Hanum sambil memegangi kepalanya yang kesakitan.
"Baru segitu saja sudah sakit! Makanya jadi cewek tuh jangan keganjenan! Sudah tahu kalau suamiku sudah punya istri, kamu malah berusaha mendekatinya! Kalau kamu mau jadi pelakor, lawan aku dulu!" Aisyah menantang Hanum sambil berkacak pinggang.
Orang-orang yang melihatnya langsung bersorak mencibir Hanum.
"Huuh...! Dasar perempuan murahan," cibir salah satu pengunjung.
"Jadi pelakor kok bangga," cibir pengunjung satu lagi.
Hanum yang merasa terpojokkan dengan cibiran dan juga tatapan penuh api amarah dari Aisyah membuatnya harus mundur teratur.
"Sayang, sudah jangan marah-marah. Ingat kamu lagi hamil." Byan berusaha merendam kemarahan Aisyah.
"Dan kamu Hanum, lebih baik kamu pergi dari sini," usir Byan.
Hanum pun segera pergi dari sana, sambil mendapatkan sorakan pengunjung.
"Huuuh...!!"
Byan mendudukkan Aisyah dan membukakan botol air mineral.
"Minum dulu." Byan menyodorkan minumannya.
Aisyah pun meminumnya hingga habis setengah botol dan berusaha merendam emosinya.
__ADS_1
"Sudah jangan marah lagi," ucap Byan lembut, sembari mengusap punggung Aisyah.
Akan tetapi Aisyah mendelikkan matanya kesal ke arah Byan.
"Kakak juga! Kenapa mau-mau aja diajak ngobrol!"
Salah lagi, pikir Byan.
"Seharusnya kakak tuh cuekin aja perempuan modelan kayak gitu! Kalau diladenin justru semakin menjadi!"
"Iya-iya, aku minta maaf. Lain kali nggak akan kayak gitu," jawab Byan. Walau sebenarnya dirinya tidak salah-salah amat.
"Ayo pulang! Aku sudah nggak ada mood berada di sini!"
Byan pun mengangguk dan memilih menuruti perintah sang nyonya besar. Sepanjang perjalanan pulang, Aisyah terus saja ngedumel kesal dan lagi-lagi Byan menjadi sasaran empuk Aisyah. Mengomelinya tiada henti.
🌺🌺🌺
Hari perhelatan pernikahan Revan sebentar lagi akan digelar. Semua keluarga dari Byan sangat sibuk mempersiapkan segalanya. Termasuk juga dengan Aisyah yang sudah dari tadi mondar-mandir di rumah mertuanya.
"Ais, sudah kamu diam saja. Biarkan ini semua saudara Mami yang bereskan. Bukannya sekarang giliranmu untuk dirias," kata Mami Yuyun.
"Iya, mi. Kalau gitu Ais ke kamar dulu." Yang langsung dianggukin oleh Mami Yuyun.
Aisyah masuk ke dalam kamar tamu dan langsung dirias oleh MUA.
Setelah semuanya sudah siap. Seluruh rombongan segera berangkat ke tempat acara akad nikah.
Setelah itu Revan mengikrarkan janji suci pernikahan di hadapan semuanya dan kata sah kini terdengar dari para saksi.
Seluruh anggota keluarga dan juga para tamu undangan ikut merasakan kebahagiaan kedua mempelai. Revan dan Difa tersenyum lebar dan akhirnya keduanya sudah mengantongi buku nikah.
Di balik kebahagian yang tengah dirasakan semuanya. Ada seorang ibu tengah meratap sedih, sebab putra kesayangannya tidak bisa menyaksikan kebahagiaan saudara kembarnya.
Bella menyeka air matanya, mengingat Dafa yang sudah pergi selamanya. Seharusnya Dafa hadir ditengah-tengah kebahagiaan Difa dan pastinya kebahagiaan Bella akan terasa lengkap.
"Ayo sayang kita bersalaman dengan pengantinnya," ajak Byan.
Aisyah dan Byan naik ke panggung pelaminan dan mengucapkan kata selamat kepada kedua mempelai.
"Selamat ya, Om. Akhirnya Om terbebas dari ejekan bujang lapuk," seloroh Byan sambil tertawa kecil.
"Iya...."
"Jika Om bingung mencari lobang, aku bersedia menjadi tutor terbaiknya Om," bisik Byan sambil terkekeh-kekeh.
"Sialan elo! Kalau sial itu Om paling jago." Revan membanggakan dirinya sendiri.
"Buktikan dulu, Om," lanjut Byan cengengesan.
"Lihat saja nanti."
__ADS_1
Setelah bersalaman, Aisyah dan Byan bergabung dengan Aries dan yang lainnya.
"Sayang, nanti malam kita jangan kalah sama pengantinnya," bisik Aries dan Hana memutarkan bola matanya, jengah. Suaminya itu, walau sudah tua tapi kalau soal urusan ranjang pasti paling semangat dan tidak mau kalah dengan yang muda.
Setelah tadi acara akad nikahnya. Malam harinya acara resepsinya dan pastinya para tamu undangan lebih banyak daripada saat akad.
"Capek ya...." Kata Byan, yang dianggukin oleh Aisyah.
"Sini duduk dulu." Byan menarik kursi dan Aisyah langsung mendudukkan bokongnya di kursi.
"Eh! Kak...!" Aisyah terkesiap saat kakinya diangkat Byan dan meletakkan kakinya di pangkuannya. Kemudian Byan memijitnya dengan lembut.
"Mau istirahat saja di kamar?" Tawar Byan, yang tidak tega melihat Aisyah kelelahan.
"Nggak, nanti saja." Tolak Aisyah dan tetap berada di acara resepsi pernikahan Revan dan Difa sampai selesai.
Setelah acaranya selesai, Byan dan yang lainnya pulang. Byan dan Aisyah memilih pulang ke rumah aries. Tiba di rumah Aisyah segera membersihkan wajahnya, sedangkan Byan menidurkan Afkar.
Selesai membersihkan wajahnya Aisyah segera membaringkan tubuhnya yang sejak tadi merasakan pegal di bagian kaki dan juga pinggang. Aisyah tidur posisi miring.
Byan mengusap-usap punggung sampai pinggang Aisyah dan ini adalah kegiatan Byan sebelum tidur.
"Terima kasih, kak. Kakak tahu banget kalau pinggangku pegel," ucap Aisyah.
"Karena kamu istriku, jadi aku harus tahu apa yang dibutuhkan oleh istriku."
Aisyah tersenyum dan membalikkan badannya menghadap Byan.
"Aku sayang kakak," ucap Aisyah, lalu mencium bibir Byan ringan. Setelah itu Aisyah melingkarkan tangannya di pinggang Byan dan segera tidur.
Dikamar yang berbeda, Aries saat ini tengah menunggu Hana yang sedang mempersiapkan diri untuk ia jajahi. Sambil menunggu, Aries memainkan gawainya.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka lebar dan Hana melangkah mendekati Aries yang tetap fokus ke layar ponselnya.
"Abay...." Panggil Hana mesra.
Aries menoleh dan sebuah senyuman terbit dari bibirnya. Bagaimana Aries tidak tersenyum sumringah, Hana saat ini mengenakan pakaian dinas alias lingerie berwarna merah yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.
Aries yang memang sudah sangat menginginkannya, langsung menarik Hana untuk duduk dipangkuannya. Aries menciumi bibir Hana penuh gelora dan tangannya sudah bergerilya memanjakan dua gunung kembar.
Semakin lama ciuman Aries semakin liar dan mengecupi setiap kulit leher Hana, dagu dan bibir.
"Aaahh...." Hana mendesah dan Aries membaringkan tubuh Hana, lalu membuka seluruh pakaian yang melekat ditubuhnya maupun tubuh Hana.
Kini belalai miliknya sudah siap untuk menjajah dan mengobrak-abrik persinggahannya. Aries sudah mengarahkan si belalai ke milik Hana dan memulainya untuk masuk.
Tok tok tok.
Ketukan pintu sangat keras. " Ibu....! Ketubannya Ais sudah pecah."
__ADS_1