
Hari kedua, Bella sudah diperbolehkan pulang karena kondisi Bella sudah lebih baik. Sebelum pulang, Bella berniat menjenguk cucunya dulu.
Biasanya baby Afkar jam segini berada di kamar inap Aisyah. Jadi Bella dan Aditya segera melangkah ke kamar inap Aisyah. Hampir semalam tidak bertemu dengan baby Afkar, membuat rasa rindu Bella begitu membuncah di hatinya.
Bella selalu berbinar jika melihat baby Afkar, karena bisa mengurangi kesedihannya dan juga kerinduannya terhadap Dafa.
Setibanya di kamar inap Aisyah. Bella melangkah cepat ke arah baby Afkar yang kebetulan tengah digendong oleh Zee. Di ruangan itu juga ada Hana, Aries dan Marshall.
Bella merebut baby Afkar dari gendongan Zee dan menimang-nimang baby Afkar dengan sayang. Bella tidak memperdulikan keterkejutannya Zee, sebab Bella sudah tidak sabar ingin menggendong baby Afkar dan menciumi baby Afkar. Zee sedikit terkejut dengan Bella yang main rebut saja baby Afkar dari gendongannya.
Hana hanya menatap heran dengan apa yang dilakukan Bella, tapi Hana mencoba untuk mengerti tentang kondisi Bella. Hana juga baru tahu kemarin sore tentang Dafa yang mengorbankan dirinya untuk Aisyah. Hana sangat terharu dan tak menyangka saat mengetahui kalau Dafa yang mendonorkan hatinya untuk Aisyah.
"Jeng Bella sini sambil duduk," kata Hana sambil menepuk sofa kosong disebelahnya.
Bella pun mengangguk dan duduk disamping Hana. Tatapan Bella tidak pernah lepas dari wajah baby Afkar. Baginya baby Afkar adalah penyemangat hidupnya yang baru.
"Baby Afkar pintar banget minum susunya ya, jeng," ujar Hana sambil mengelus pipi baby Afkar.
"Iya, benar. Bahkan kuat banget mimi susunya," jawab Bella, tak kalah senangnya melihat cucunya itu.
Aditya dan Aries juga tengah berbincang. Keduanya membicarakan laba perusahaannya masing-masing dan tiba-tiba Bella bersuara kepada suaminya.
"Pa, kita bawa baby Afkar ke rumah ya." Bella berkata dengan mimik serius.
"Jangan dong, ma. Kalau baby Afkar dibawa gimana sama aku," timpal Aisyah, yang menolak perkataan Bella.
"Baby Afkar kan cucuku, terserah aku dong. Harusnya kamu bersyukur karena kamu masih hidup, kalau bukan karena Dafa mungkin kamu sudah mati."
Semua orang yang berada di sana tercengang dengan perkataan Bella yang begitu menusuk hati Aisyah. Sedangkan Aisyah hanya tertegun dengan ucapan Bella. Aisyah tidak mengerti dengan perkataan Bella barusan.
"Ma! Kenapa mama bicara seperti itu. Apa mama sudah lupa apa kata Dafa!" Aditya membentak Bella dan mengingatkan lagi dengan apa yang dikatakan oleh Dafa.
"Maaf, maksudnya gimana? Jujur aku nggak mengerti?" Sela Aisyah yang bingung dengan semuanya.
"Nanti aku jelasin ke kamu," sahut Byan.
__ADS_1
"Aku maunya sekarang, nggak mau nanti," jawab Aisyah lagi.
"Oke. Aku akan mengatakannya. Sebenarnya orang yang telah mendonorkan hatinya untuk kamu adalah Dafa." Ungkap Byan.
"Apa?!" Aisyah membekap mulutnya saking terkejutnya. "Ja-jadi yang... Don-orkan hati i-itu Da-fa?" Suara Aisyah terasa tercekat saat berbicara dan Byan mengangguknya.
Wajah Aisyah terlihat sangat shock mendengar kenyataannya, sekaligus tidak menyangka dengan apa yang sudah Dafa donorkan.
"Sekarang kamu sudah tahukan siapa orang yang telah mendonorkan hatinya untuk kamu," cetus Bella.
"Ma! Kalau mama masih bicara seperti itu, sekarang juga kita pulang. Ucapan mama sudah menyakiti Aisyah dan sudah mengecewakan Dafa." Tegur Aditya.
Bella langsung menundukkan kepalanya. Bella teringat kembali dengan pembicaraan terakhirnya dengan Dafa, yang mengatakan kalau dirinya dan suaminya tidak boleh menyalahkan Aisyah dan jangan menyakiti hati Aisyah. Jika sampai menyakiti Aisyah, sama saja dengan menyakiti hatinya Dafa.
"Ayo, kita pulang saja." Sambung Aditya, yang terlihat kecewa dengan sikap Bella.
"Maaf... Atas sikapku yang sudah menyakiti Ais," sesal Bella kepada semuanya.
Bella kemudian menyerahkan baby Afkar ke tangan Hana, lalu dengan perasaan sedih Bella melangkah gontai keluar.
***
Malam harinya, Byan yang saat itu izin keluar kepada Aisyah, kini datang lagi sambil membawa sesuatu. Aisyah menatap bingung melihat barang-barang yang Byan bawa.
Byan pun kini duduk di tepi ranjang sambil memangku barang tersebut.
"Ini apaan, kak?" Tanya Aisyah menunjuk barang tersebut.
"Ini adalah barang titipan dari seseorang," jawab Byan sambil mengeluarkan selembar amplop dari sakunya.
"Ini surat apa?" Aisyah kembali bertanya saat Byan menyerahkan amplop tersebut.
"Aku juga nggak tahu isi surat itu, tapi surat itu untuk kamu dan kotak ini juga ditujukan buat kamu."
Aisyah pun menerima surat tersebut dan mulai membukanya.
__ADS_1
Dear Aisyah.
Saat kamu baca surat ini, mungkin aku sudah tidak ada di dunia ini dan pastinya kamu akan senang karena aku tidak lagi mengganggu hubungan kamu dan Byan. Mungkin juga kamu saat ini tengah tersenyum penuh kemenangan.
Pertama-tama aku cuma mau mengatakan kata maaf, karena selama ini aku sudah sering menyakiti kamu. Aku sudah sering membuat kamu menangis dan kecewa sedari dulu. Aku harap kamu bersedia memaafkan kesalahanku yang banyak.
Kamu jangan terkejut saat tahu kalau aku yang sudah mendonorkan hatiku untuk kamu dan jangan berharap untuk membalas Budi kepadaku. Kamu cukup jaga anak kita untukku.
Kamu juga jangan merasa bersalah dengan apa yang sudah aku lakukan, karena aku tulus memberikannya untukmu.
Karena aku sangat ingin melihat kamu sembuh dan tidak ingin melihat kamu terus-menerus kesakitan. Aku juga ingin melihat kamu bahagia dengan orang yang kamu cintai, walau hati ini terasa sakit karena kamu sudah tidak mencintaiku lagi. Tapi tak mengapa, karena itu semua salahku yang tidak pernah mencintai kamu.
Ais ... Izinkan hatiku menjadi separuh dari dirimu. Walaupun aku sudah tidak ada di dunia ini, tapi aku merasa akan terus hidup bersamamu.
Ais... Selama hidupku aku tidak pernah memberikan hatiku untukmu. Andai waktu bisa diputar aku ingin memberikan cintaku kepadamu.
Maaf, karena aku telat menyadari akan cintaku dan menyesali karena aku sering mengacuhkan kamu dan membuang pemberian dari kamu.
Ais... Walaupun ragaku sudah terkubur tapi cintaku kepadamu tidak akan pernah ikut terkubur.
Ais... Sekali lagi aku minta maaf karena aku sering kali menyakiti hati kamu. Jujur aku sangat menyesalinya. Aku harap kamu tidak lagi membenciku.
Ais ... Sebelum aku mengakhiri tulisanku ini. Bisakah kamu berjanji kepadaku. Tolong jaga dan rawat anakku. Katakan pada anakku kalau aku sangat menyayanginya dan sangat mencintainya.
Ais... Aku mau mengatakan banyak-banyak terima kasih, karena kamu sudah bersedia mempertahankan anakku dan tolong selipkan namaku diantara nama anakku.
Ais... aku titipkan anakku kepadamu dan juga Byan.
Dari
Dafansya Saputra
Aisyah melipat surat dari Dafa dengan derai air mata. Kemudian Aisyah menyentuh letak hatinya, dimana hatinya Dafa menetap didalam sana. Dimana hatinya Dafa telah bersatu dengan raganya dan memberikan kehidupan baru untuknya.
Lalu Aisyah membuka kotak tersebut dan kedua bola matanya semakin memanas ketika barang-barang yang tersimpan di dalam kotak adalah hadiah pemberian darinya. Hadiah yang selalu dibuang oleh Dafa di depan matanya.
__ADS_1
*Ternyata kamu tidak benar-benar membuangnya dan justru kamu menyimpan semuanya dengan rapi.*