Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Penyesalan Dafa


__ADS_3

"Terima kasih informasinya." Setelah itu, sambungan teleponnya di matikan.


Aditya duduk tersenyum, mendengar kabar soal Wulan. Aditya senang karena Dafa akhirnya mengetahui seperti apa Wulan itu.


"Akhirnya, kamu tahu seperti apa wanita yang kamu cintai itu," gumam Aditya.


Bella yang baru masuk ke dalam kamar, menatap heran melihat suaminya senyum-senyum sendiri.


"Papa kenapa senyum-senyum sendiri?"


"Eh mama. Sini ma, papa mau lihatin sesuatu."


Bella segera mendekati Aditya yang tengah duduk di atas ranjang. Aditya langsung menunjukkan sebuah foto seseorang yang tengah terbaring di ranjang rumah sakit.


"Wulan? Ini Wulan, pa?"


Aditya mengangguk, membenarkan kalau foto yang ia tunjukkan memang Wulan.


"Kenapa dengan dia?" Bella kembali bertanya.


"Kata orang suruh ku, Wulan habis keguguran."


"Keguguran?"


"Iya dan katanya Wulan diusir sama Dafa, karena ketahuan sedang berselingkuh dengan pacarnya," terang Aditya.


"Bagus deh kalau ketahuan. Dari sini Dafa tahu seperti apa Wulan itu."


"Ya, betul dan semoga Dafa tidak balik lagi sama wanita ular itu."


"Kayaknya nggak bakalan deh, pa," jawab Bella yakin.


Bella akhirnya bisa bernafas lega, karena kini Dafa tidak terjerat dalam lingkaran kehidupan Wulan.


***


Di Negara yang berbeda.


Dafa duduk termenung di pinggir taman, menatap langit yang gelap tanpa bintang. Ia tengah menunggu sahabatnya yang baru dikenalnya beberapa bulan lalu.

__ADS_1


Langit tanpa bintang, seperti dirinya yang kini hidupnya terasa kosong. Dafa mendesah samar, mengingat kembali kebodohannya yang menikahi Wulan.


"Apa ini hukuman buat aku, karena dulu aku menyakiti Ais,* ucapnya lirih.


Dafa akhirnya bisa merasakan hal yang sama seperti Aisyah, yaitu sama-sama disakiti oleh orang yang sangat disayanginya. Rasanya sangat menyakitkan sekali.


"Ais... Bagaimana kabarnya sekarang?"


Ada sejumput penyesalan yang ia rasakan dan ada segenggam rindu terhadap Aisyah. Bayangan-bayangan wajah sedih Aisyah teringat lagi di pelupuk matanya, bagaimana dulu dirinya memperlakukan Aisyah. Benar-benar sangat tidak memiliki perasaan.


Dafa mengusap wajahnya, rasanya saat ini juga ia ingin menemui Aisyah dan meminta maaf.


Disaat hatinya sedang gundah gulana, kedua bola matanya menangkap sosok yang sangat di kenalnya.


"Ais?" Dafa mengucek matanya, lalu mempertajam lagi penglihatannya.


"Benar itu Ais?"


Dafa tersenyum senang melihat Aisyah kini terlihat sangat cantik dan ceria. Dafa bangkit dari duduknya dan siap melangkah menghampiri Aisyah.


"Daf, sorry telat datangnya," ujar Edo, sahabat yang ditunggunya sejak tadi.


"Ais...!" Panggil Dafa.


Tiba-tiba langkah kakinya berhenti saat melihat Byan kini ada di dekat Aisyah, lalu Byan dan Aisyah berlalu dari sana dengan wajah penuh bahagia. Apalagi Dafa melihat Aisyah mencium pipinya Byan dengan mesra, serta wajah Aisyah berseri-seri ketika Byan membalas ciuman mesranya di kening Aisyah.


Dafa yang melihat itu, langsung menatap lesu." Ternyata kamu bahagia hidup bersamanya," gumam Dafa sendu.


Kemudian Dafa berjalan gontai ke arah Edo, yang menatapnya penuh tanya.


"Kamu kenapa?" Tanya Edo.


"Nggak apa-apa," jawab Dafa lesu.


***


Setelah puas seharian berjalan-jalan di ibukota Tokyo, Aisyah, Byan dan Icad pulang malam itu juga. Aisyah terus menyenderkan kepalanya ke bahu Byan dan sesekali mencium lengan berototnya Byan.


"Terima kasih ya kak," kata Aisyah.

__ADS_1


"Terima kasih untuk apa?"


"Untuk semuanya yang sudah kakak berikan untukku."


"Iya. Memang itu sudah tugasku membuatmu senang," tukas Byan sembari mencium kepala Aisyah.


"I love you...." Ucap Aisyah.


"Aku juga mencintai kamu," balas Byan.


Setelah menempuh perjalanan udara. Akhirnya pesawat yang mereka tumpangi akhirnya mendarat di bandara internasional Soekarno Hatta.


Ketiganya langsung pulang ke rumah dan setibanya di rumah, Aisyah langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.


"Akhirnya sampai juga di rumah," seru Aisyah.


Saat sedang menikmati rebahan nya, Aisyah batuk kecil sembari menutup mulutnya. Aisyah terkejut melihat ada sedikit darah di telapak tangannya.


"Sayang...." Teriak Byan dari arah luar kamar.


Aisyah cepat-cepat mencari tisu dan mengelap noda darah di telapak tangannya dan juga bibirnya. Aisyah tidak mau membuat Byan khawatir dengan keadaan dirinya. Sebisa mungkin Aisyah tetap terlihat biasa saja dan tidak mau menunjukkan kesakitannya di depan Byan.


"Sayang...." Byan datang menghampirinya


"Iya, kenapa kak?" Jawab Aisyah, yang langsung menyembunyikan tisu bekas mengelap noda darahnya.


"Kamu mau makan sama apa?" Tawar Byan, yang akan pesan makanan lewat aplikasi.


"Aku mau masak saja."


"Kamu yakin mau masak? Memang nggak capek?"


"Nggak. Biasa aja, tapi kalau kakak mau pesan makanan buat kakak sendiri nggak apa-apa. Kalau untuk aku biar aku masak sendiri saja."


"Oke, tapi beneran nggak mau pesan makanan?"


"Iya, beneran." Jawabnya yakin, lalu Byan pergi dari hadapannya, sembari memesan makanan.


Aisyah menatap tisu bekas yang ada di genggamannya dan setetes air matanya menetes.

__ADS_1


Ya Tuhan... panjangkan lah umurku., aku ingin hidup lebih lama lagi bersama suamiku dan juga anakku.


__ADS_2