Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Bertemu dengan Mba Ijah


__ADS_3

Hari ini Byan memutuskan untuk tidak bekerja dulu, ia akan bekerja dari rumah saja dan efek dari keserempet semalam membuatnya merasakan pegal-pegal di tubuhnya. Walau tubuhnya tengah merasa sakit, Byan tidak ingin mengabaikan pekerjaannya. Apalagi banyak pekerja yang bergantung terhadapnya dan pastinya Byan tidak mau lalai, walau dirinya tidak masuk ke kantor.


Byan saat ini tengah berada di kamar sambil mengerjakan beberapa pekerjaan yang di kirim oleh Erick lewat email dan untung saja kedua jagoannya tidak ada di kamar, sehingga membuatnya sedikit lebih fokus dan pastinya tidak diganggu oleh Afkar yang selalu menempel kepadanya.


Aisyah datang membawa jus melon dan meletakkannya di atas meja, kemudian duduk di samping Byan.


"Kak, ini aku buatkan jus untuk kakak."


"Iya, sayang. Terima kasih," ucap Byan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.


"Anak-anak sama siapa?" Tanya Byan yang menghentikan pekerjaannya sebentar hanya untuk meminum jus melon buatan sang istri tercinta.


"Sama suster dan bibi Nuri."


"Oh...." Jawab Byan seraya menganggukkan kepalanya. Lalu Byan melanjutkan pekerjaannya, hingga tak terasa waktu sudah hampir siang. Byan menyudahi pekerjaannya dan melangkah keluar mencari anak dan istrinya.


Byan pun kini ikut bergabung dengan Afkar yang tengah bermain dan Aisyah yang tengah menyusui baby Zero.


"Apa masih pegel, kak?" Tanya Aisyah.


"Lumayan."


"Kalau masih terasa pegal. Aku akan menyuruh Mang Asep cari tukang pijat."


"Boleh, tapi nanti malam saja."


Aisyah pun mengangguk, lalu Aisyah mengangkat tubuh baby Zero ke bahunya dan menepuk-nepuk punggung baby Zero, agar baby Zero bersendawa.


"Sayang, nanti ikut aku ya. Aku mau nengok ibu-ibu yang semalam aku tolong. Kasihan si ibu itu, beliau tinggal seorang diri dan tidak memiliki keluarga," ucap Byan yang merasa iba terhadap si ibu yang ia tolong semalam.


"Iya," jawab Aisyah.


Sesuai yang dikatakan oleh Byan, hari itu mereka pergi ke rumah si ibu yang telah di tolong oleh Byan. Kurang lebih satu jam Byan dan Aisyah sampai di alamat si ibu.


Untuk sampai ke rumah si ibu, Byan dan Aisyah harus berjalan melewati gang-gang kecil dan sesampainya di rumah si ibu, Aisyah dan Byan mengetuk pintunya. Tidak lama pintu pun terbuka dan menampakkan si ibu.


Aisyah menautkan kedua alisnya saat bertemu si ibu dan mengingat-ingat wajah si ibu.


'Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana ya? dan wajah si ibu tidak asing bagiku, tapi aku lupa.' Batin Aisyah.


Aisyah berusaha mengingat si ibu yang berdiri didepannya.


"Eh! Mas Byan. Mari masuk," kata si ibu, yang mempersilahkan masuk.


"Ayo sayang kita masuk," ajak Byan, lalu Aisyah segera masuk ke dalam rumah si ibu.


Aisyah mengedarkan pandangannya melihat setiap sudut rumah si ibu. Rumah sederhana  dan berdinding dari papan. Lalu pandangannya Aisyah jatuh kepada sebuah foto yang tergantung di dinding kayu. Foto dua anak kecil yang gambarnya sudah usang.

__ADS_1


Penasaran, Aisyah mendekati bingkai foto tersebut agar lebih jelas melihat fotonya.


"Itu kan foto---." Sambil menunjuk fotonya.


"Itu foto anak mantan majikan saya, neng." Si ibu segera menjawabnya. Aisyah kemudian mengalihkan pandangannya dari foto ke wajah si ibu.


Tatapan Aisyah begitu lekat menatap si ibu dan sedetik kemudian Aisyah meneteskan air matanya. Aisyah sudah ingat sekarang, siapa si ibu yang berdiri didepannya.


Aisyah kemudian menghamburkan dirinya untuk memeluk si ibu dan ini membuat si ibu ataupun Byan menjadi bingung, melihat Aisyah yang tiba-tiba memeluk si ibu.


"Mba Ijah...." Lirih Aisyah, sambil menangis. Ya... Si ibu itu adalah Mba Ijah, orang yang dulu mengasuhnya saat dirinya masih kecil dan tinggal bersama almarhum papa Adam.


Yang di panggil Mba Ijah hanya  terdiam, sambil mengingat orang yang tengah memeluknya.


"Mba Ijah masih ingat sama Ais?"


"Ais?"  Hanya satu yang sering dipanggil Ais adalah anak mantan majikannya yang sudah meninggal.


"Iya, Aisyah Ayumna Putri. Mba masih ingat nama itu?" Kata Aisyah, lalu Mba Ijah mengangguk pelan.


"Mba... Ini aku Ais...."


"Non Ais?" Mba Ijah mengangkat tangannya dan menyentuh wajah  Aisyah dan  kedua bola matanya Mba Ijah berkaca-kaca. Ais, Nona kecilnya yang dulu sering menangis setelah kepergian tuan Adam. Nona kecilnya yang dulu terpisah dengan ibu kandungnya, tapi kini Nona kecilnya sudah tumbuh dewasa dan bertambah cantik.


"Ini beneran, Non Ais?" Mba Ijah masih belum percaya bisa bertemu lagi dengan Aisyah.


"Ya Tuhan, Non Ais...." Mba Ijah terisak dan kembali memeluk Aisyah.


***


Aisyah dan Byan kini sudah duduk setelah tadi saling melepas rindu dengan Mba Ijah. Mba Ijah tidak mau menceritakan tentang hidupnya setelah berhenti bekerja dari rumah almarhum papa Adam. Akan tetapi di dalam hati Aisyah masih mengganjal tentang kehidupan Mba Ijah.


Mba Ijah datang dari arah dapur dan menyuguhkan minuman untuk Aisyah dan Byan.


"Maaf, hanya air minum yang Mba suguhkan." Sambil meletakkan gelasnya di atas meja.


"Terima kasih, Bu," ucap Byan.


"Mba, duduknya sini," suruh Aisyah.


Mba Ijah pun menurutinya dan duduk disampingnya. Lalu Aisyah menarik tangan Mba Ijah yang kini sudah terlihat tua.


"Mba, Ais nggak tahu apa yang sudah terjadi dengan hidup Mba setelah berhenti bekerja di rumah papa Adam. Tapi Ais ingin Mba ikut dengan Ais dan tinggal bersama Ais," pinta Aisyah.


"Tapi Non, Mba kan sudah tua dan juga sudah sering sakit-sakitan."


"Nggak apa-apa. Jangan pikirkan itu, asalkan Mba Ijah mau kan tinggal bersama kami," ucap Aisyah sedikit memaksa.

__ADS_1


Mba Ijah terdiam dan bingung. Sebenarnya di dalam lubuk hatinya Mba Ijah pengen ikut kerja bareng Aisyah, tapi mengingat dirinya yang sering sakit membuatnya dilema.


"Bu, lebih baik ibu ikut saja dengan kami. Soal ibu sering sakit-sakitan, saya akan membantu ibu untuk berobat. Anggap saja kalau kami ini anak ibu," ujar Byan.


"Baiklah... Saya ikut." Jawab Mba Ijah sedikit ragu. Kemudian Aisyah memeluk Mba Ijah.


Aisyah kini tersenyum lebar dan hari itu juga Aisyah mengajak Mba Ijah untuk tinggal bersama dengannya.


Sesampainya di rumah, Mba Ijah segera diajak masuk. Aisyah juga sudah menelpon Marshall untuk datang ke rumahnya.


"Kenalin Mba, ini anak Ais yang pertama dan yang satunya lagi tengah tidur." Aisyah memperkenalkan Afkar, setelah itu Mba Ijah diperkenalkan dengan bibi Nuri dan pengasuhnya Afkar. Sedangkan Byan kembali ke kamarnya untuk melanjutkan pekerjaannya.


Tidak lama Marshall datang bersama gadis kecilnya.


"Afkaaall...!!" Teriak Shania yang berlari mendekati Afkar yang tengah menonton film kartun si anak kembar yang tak memiliki rambut .


Marshall ikut duduk bersama Shania dan Afkar, sambil mengelus kepala Afkar.


"Bang...." Panggil Aisyah yang baru turun dari tangga sambil menggendong baby Zero.


"Apa? Tadi kamu nyuruh Abang ke sini mau ngapain?" Tanya Marshall.


"Abang tunggu di sini." Aisyah kemudian melangkah ke kamar Mba Ijah dan mengajaknya ikut bersamanya ke depan.


"Bang... Masih ingat dengannya?" Aisyah menunjuk ke arah Mba Ijah.


Marshall terbelalak melihat orang yang dulu bekerja bersama keluarganya.


"Mba...." Marshall lupa dengan namanya, tapi wajahnya tidak lupa.


"Mba Ijah, den," sambung Mba Ijah sambil tersenyum.


"Ah! Iya, Mba Ijah! Aku baru ingat namanya. Apa kabar Mba." Marshall segera menghampiri Mba Ijah dan bersalaman dengannya.


"Alhamdulillah, Mba baik," jawab Mba Ijah dengan senyuman yang terus terpatri di bibirnya.


"Ya ampun Mba Ijah! Sudah lama banget kita tak berjumpa." Ujar Marshall, yang tak menyangka bisa bertemu lagi dengan Mba Ijah.


Tiba-tiba Marshall teringat akan masa kecilnya bersama keluarganya. Terutama kepada papa Adam dan mamanya yang sudah tenang di alam surga.


Marshall kini merindukan orang tuanya dan berjanji di dalam hatinya besok ia akan datang berkunjung ke makam papa Adam dan kedua orang tuanya.


"Pasti Almarhum tuan Adam sangat senang melihat kalian sudah tumbuh dewasa dan memiliki anak. " Ucap Mba Ijah, mengingat papa Adam.


"Uuh .. . Aku jadi kangen sama papa." Aisyah berubah murung dan teringat dengan papa yang sangat ia sayangi. Papa adalah pahlawan di hidupnya. Papa adalah cinta pertamanya.


"Kalau begitu besok kita ziarah ke makam papa dan rasanya kita sudah lama sekali tidak ziarah ke makam papa," timpal Marshall yang dianggukin oleh Aisyah.

__ADS_1


Berharap dengan datang ke makam papa Adam, rasa rindunya sedikit berkurang.


__ADS_2