Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Ladang versi Byan


__ADS_3

Pagi itu Aisyah malas sekali untuk bangun, karena saking nyamannya ia tidur. Apalagi ranjang yang ia tempati terus terayun dan membuat Aisyah semakin terbuai dalam tidurnya.


Berbeda dengan Byan yang sudah bangun dan pagi itu Byan hanya berbalut bathrobe. Byan membangunkan Aisyah yang masih betah berada di atas ranjang.


"Sayang... Ayo bangun."


"Hmm...." Aisyah sungguh sangat malas membuka matanya dan masih ingin tidur.


"Bangun dulu. Kamu harus sarapan dulu, sayang." Sambil menepuk lembut pipi Aisyah.


"Aku masih ngantuk... Lima menit lagi ya...." Tawarnya.


"Baiklah."


Byan pun membiarkan Aisyah tidur lagi. Sekitar tiga puluh menit, akhirnya Aisyah bangun dan meregangkan ototnya. Kemudian Aisyah mengedarkan pandangannya, mencari Byan yang tidak terlihat di sana. Lalu Aisyah turun dari ranjang dan melangkah keluar.


Aisyah tersenyum melihat Byan yang tengah melakukan olahraga push up. Kemudian Aisyah mendekati Byan dan berdiri di samping Byan.


"Tumben kakak olahraga?" Ledek Aisyah, yang memang jarang melihat Byan berolahraga.


Byan menghentikan push up-nya dan berdiri. "Biar tubuhku nantinya kuat dan bila sudah saatnya aku menggarap ladangnya, semua otot-ototku sudah terlatih dengan sangat baik."


Aisyah mengerutkan keningnya mendengar perkataan Byan dan Aisyah tidak tahu ladang yang dimaksud Byan.


"Memangnya kakak berniat bercocok tanam?" Tanya Aisyah bingung dan sejak kapan suaminya itu membeli ladang? Terus kenapa dirinya tidak tahu kalau Byan akan beralih profesi.


"Sangat niat sekali, tapi waktunya belum tiba. Aku harus menunggu sampai kamu lahiran. Setelah itu, aku akan sangat ahli dalam bercocok tanam," jawab Byan dengan senyum mesumnya.


Aisyah semakin mengernyitkan dahinya. "Kenapa harus menunggu aku lahiran, jika kakak sudah berniat bercocok tanam," kata Aisyah heran. "Lalu kakak beli ladangnya di daerah mana? Apa kakak susah mencari para pekerja yang mau menggarap ladang milik kakak, sampai-sampai harus menunggu aku lahiran?"

__ADS_1


"Aku pikir kamu mengerti soal ladang yang aku maksud," ucap Byan yang langsung tertawa, saat tahu Aisyah tidak ngeh dengan menggarap ladang yang ia maksud.


"Kenapa kakak tertawa? Memang ladang apa yang tidak aku mengerti?" Tanya Aisyah yang benar-benar tidak tahu soal ladang yang dimaksud Byan.


"Sudah lupakan," sahut Byan dan memilih menghentikan pembicaraan tentang ladang dan bercocok tanam.


"Iiihh, kakak! Aku kan ingin tahu ladang apa yang tidak aku mengerti?"


"Nanti juga kamu bakal tahu yang dimaksud ladang versiku."


"Memang ada ladang versi, kakak?"


"Ada," jawab Byan sambil berlalu masuk ke dalam kamar.


Aisyah merengut manyun, karena perkataan Byan ambigu dan membuatnya harus berpikir keras soal ladang yang dimaksud Byan.


***


Byan sengaja merogoh kocek lebih demi bisa membahagiakan Aisyah.


"Kita naik kapal ini?" Tanya Aisyah sebelum naik ke kapal.


"Iya, ayo naik." Byan mengulurkan tangannya, membantu Aisyah naik ke kapal.


Kapal pun kini mulai meninggalkan dermaga dan membawa sepasang suami istri ke tengah laut. Aisyah sangat menikmati perjalanan lautnya, bahkan senyumnya tak pernah pudar dari bibirnya.


Pemandangan laut lepas, serta langit biru yang cerah. Melambungkan kebahagiaan Aisyah.


"Kak, aku ingin merasakan adegan terbang seperti Rose dan Jack," ujar Aisyah.

__ADS_1


"Boleh. Ayo kita ke ujung kapal ini."


Keduanya kini berdiri di ujung kapal, lalu adegan seperti film Titanic yang seperti terbang pun kini keduanya lakukan. Meski ada rasa takut saat berdiri di ujung kapal, tapi Aisyah tetap ingin merasakan adegan Jack dan Rose. Selain itu juga, Aisyah percaya dengan Byan yang akan menjaganya dari belakang.


"Wow! Ternyata sangat menyenangkan," ucap Aisyah dengan lantang.


Byan sangat senang melihat istri tercintanya bahagia. Lalu Aisyah berkata. "Kak, ayo kita ciuman."


Tanpa banyak kata, Byan langsung menyambar bibirnya Aisyah. Keduanya hanyut dalam buaian api asmara yang semakin membakar rasa cintanya.


Puas menaiki kapal dan mengarungi lautan. Kini Byan dan Aisyah memutuskan untuk mengakhiri liburan singkatnya.


Sesampainya di rumah, Mang Asep membawa sebuket bunga yang ia terima tadi siang. "Maaf, neng. Ini ada titipan bunga."


"Bunga dari siapa?" Tanya Aisyah, sambil menerima bunga tersebut.


"Tidak tahu, neng. Soalnya yang ngantar bunga kurirnya."


"Oh... Ya sudah, terima kasih ya, Mang."


Aisyah mencari kartu ucapan yang biasanya terselip di antara bunga, lalu Aisyah membuka kartu tersebut. Setelah tahu siapa pengirimnya, Aisyah membuang bunga tersebut ke tong sampah.


"Siapa pengirimnya?" Tanya Byan yang bingung melihat bunga tersebut teronggok di tempat sampah.


"Si pengganggu rumah tangga kita," jawab Aisyah, yang enggan menyebutkan nama yang akhir-akhir ini sering mengganggunya.


"Dafa?"


"Ya!" Jawab Aisyah malas mendengar nama Dafa di sebutkan.

__ADS_1


Byan menggelengkan kepalanya, dengan apa yang Dafa lakukan. Ternyata Dafa terus saja mengejar Aisyah dan tidak peduli kalau Aisyah sudah bersuami.


Sepertinya aku harus memberi peringatan keras kepada Dafa. Kalau dibiarkan saja, dia akan semakin berani. Baiklah, besok aku harus bertemu dengannya.


__ADS_2