
Malam itu Aisyah benar-benar sendiri. Semua orang tengah pergi untuk makan malam di luar. Aisyah hanya termenung seorang diri di kamar, sambil memikirkan lagi perubahan sikap Byan yang tiba-tiba berubah.
Aisyah mendesah samar dan merasa nasib hidupnya selalu saja berakhir dengan kesedihan yang menyakiti hatinya.
Apa aku nggak pantas hidup bahagia dengan orang yang aku cintai? Apa hidupku selamanya selalu disakiti? Jika memang hidupku hanya untuk disakiti, kenapa harus diberikan kebahagiaan semu?.
Aisyah kemudian memegangi dimana letak hatinya.
Jika hanya untuk disakiti, kenapa kemarin aku dibiarkan hidup. Padahal aku tak mengapa jika harus mati. Jika aku mati, mungkin hati ini tidak akan lagi tersakiti dan merasakan rasa sakit ini.
Lalu Aisyah merebahkan dirinya di atas ranjang dan menatap langit-langit kamarnya.
TRIINGG
Sebuah pesan masuk ke ponselnya Aisyah, tapi Aisyah mengabaikannya dan enggan untuk melihat pesan yang masuk ke ponselnya.
TRIINGG
Satu pesan lagi masuk ke ponselnya. Terpaksa Aisyah melihat pesan tersebut. Sebuah nomor yang tak dikenal masuk ke ponselnya.
"Ini nomor siapa?"
Karena penasaran Aisyah membuka pesan tersebut. Kedua bola matanya membulat sempurna dan mulutnya menganga melihat isi pesan tersebut.
Beberapa foto Byan dengan seorang wanita. Foto pertama Byan tengah berjalan dengan wanita seksi dan memasuki sebuah hotel.
Foto kedua, Byan tengah memasuki kamar hotel dengan wanita itu. Bahkan wanita itu begitu mesra memeluk lengan berotot Byan.
Di dalam foto tersebut, Byan memberikan kecupan mesra di pucuk kepala wanita itu dan wanita itu orang yang ditemui Byan kemarin.
Hati Aisyah seketika meradang melihat foto-foto suaminya dan dadanya terasa sesak untuk bernafas. Istri mana yang tak akan sakit jika melihat suami yang sangat dicintainya itu tengah berduaan di dalam kamar hotel.
"Jadi beneran kakak selingkuh dibelakang aku...." Lirih Aisyah dan air matanya sudah jatuh membasahi pipinya.
Hatinya benar-benar sangat hancur dan Aisyah tak menyangka kalau Byan begitu tega mengkhianatinya.
"Aku harus labrak mereka berdua! Aku nggak mau diginiin sama lelaki brengsek kayak dia!" Aisyah menyeka air matanya dan bergegas ke hotel dimana suaminya berada.
Aisyah tidak perlu repot-repot mencari alamat hotel tersebut, sebab si pengirim memberikan alamat hotel tersebut.
Sepertinya kesabaran Aisyah harus diuji lagi, karena perjalanan menuju hotel tersendat karena ada yang kecelakaan.
"Lama banget sih jalannya?!" Gerutu Aisyah.
Hampir setengah jam terjebak, akhirnya mobil yang dikendarainya bisa melenggang keluar dan segera melajukan mobilnya ke hotel.
Tiba di sana Aisyah langsung turun dari mobil dan berjalan tergesa-gesa memasuki hotel tersebut. Aisyah harus menanyakan dulu kamar yang di pesan oleh Byan, setelah itu Aisyah meminta bantuan kepada security.
Aisyah tidak mau kalau ia memasuki kamar hotel itu sendiri dan Aisyah pikir harus ada orang lain agar ada saksi saat dirinya menggerebek suaminya itu.
Dengan langkah cepat dan gelisah, Aisyah akhirnya sampai di depan kamar hotel.
Aisyah terlebih dulu menarik nafasnya dalam-dalam dan menguatkan hatinya.
__ADS_1
"Gimana? Apa Mba sudah siap untuk masuk ke dalam?" Kata security.
"Iya, tapi tunggu. Aku harus merekamnya sebagai barang bukti," ujar Aisyah yang sudah siap merekam kelakuan Byan dibelakangnya.
"Saya hitung sampai tiga, Mba," kata security dan Aisyah menganggukkan kepalanya pelan.
Dengan perasaan yang tak karuan, Aisyah sudah siap menggerebek Byan.
"Satu... Dua... Tiga...."
Brakk
Pintu kamar hotel pun dibuka dan Aisyah segera masuk sambil merekam kelakuan Byan.
Aisyah terpaku dan membeku melihat Byan tengah berada di atas ranjang. Tenggorokannya terasa kelu dan tidak memperdulikan sekitarnya.
Air matanya kini menetes tanpa bisa dicegah. Aisyah perlahan mendekati Byan yang sama-sama terdiam. Tatapan Aisyah begitu dalam menatap kedua bola mata Byan.
"Maaf...." Hanya kata itu yang meluncur dari mulut manis Byan.
Seketika tangis Aisyah pecah.
"Hiks... Hiks... Hiks...."
Byan yang melihat Aisyah menangis langsung memeluk Aisyah.
"Kakak jahat sama aku...." Lirih Aisyah dan memukul dada bidang Byan.
"Iya, aku memang jahat. Makanya aku minta maaf."
"Selamat ulang tahun buat istriku tercinta."
Ya... Hari ini Aisyah tengah berulang tahun yang ke 22 tahun. Byan sengaja berpura-pura tidak lagi peduli dengannya, walau sebenarnya Byan tidak tega melakukan itu semua. Di kamar tersebut sudah di hiasai pernak-pernik ulang tahun dan beberapa foto kebersamaan keduanya tergantung di udara.
Aisyah tak menyangka, kalau Byan akan memberikan kejutan semanis ini. Bahkan Aisyah sendiri lupa dengan hati lahirnya.
"Sudah jangan nangis. Masa yang ulang tahun nangis," ledek Byan.
"Iiihh... Kakak." Aisyah memukul dada Byan kesal.
"Aku sebel sama kakak!" Sungut Aisyah.
"Iya, aku minta maaf. Tapi kamu suka kan dengan kejutannya."
"Hmm...."
Byan kembali memeluk Aisyah dan mengecup pucuk kepala Aisyah. Tiba-tiba Aisyah teringat dengan security yang datang bersamanya.
"Kemana security-nya?" Ujar Aisyah yang tak melihat security tersebut.
"Sudah pergi," jawab Byan.
__ADS_1
Kini tatapan Aisyah berubah tajam dan menusuk, membuat Byan mengerutkan keningnya.
"Lalu perempuan yang ada di foto itu siapa? Kenapa kakak begitu dekat dengan perempuan itu!"
"Siapa? Perempuan yang mana?" Byan berlagak tidak tahu.
"Ck... Pura-pura tidak tahu. Lalu ini apa?!" Aisyah menunjukkan foto tersebut ke depan wajah Byan.
"Oh... Dia...."
"Jawab! Siapa perempuan itu!" Ucap Aisyah ketus.
"Kalau kamu mau tahu, sekarang kamu ikut aku."
"Kemana?"
"Sudah, pokoknya ikut saja. Sekarang ganti baju kamu, aku sudah menyiapkan gaun untukmu." Seraya mendorong tubuh Aisyah ke kamar mandi, tidak lupa Byan menyerahkan gaunnya kepada Aisyah.
Sekitar tiga puluh menit Aisyah menyelesaikan dandanannya. Byan kini mengecupi pipi Aisyah dengan mesra.
"Cantiknya istriku," bisik Byan dan Aisyah pun tersipu malu.
"Aku ingin cepat-cepat memakan kamu," gumam Byan sangat pelan.
"Hah! Kakak ngomong apaan?" Aisyah tidak begitu jelas mendengar gumaman Byan.
"Nggak. Ayo, kita keluar dari sini," ajak Byan.
Aisyah dan Byan kini tengah berjalan ke sebuah taman hotel. Tempat yang akan menjadi surprise keduanya Aisyah.
"Coba kalau ada Afkar, pasti sangat menyenangkan bisa merayakan ulang tahunku bersamanya" ucap Aisyah yang tiba-tiba saja teringat dengan buah hatinya.
Byan tidak menanggapi keluhan Aisyah, tapi Byan mengusap jemari Aisyah yang melingkar di lengannya.
"Sebenarnya kita mau kemana?" Aisyah jadi penasaran, sebab Byan tidak mengatakan mau pergi kemana.
"Ke tempat yang kamu sukai, Sayang."
Tiba di taman, Aisyah menautkan kedua alisnya. Sebab suasana di taman gelap dan tidak terlihat ada orang di sana.
"Ngapain kita ke sini?"
Byan tidak menjawabnya, justru Byan menutup matanya Aisyah dengan telapak tangannya.
"Ayo, jalan ke depan," perintah Byan dan Aisyah menuruti perintah Byan.
"Ada tangga di depan, kamu pelan-pelan naiknya," ucap Byan.
Kini Aisyah sudah berada di taman yang sudah di sulap sebegitu indahnya.
"Siap ya, Sayang," bisik Byan dan Aisyah mengangguk.
Pelan-pelan Byan membuka telapak tangannya dari matanya Aisyah dan....
__ADS_1
"SURPRISE...."