Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Karena hatiku hanya untuk Ais


__ADS_3

Aditya dan Bella menatap penuh rasa kecewa, saat Aries mengizinkan Byan menikahi Aisyah. Aditya melirik sinis wajah Dafa dan Dafa benar-benar tidak bisa diandalkan. Padahal Aditya berharap Dafa bisa kembali lagi bersama Aisyah.


Meski sedih karena Aisyah tidak akan lagi menjadi menantu kesayangannya. Aditya dan Bella mengikhlaskan Aisyah dipinang oleh orang yang memang tulus menyayanginya. Aditya tidak punyak hak untuk melarangnya, karena ia juga menginginkan Aisyah mendapatkan lelaki yang tulus mencintai Aisyah dan Aditya melihat Byan memang tulus mencintai Aisyah. Berharap Aisyah mendapatkan kebahagiaan bersama Byan.


" Terima kasih, Om. Aku janji akan menjaga Ais, menyayangi Ais dan memperlakukan Ais dengan baik," ucap Byan, penuh binar bahagia.


Aries mengangguk dan berharap kalau Byan tidaklah seperti Dafa.


"Pa, ma... Ayo kita pulang. Sekarang masalahnya sudah beres kan." Cetus Dafa, yang sudah jengah berada di sana. Selain itu juga, Dafa ingin cepat-cepat berangkat lagi ke Jepang. Dafa tidak bisa terlalu lama berada di Indonesia, karena beberapa hari lagi Dafa akan melangsungkan pernikahannya dengan Wulan.


Aditya dan Bella pergi dari sana dengan rasa sedih dan kecewa, karena tidak berhasil menyatukan lagi Dafa dan Aisyah.


Setelah kepergian Aditya, Bella dan Dafa. Aries dan Byan kini tengah duduk berdua di ruang kerjanya Aries. Keduanya terdiam dan masih bergelut dengan pemikirannya masing-masing. Apalagi Byan yang saat ini tengah memikirkan soal papinya, mengingat nanti malam akan berkunjung ke rumah Laura.


"Apa ucapanmu tadi serius?" Aries memulai pembicaraannya.


"Iya, Om. Aku serius dan memang sudah lama aku mencintai Ais."


"Apa kamu terima Ais apa adanya, mengingat saat ini Ais tengah hamil anak Dafa."


"Iya, aku terima Ais apa adanya karena aku memang tulus mencintainya. Om jangan risau, karena aku akan terus menjaga Ais dan kandungannya. Aku juga akan berusaha untuk membahagiakan Ais."


Aries menatap kedua bola mata Byan dan mencari kebohongannya di sana, tapi yang tertangkap olehnya, Aries melihat ketulusan di mata Byan.


"Om percaya sama kamu. Om serahkan Ais kepadamu dan jika suatu saat kamu tidak mencintai Ais, tolong kembalikan Ais kepada Om dengan cara baik-baik."


"Iya, Om."


"Sebagai tanda keseriusan kamu kepada Ais, suruh orang tuamu menemui Om."

__ADS_1


"Baik, Om."


Setelah pembicaraannya dengan Aries, Byan segera pulang. Byan membuang nafasnya perlahan sebelum melangkah masuk kedalam rumahnya. Byan menelan Salivanya saat melihat kedua orang tuanya yang sudah rapih untuk pergi ke rumah Laura. Byan melangkah pelan menghampiri orang tuanya yang tengah duduk.


"Kenapa kamu baru pulang? Kamu tahukan kalau kita akan ke rumah Pak Atmodjo," ujar Pak Sanjaya.


"Pi... Aku mau bicara hal yang sangat penting," ucap Byan gugup.


"Soal apa?" Pak Sanjaya menatap intens wajah Byan yang terlihat masygul.


Sebenernya Byan bingung untuk memulai perkataannya, tapi keadaan memang mengharuskan Byan untuk membicarakan soal keinginannya menikahi Aisyah dan Byan tidak mungkin untuk mundur.


"Mmm... Pi... Aku minta maaf karena aku tidak bisa bertunangan dengan Laura." Suara Byan terasa tercekat di tenggorokan saat mengatakannya.


"Kenapa?" Pak Sanjaya menatap penuh tanya.


"Karena aku... Mau menikahi Aisyah...." Kata Byan, yang tak sanggup melihat wajah papinya. Sebab Byan sudah membuat papinya kecewa dengan keputusannya.


Pak Sanjaya jelas sangat terkejut mendengar pengakuan Byan dan Pak Sanjaya, menatap marah wajah Byan. Sedangkan Byan berkali-kali menelan Salivanya.


"Papi nggak mengizinkan kamu menikahi wanita itu! Pokoknya kamu harus menikah dengan wanita pilihan papi!" Ucapan Pak Sanjaya menohok hati Byan. Sangat jelas tergambar kemarahan di wajah Pak Sanjaya.


Byan berlutut di hadapan papinya. Memohon untuk mengizinkannya untuk menikahi Aisyah.


"Pi... Aku mohon izinkan aku menikahi Ais, karena aku sangat mencintainya."


"Papi kan sudah katakan, kalau papi tidak mengizinkan kamu menikahi wanita pilihanmu. Papi tidak peduli kamu mencintainya atau tidak dan keputusan papi sudah mutlak." Pak Sanjaya kembali menegaskan perkataannya.


Byan kemudian menyatukan kedua tangannya di depan dadanya. Tatapan Byan masygul, memohon dengan sangat kepada papinya.

__ADS_1


"Dengan sangat mohon... Biarkan aku menikahi Aisyah." Byan mengemis restu kepada papinya, yang terlihat sangat kecewa dan marah.


"Mi... Aku mohon izinkan aku menikahi Aisyah. Mami tahu kan kalau aku sangat mencintainya."


"Nak---"


"Jangan izinkan dia!" Potong Pak Sanjaya, yang melarang istrinya memberikan izin kepada Byan.


"Mohon maaf, Pi. Byan akan tetap menikahi Ais, walau tanpa izin dari papi." Byan tetap dengan keputusannya, tidak peduli dengan larangan papinya. Byan tidak mungkin melepaskan Aisyah yang sudah berada didalam genggamannya. Keteguhan hatinya, mengabaikan perasaan papinya yang sangat kecewa terhadapnya.


"Papi tak terima atas keputusanmu. Papi sangat kecewa kepadamu." Pak Sanjaya beranjak meninggalkan Byan yang masih berlutut di depannya. Byan menatap punggung papinya itu dengan perasaan bersalah, karena sudah membuatnya kecewa. Akan tetapi keputusannya sudah bulat untuk tetap menikah dengan Aisyah.


"Mi...."


"Bangunlah, nak."


Byan bangun dari berlututnya dan menatap wanita yang sudah melahirkannya. Mami Yuyun mendekati Byan yang tertunduk sendu, lalu Mami Yuyun memeluk putra semata wayangnya itu. Setelah memeluknya, Mami Yuyun mengelus lengannya Byan.


"Apa kamu serius ingin menikahinya?" Tanya Mami Yuyun lembut dan Byan mengangguk cepat.


"Kapan Mami bisa bertemu dengan keluarganya?"


Byan menatap lekat wajah maminya itu. "Mami merestui aku menikah dengan Ais?"


"Iya, maka dari itu kapan Mami bertemu dengan kedua orang tuanya Ais."


"Besok, mi."


Dengan rasa bahagia, Byan memeluk maminya. Setidaknya maminya memberikan restu. Hati Byan sedikit lega, walau papinya belum mengizinkannya.

__ADS_1


"Tapi kamu beneran kan cinta sama Ais, bukan untuk pelampiasan karena kamu akan di jodohkan dengan Laura."


"Nggak, mi. Aku beneran mencintai Ais, karena hatiku hanya untuk Ais dari dulu sampai sekarang."


__ADS_2