
Byan keluar dari perusahaan, tempat dimana ia melamar pekerjaan. Wajahnya berbinar senang karena Byan diterima bekerja di perusahaan tersebut dan besok Byan sudah bisa langsung kerja.
Rasanya Byan ingin sekali menumpahkan rasa bahagianya kepada Aisyah. Maka Byan bergegas ke kampusnya Aisyah untuk menjemputnya sekaligus ingin merayakan keberhasilannya diterima bekerja dengan Aisyah.
Tiba di kampus, Byan mengirim pesan singkat kepada Aisyah. Mengabari kalau dirinya sudah menunggunya di parkiran kampus.
Beberapa menit menunggu, Byan memilih menunggu Aisyah di luar mobil. Dari jauh Aisyah sudah melihat Byan berdiri disamping mobil dan secepatnya Aisyah menghampiri Byan yang berbinar senang. Aisyah menatap heran wajah Byan, karena dari tadi Byan terus tersenyum lebar.
"Kayaknya lagi senang banget nih...." Cetus Aisyah.
"Memang. Aku memang lagi senang banget," jawabnya dengan suara ceria.
"Apa yang membuat kakak senang?"
"Hari ini aku di terima kerja, makanya aku senang."
"Memang sebelumnya kakak kerja dimana?" Tanya Aisyah, yang memang tidak tahu kalau sebelumnya Byan bekerja di perusahaan papinya.
"Kerja di kantor papi dan kamu tahu sendiri kalau papi sedang marah sama aku."
"Oh... Kalau gitu, selamat ya, kak...." Byan menganggukkan kepalanya, dengan senyum terus tersungging.
Byan dan Aisyah segera naik mobil dan meninggalkan area kampusnya Aisyah.
"Kamu capek nggak." Tanya Byan, melirik sekilas ke arah Aisyah, lalu kembali melihat jalanan.
"Nggak, kenapa memangnya?"
"Aku mau ajak kamu makan di tempat yang view nya bagus. Mau nggak?"
"Mau. Kalau gitu cepat kakak ajak aku ke sana."
"Oke...."
Byan segera memacukan mobilnya ke tempat yang dituju. Butuh satu jam sampai di sana. Kedua bola mata Aisyah terpaku melihat tanaman bunga yang berjejer di sepanjang jalan. Ternyata benar kata Byan ditempat ini pemandangannya sangat bagus dan juga cuacanya sejuk.
"Aku suka daerah sini. Tempatnya bagus dan masih asri," ujar Aisyah seraya melepaskan seat beltnya.
"Syukurlah kalau kamu suka. Ayo kita turun."
Aisyah semakin terkagum begitu sudah berada di dalam restoran tersebut. Hamparan pepohonan dibawah sana, juga kebun bunga yang sangat luas. Aisyah duduk dan sangat menikmati pemandangan tersebut, apalagi langitnya juga cerah.
Aisyah mengusap lengannya karena cuaca disana terasa dingin, padahal ini siang hari. Byan baru saja selesai memesan makan dan melihat Aisyah kedinginan segera mendekatinya.
__ADS_1
"Dingin ya?" Kata Byan dan Aisyah menganggukkan kepalanya.
Byan menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, lalu menempelkannya ke telapak tangan Aisyah. Beberapa kali Byan menggosok-gosokkan telapak tangannya, lalu ditempelkan lagi ke tangannya Aisyah. Walau hal kecil yang di lakukan oleh Byan, tapi mampu membuat Aisyah tersenyum senang.
"Harusnya tadi aku bawa jaket," ucap Byan yang merasa bersalah.
"Sudah, nggak apa-apa kok."
"Biar kamu nggak kedinginan, bagaimana kalau aku peluk," ucapnya sembari mengangkat kedua alisnya.
"Modus."
"Nggak apa-apa modus sama istri sendiri. Daripada kamu semakin kedinginan, apalagi kamu kan lagi hamil." Byan terus berusaha merayu Aisyah.
Aisyah memutarkan bola matanya. Akan tetapi Byan langsung merangkul pundak Aisyah dan menyenderkan kepalanya ke bahunya. Byan juga menautkan jemarinya ke jemari Aisyah.
Ternyata nyaman juga bersandar di bahunya kak Byan. Coba kalau aku sudah bisa mencintainya, tapi sayangnya aku belum bisa membuka hatiku untuk kak Byan.
"Permisi, ini pesanannya," ucap pelayan restoran dan langsung meletakkan pesanannya di atas meja.
"Terima kasih, mba," ucap Aisyah.
"Iya, sama-sama. Silahkan menikmati...."
Byan dan Aisyah segera memakannya dengan pemandangan yang indah.
***
Selesai makan, Byan mengajak Aisyah ke kebun bunga. Aisyah tampak senang melihat-lihat hamparan kebun bunga di depan matanya. Beberapa kali Aisyah mengabadikan dirinya dan Byan lewat handphonenya.
"Ais, aku ke sana dulu sebentar." Tunjuk Byan ke arah toilet.
"Iya, tapi jangan lama-lama." Byan mengangguk dan pergi ke toilet.
Sebelum melangkah masuk ke toilet, Byan menoleh ke arah Aisyah, memastikan Aisyah tidak melihatnya. Byan tidak masuk ke toilet, tapi Byan melangkah ke arah penjual bunga.
Selesai membeli bunga, Byan kembali menghampiri Aisyah yang tengah berfoto Selfi.
Aisyah yang sibuk melihat hasil jepretannya tidak mengetahui kalau Byan sudah berdiri di belakangnya dan tiba-tiba Byan memberikan sebuket bunga ke hadapannya.
"Ini untuk istriku...." Bisik Byan tepat di telinga Aisyah.
Aisyah yang terkejut mendapatkan bunga, menoleh ke samping dan tersenyum menatap wajah Byan yang begitu dekat dengan wajahnya.
__ADS_1
"Terima kasih, kak," ucap Aisyah, lalu Byan mendekatkan pipinya ke wajah Aisyah.
Aisyah mengernyitkan dahinya, bingung dengan maksud Byan mendekatkan pipinya.
"Kenapa diam saja," kata Byan.
"Maksud kakak?"
"Cium," sambung Byan lagi.
"Ha!" Aisyah terperanjat mendengar kata cium dan Aisyah tidak berani mencium pipinya Byan.
Byan mendengus karena Aisyah tidak juga mencium pipinya. "Lama," keluh Byan, yang langsung mencium pipinya Aisyah.
Aisyah terkejut saat Byan tiba-tiba menciumnya dan seketika Aisyah menjadi malu sendiri. Aisyah memalingkan wajahnya saat Byan sudah menciumnya.
"Kenapa pipi kamu memerah?" Kata Byan, sembari mengulum senyumnya.
"Hm... Merah?" Aisyah menangkubkan kedua tangannya di pipinya. Rasanya Aisyah ingin bersembunyi karena malu.
"Gimana kalau yang satunya lagi aku cium, biar pipimu nggak merah lagi," goda Byan, yang entah mengapa sangat menggemaskan melihat Aisyah tersipu malu.
Dengan cepat Aisyah menggelengkan kepalanya. Bukannya merah di pipinya hilang, justru yang ada bertambah merona. Aisyah mencebikan bibirnya, melihat Byan menahan tawa, lalu Aisyah memilih pergi dari hadapan Byan.
"Hey... Tunggu!" Byan segera menyusul Aisyah.
"Jangan marah, aku cuma bercanda." Sambung Byan, yang langsung menggandeng tangan Aisyah.
"Mau lanjut jalan lagi."
"Kemana?" Tanya Aisyah.
"Ke tempat yang bakal kamu suka," jawab Byan.
Byan langsung mengajak Aisyah ke tempat yang berbeda. Tidak jauh dari sana, ada sebuah bukit yang bisa melihat sunset. Suasana di sana ternyata cukup ramai.
Aisyah dan Byan duduk di atas batu dan melihat warna langit yang berwarna jingga.
"Gimana, kamu suka?" Tanya Byan.
"Suka," jawab Aisyah dengan perasaan bahagia.
Byan yang tadinya duduk di samping Aisyah, berpindah duduknya jadi di belakang tubuh Aisyah. Byan memeluk Aisyah dari belakang, sembari menatap matahari terbenam. Hari ini, Byan benar-benar membuat Aisyah bahagia dan terus berharap, kalau Aisyah terus tersenyum bahagia.
__ADS_1