Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Selamat ulang tahun untuk Dafa.


__ADS_3

Beberapa hari menginap di rumah orang tuanya, Aisyah kini memilih mendatangi rumah mantan mertuanya.


Kedatangan Aisyah dan Afkar di sambut hangat oleh Bella. Bella sangat senang bertemu dengan cucu tersayangnya. Bella langsung menggendong Afkar dan menciumi pipi gembul cucunya itu.


Bella tak henti-hentinya tertawa riang melihat tingkah lucu Afkar. Bella benar-benar sangat gemas terhadap Afkar.


"Sekarang kehamilan kamu sudah berapa bulan?" Tanya Bella sambil memegangi tubuh Afkar yang tengah berdiri sambil menyemburkan ludahnya.


"Tiga bulan, ma," jawab Aisyah.


"Masih mual dan muntah dong."


Aisyah menggeleng. "Justru hamil yang sekarang Ais nggak ngalamin mual atau muntah, tapi kalau pusing iya, itu juga kadang-kadang. Malah kak Byan yang ngalamin mual dan muntah. Apalagi kalau lihat bakso dan nasi, pasti bawaannya langsung mual."


"O ya... Jadi Byan yang ngalamin itu semua."


"Iya...." Jawab Aisyah sambil menganggukkan kepalanya.


"Mudah-mudahan kehamilan kamu yang sekarang selalu di beri kesehatan."


"Aamiin...." Jawab Aisyah sambil mengusap wajahnya.


Tidak lama Difa datang dan terkejut melihat keponakan lucunya itu.


"Aduh! Ponakan aunty ada disini," ucap Difa seraya menciumi pipi Afkar dengan gemas.


Tok tok tok.


"Permisi...!" Teriak seseorang dari luar rumah.


"Biar aku saja yang bukain pintunya," ucap Aisyah, yang langsung beranjak dari duduknya.


Pintu di buka dan Aisyah terbelalak melihat orang yang tengah berdiri didepannya.


"Om Revan?"


"Aisyah?" Revan sama terkejutnya. " Kamu kok ada disini?" Lanjut Revan bertanya. Secepat kilat Revan menyembunyikan bunga yang ia bawa ke belakang tubuhnya. Walau sebenarnya Aisyah sudah melihatnya.


"Aku lagi main. Kalau Om sendiri mau ngapain ke sini?"


"Mm...." Revan mengusap tengkuknya. " Mm... Mau bertemu dengan... Difa," ucap Revan sedikit canggung.


" Oh... Mau bertemu dengan Difa," ucap Aisyah sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Siapa, Ais?" Seru Difa yang datang menghampirinya.


"Kamu?!" Difa terkejut melihat Revan yang tengah tersenyum manis terhadapnya.


Aisyah menatap lekat wajah Revan yang terlihat berbinar ketika bertemu dengan Difa.


Sepertinya Om Revan suka sama Difa?

__ADS_1


"Masuk, Om," suruh Aisyah yang mempersilahkan Revan masuk.


"Nggak! Ngapain di suruh masuk!" Protes Difa dan mendelik sebal ke arah Revan.


"Nggak baik membiarkan tamu berdiri di luar," ujar Aisyah, sambil mengulum senyumnya.


"Nggak ada... Nggak ada. Aku nggak ngizinin dia masuk ke dalam rumah." Tolak Difa.


"Ya sudah, terserah kamu. Aku masuk dulu," ucap Aisyah yang kembali masuk.


Setelah Aisyah tidak ada. Revan mengulurkan bunga yang dari tadi ia sembunyikan di belakang tubuhnya.


"Ini untuk kamu." Seraya mengulurkan bunganya.


Difa mendengus dan tak suka dengan sok perhatiannya Revan. Walau tidak suka, Difa tetap menerima bunga dari Revan.


"Sudah aku terima bunganya. Sekarang kamu pergi dari sini. Kamu tahu kan dimana pintu keluarnya." Difa mengusir Revan terang-terangan.


"Aku nggak diajak masuk dulu."


"Nggak! Lebih baik kamu pergi dari sini." Difa jelas tidak mengizinkan Revan masuk.


"Baiklah." Revan memilih mengalah. Revan pikir masih banyak waktu untuk mendekati Difa.


Revan pun pergi dari rumah Difa dan Revan berjanji akan datang menemuinya lagi. Tidak peduli kalau Difa bakal muak terhadapnya.


***


"Ciluk ba!!" Seru Byan, yang langsung membuat Afkar tertawa terbahak-bahak.


Aisyah kemudian bergabung dan membawa potongan buah-buahan untuk Byan.


"Ketawanya renyah banget," ujar Aisyah.


"Itu tandanya Afkar bahagia bermain denganku," jawab Byan membanggakan dirinya sendiri.


"Maaf, mas Byan. Di depan ada tamu," seloroh bibi Nuri.


"Siapa?"


"Saya tidak tahu."


"Ya sudah, kalau gitu aku akan menemuinya." Lalu bibi Nuri pergi ke dapur.


Byan segera menemui tamunya yang ternyata Revan.


"Om, tumben ke sini?" Tukas Byan.


"Iya... Om ada urusan sama kamu."


"Urusan apa?" Tanya Byan yang penasaran dengan apa yang akan Revan katakan.

__ADS_1


"Aku mau tanya. Kapan ulang tahun Difa?"


Byan tersentak mendengar ucapan Revan dan sejak kapan om-nya itu dekat dengan Difa?


"Aku nggak tahu," jawab Byan yang menang tidak tahu.


"Mungkin istri kamu tahu," sambung Revan, yang sangat berharap kalau Aisyah mengetahui ulang tahun Difa.


"Sebentar, aku panggil Ais dulu."


Byan baru saja akan memanggil Aisyah, tapi kini Aisyah mendatanginya sambil membawa Afkar.


"Sayang, Om Revan nanya. Kamu tahu kapan ulang tahun Difa?" Ujar Byan.


Aisyah mengingat-ingat dulu." Kalau nggak salah tanggal 24 Desember."


"Berarti besok ya ulang tahunnya," timpal Revan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


Tiba-tiba Aisyah teringat dengan Dafa. Dulu setiap Dafa ulang tahun, Aisyah pasti sibuk mencari kado buat Dafa. Lalu Aisyah menatap sendu wajah Afkar. Walau Aisyah sudah tidak mencintai Dafa, tapi berkat Dafa, dirinya masih bernafas sampai detik ini dan bahkan hatinya Dafa sudah bersatu bersama dengan raganya.


Selamat ulang tahun, Dafa....


Setelah Revan pulang, Aisyah tengah menemani Afkar tidur. Tidak lama, Byan datang dan ikut bergabung tidur di ranjang.


Byan memeluk Aisyah dari belakang dan mengecupi kepalanya Aisyah.


"Kak...."


"Hmm... Kenapa?"


"Besok kita pergi ziarah ke makam Dafa. Sekalian kita mengucapkan selamat ulang tahun untuk Dafa."


"Boleh. Besok kita ke makam Dafa dan kita ajak Afkar bertemu dengan papa kandungannya."


Selama ini Byan selalu memperlihatkan foto Dafa kepada Afkar. Walau Afkar masih kecil dan belum mengerti, Byan selalu mengatakan kalau yang ada di dalam foto tersebut adalah papanya. Papa Dafa yang sama sayangnya terhadap Afkar dan sampai kapanpun Byan tidak bisa merubah fakta yang sebenarnya, kalau Afkar itu adalah anak kandung Dafa.


***


Keesokan harinya, Byan, Aisyah dan Afkar kini sudah bersimpuh di depan pusara Dafa. Aisyah menaburkan bunga ke makam Dafa, begitu juga dengan Byan yang membantu Afkar tabur bunga.


"Dafa, kami bertiga datang menemui kamu disini, untuk mengucapkan Selamat ulang tahu. Semoga di hari ulang tahun kamu yang sekarang, kamu ditempatkan di surga dan pastinya kamu selalu bahagia di sana. Dafa... Lihatlah anakmu sekarang. Afkar tumbuh dengan sehat dan semakin pintar. Kamu pasti senang melihat anak kamu yang semakin hari semakin tampan seperti dirimu. Sekali lagi aku ucapkan selamat ulang tahun." Byan mengelus nisannya Dafa dengan tatapan sendu.


"Afkar, ini adalah papa Dafa, papa kandung Afkar. Papa yang begitu sayang sama Afkar. Nanti kalau Afkar sudah besar, jangan pernah lupa mendoakan papa Dafa," imbuh Byan sambil menuntun tangan mungil Afkar ke nisannya Dafa.


"Ini papa...." Ucap Byan mengejanya.


"Ppaapp... Ppaapp...." Celoteh Afkar, seolah mengerti apa yang diucapkan oleh Byan.


"Pintar anak papa...." Puji Byan.


Dafa, selamat ulang tahun. Semoga kamu selalu bahagia di sana. Ulang tahunmu kali ini, aku hanya bisa memberimu sebuah doa. Doa agar kamu mendapatkan tempat yang indah di surga-Nya Allah.

__ADS_1


__ADS_2