
Aisyah tak menyangka akan bertemu dengan orang yang sudah memberinya banyak luka di hatinya. Aisyah merasa takut kalau nantinya Dafa menginginkan anak yang sedang dikandungnya, lalu merebutnya darinya, karena tatapan mata Dafa saat bertemu dengannya terus tertuju ke perutnya.
Berkali-kali Aisyah tengok kanan-kiri, takut kalau-kalau Dafa mengikutinya. Aisyah benar-benar tidak mau bertemu dengan seorang Dafa.
Aisyah segera mencari keberadaan Zee di tempat sayur dan buah-buahan.
"Kak Zee...."
"Kamu kenapa?" Zee menatap heran wajah Aisyah yang terlihat gelisah.
"Kak, cepat belanjanya. Kita harus cepat-cepat pergi dari sini," ucap Aisyah dengan perasaan cemas.
"Memang kenapa? Aku belum selesai belanjanya."
"Nanti lagi aja belanja yang lainnya." Aisyah sedikit memaksa Zee dan Aisyah terus celingak-celinguk, berharap Dafa tidak mengikutinya atau mengintainya.
"Oke. Kita bayar belanjaannya dulu." Zee akhirnya mengalah dan Zee menangkap sesuatu yang tidak beres terhadap Aisyah, apalagi melihat wajah Aisyah yang terlihat tidak tenang.
"Ayo, cepetan kak!"
"Iya...."
Aisyah dan Zee secepatnya menuju kasir dan membayar belanjaannya. Setelah itu, Aisyah sedikit menarik tangan Zee agar jalannya lebih cepat. Zee tetap menurut, meski banyak pertanyaan di benaknya.
Ternyata apa yang di takuti oleh Aisyah benar terjadi. Dafa ternyata memang membuntuti Aisyah diam-diam dan entah apa yang tengah dipikirkannya. Yang jelas Dafa ingin menyentuh perutnya Aisyah dan mengelusnya. Calon buah hatinya yang dulu tak pernah dianggap olehnya, tapi kini membuatnya merasakan sebuah getaran yang menghangatkan hatinya.
Tiba di lobby, Aisyah dan Zee langsung naik ke dalam mobil dan meninggalkan mal tersebut, begitupun juga dengan Dafa, yang mengikuti mobil Zee dari belakang.
"Huft...." Aisyah membuang nafasnya perlahan dan bisa bernafas lega.
"Sebenernya ada apa sih! Dari tadi terlihat sangat gelisah." Ucap Zee yang sangat penasaran dengan sikap Aisyah yang mendadak gelisah.
"Aku bertemu dengan Dafa...." jawab Aisyah pelan.
"Serius! Dimana?" Zee terkejut mendengar perkataan Aisyah.
"Di supermarket. Kak... Aku takut...." Aisyah sudah tidak lagi menyembunyikan rasa khawatirnya. Ia benar-benar takut kalau Dafa mengambil anaknya, walau buah hatinya masih berada di dalam kandungannya.
"Kamu nggak usah takut. Aku yakin Dafa nggak bakal berani macam-macam sama kamu."
"Mudah-mudahan begitu."
Mobil yang di kendarai oleh Zee sudah sampai di rumah Aisyah. Bibi Nuri, pembantu rumah tangganya Aisyah menyongsong kedatangan Aisyah dan Zee untuk membantu membawakan barang belanjaannya.
"Ais, aku nggak bisa mampir, soalnya Shania aku titipin di rumah ibu."
__ADS_1
"Iya, kak. Salam buat Tante Janet sama Oma Cahyani."
"Oke. Aku langsung pulang ya." Zee melajukan mobilnya meninggalkan rumah Aisyah.
Aisyah segera masuk dan menemui bibi Nuri di dapur. Bibi Nuri bekerja di rumah Aisyah dari pagi sampai sore dan bibi Nuri tidak menginap di rumah Aisyah. Byan sengaja mencari pekerja yang tidak menginap di rumahnya, agar waktu untuk bersama dengan Aisyah tidak terganggu.
"Bi, nanti Snack ini bawa pulang buat anak bibi di rumah," kata Aisyah, sembari memisahkan Snack tersebut.
"Iya, neng. Terima kasih."
Aisyah kemudian mengambil gelas dan mengisinya untuk diminum.
"Neng... Bibi boleh izin pulang lebih awal," ucap bibi Nuri sedikit ragu.
"Memang ada perlu apa, minta pulang cepat?"
"Sakit? Sakit apa?!"
"Panas. Sebenarnya sakitnya sudah dari kemarin, tapi tadi bibi di telpon sama anak bibi yang paling besar, katanya Mita badannya makin panas."
"Kenapa bibi memaksakan untuk kerja, kalau Mita lagi sakit. Lain kali kalau anak bibi lagi sakit, bibi nggak usah masuk kerja dulu. Sekarang bibi langsung pulang saja. Kasihan Mita dan jangan lupa bawa Mita ke dokter, biar cepat sembuh."
"Iya, neng."
Lalu Aisyah mengambil tasnya yang ia letakkan di atas kulkas, kemudian Aisyah mengambil beberapa lembar uang untuk bibi Nuri.
__ADS_1
"Nih, uang untuk berobat Mita. Kalau sudah sampai rumah, bibi langsung bawa Mita ke dokter."
"Baik, neng. Terima kasih, neng sudah sangat perhatian sama anak bibi," ucap bibi Nuri terharu.
"Iya. Sekarang bibi pulang gih, terus itu Snack nya jangan lupa di bawa."
Bibi Nuri mengangguk cepat, lalu membereskan yang belum beres. Setelah itu bibi Nuri pamit pulang.
"Mumpung masih jam dua, mending aku istirahat dulu, setelah itu baru deh masak buat paksu tersayang," gumam Aisyah yang kini melangkah ke arah kamarnya.
Dari depan, suara ketukan pintu terdengar, membuat Aisyah yang tadinya berniat untuk tidur siang, kini harus membukakan pintu.
"Apa bibi balik lagi ya...." Seloroh Aisyah, yang kini membukakan pintu rumahnya.
"Hai...." Sapa Dafa, sambil tersenyum merekah. Di tangannya, Dafa membawa sebuket bunga lili untuk Aisyah.
Aisyah langsung membulatkan matanya dan terkejut melihat Dafa datang ke rumahnya dan juga Aisyah tak menyangka kalau dafa mengetahui tempat tinggalnya.
Aisyah segera menutup pintunya, tapi Dafa menahan pintunya agar Aisyah tidak menutupnya rapat-rapat.
"Pergi kamu dari sini!" Bentak Aisyah yang terus berusaha menutup pintunya.
"Beri aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku," kata Dafa sambil menahan pintunya dan mendorong pintunya agar terbuka.
"Pergi...!" Teriak Aisyah mengusir Dafa.
Aisyah berjuang keras untuk menutup pintunya dan Aisyah benar-benar tidak mau bertemu dengan Dafa. Aisyah sudah sangat kewalahan mempertahankan pintunya agar tidak terbuka, karena dorongan Dafa dari luar.
__ADS_1
*Ya Tuhan, kirimkanlah seseorang untuk menolongku*.