
Semenjak kejadian malam itu, Wulan terus dirundung rasa gelisah atas permasalahannya dengan Dafa. Wulan sudah berusaha bersikap masa bodoh, tapi ternyata tidak semudah itu bersikap acuh dengan masalah yang sudah ia perbuat. Karena perasaannya terus gelisah memikirkan Dafa, Wulan bertekad untuk menemuinya.
Tidak peduli walau sudah didepak dari kehidupan Dafa, Wulan tetap datang ke apartemen milik Dafa dan Wulan juga tidak peduli kalau nantinya Dafa akan marah, yang jelas Wulan ingin menyelesaikan semua permasalahannya.
Setibanya di apartemen milik Dafa. Wulan langsung masuk ke dalam, karena Wulan masih memegang kunci apartemen milik Dafa.
Sebagai ungkapan rasa bersalahnya, Wulan berniat membuat masakan kesukaan Dafa. Mungkin dengan cara seperti ini hati Dafa sediki luluh dan jalan untuk meminta maaf akan mudah, atau mungkin jalan untuk kembali masih bisa.
Sebab Wulan meyakini kalau semarah marahnya Dafa itu tidak akan bertahan lama, apalagi cinta yang dimiliki oleh Dafa sangatlah besar untuknya.
Wulan tersenyum ketika masakannya sudah selesai. "Aku yakin kalau kamu pasti mau memaafkan aku," ucap Wulan penuh keyakinan.
Sambil menunggu Dafa pulang, Wulan membersihkan peralatan masak. Setelah itu Wulan sedikit memoleskan wajahnya dengan make up-nya, agar terlihat lebih cantik dan fresh.
Setengah jam menunggu, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang. Wulan langsung berdiri dan tersenyum menatap Dafa.
"Ngapain kamu ada disini!" Ucap Dafa ketus, melihat Wulan ada di apartemennya.
"Aku sengaja nungguin kamu pulang," jawab Wulan lembut, lalu Wulan mendekatinya dan menarik tangan Dafa, tapi Dafa langsung menepis tangan Wulan.
"Sabar." Batin Wulan yang tetap tersenyum kepada Dafa.
"Apa kamu sudah lupa, kalau kamu sudah aku usir dari sini!"
"Memang kamu sudah mengusirku, tapi aku tidak peduli. Yang jelas aku masih mencintai kamu dan aku juga sudah menyesalinya."
"Menyesal kata kamu?" Dafa tersenyum miring, mengejek perkataan Wulan. "Buat apa menyesal! Apa karena sudah ketahuan perselingkuhan kamu, makanya sekarang kamu mengatakan menyesal. Bullshit! Aku nggak percaya lagi dengan ucapanmu!" Ucapan Dafa begitu menohok hatinya Wulan.
Dafa benar-benar sudah sangat muak dengan Wulan dan Dafa juga sudah sangat kecewa. Pengkhianatan yang dilakukan oleh Wulan sudah tidak bisa dimaafkan olehnya.
"Dafa, aku--"
__ADS_1
"Stop! Pergi kamu dari sini sekarang juga dan jangan pernah menginjakkan kakimu di apartemenku!"
Dafa menatap tajam wajah Wulan yang terlihat sedih, tapi ia tidak akan tertipu lagi oleh permainan Wulan.
"Nggak! Aku nggak mau pergi! Daf... Aku mohon maafkan aku," ucap Wulan semakin melemah. Air matanya mengalir membasahi pipinya. Kemudian Wulan berlutut dan memegangi tangannya Dafa.
"Lepaskan!" Seraya menarik tangannya dari genggaman Wulan. "Jangan harap aku akan memaafkan kamu. Hatiku ini sudah mati rasa!" Tunjuknya ke dadanya dengan penuh kekesalan, kemudian Dafa memilih pergi dari apartemennya.
"Dafa...." Wulan mengejar Dafa dan Wulan akan terus berusaha mendapatkan kata maaf darinya.
Dafa tidak memperdulikan tangisan Wulan, Dafa sudah terlanjur kecewa dan hatinya kini sudah tertutup rapat untuk Wulan.
"Dafa! Aku mohon berhenti...!" Wulan masih terus mengejar Dafa sampai depan lift.
Kesal karena Wulan terus mengejarnya, Dafa kemudian mendorong tubuh Wulan sampai Wulan terjatuh ke lantai.
"Aaww...." Jerit Wulan, sekaligus tak percaya kalau Dafa akan berlaku kasar terhadapnya.
"Dafa... Perutku sakit...." Wulan merintih kesakitan dan kali ini rasa sakitnya tak tertahankan.
"Ck... Aku nggak percaya sama aktingmu," timpal Dafa dan berlalu dari hadapan Wulan.
"Dafa...! Aaww...." Wulan memegangi perutnya yang benar-benar merasakan teramat sakit,
Dengan susah payah Wulan bangkit dan betapa terkejutnya Wulan melihat darah mengalir membasahi kakinya. Air mata Wulan semakin deras membasahi pipinya dan Wulan sangat ketakutan melihat darah yang keluar dari jalan lahirnya.
"Dafa... Tolongin aku... Hiks... Hiks... Aaww."
Wulan berjalan tertatih-tatih, menuju lift yang sudah tertutup. Berharap kotak besi itu terbuka lagi. Wulan berkali-kali menekan tombol lift, tapi liftnya yang ditunggunya tak terbuka-buka.
Wulan semakin meringis menahan rasa sakit di perutnya dan Wulan berharap kandungannya baik-baik saja.
__ADS_1
"Ya Tuhan, tolongin aku...." Wulan merintih sedih, tak ada seorang pun yang menolongnya disaat seperti ini.
Wulan sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakitnya dan Wulan pasrah dengan nasib buah hatinya. Wulan terduduk, menyandarkan punggungnya sambil terus berharap ada orang yang menolongnya.
"Sa kiiit...." Lirih Wulan.
"Nona!" Seorang lelaki dengan wajah oriental, terkejut melihat Wulan terduduk lemah dengan darah terus memasahi roknya.
"Tolongin saya, kak."
Lelaki itu segera mengangkat tubuh Wulan dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
Tiba di rumah sakit, Wulan segera ditangani oleh dokter. Sedangkan lelaki yang menolongnya menunggu di luar ruangan sambil menatap ponselnya yang terus berdering.
Ceklek
Pintu pun terbuka, lelaki itu segera menghampiri dokter. "Bagaimana dok keadaannya?"
Dokter membuang nafasnya dengan tatapan lesu. "Pasien mengalami keguguran."
"Keguguran, dok?" Lelaki itu terperanjat mendengarnya
"Iya. Saya harap anda yang sabar," ucap sang dokter sembari menepuk pundaknya. Dokter tersebut mengira kalau lelaki itu adalah suaminya.
"I-iya," jawabnya terbata-bata.
"Saya permisi dulu," pamit sang dokter dari hadapan lelaki itu.
"Iya. Silahkan."
Setelah dokter pergi dari hadapannya, lelaki itu ingin melihat keadaan Wulan yang kini tengah tergolek lemah, dengan jarum infus menancap di punggung tangannya. Lelaki itu melihat keadaan Wulan dari balik pintu yang sedikit terbuka.
__ADS_1
"Kasihan kamu harus kehilangan calon anakmu. Semoga dengan kejadian ini, kamu bisa memperbaiki kelakuanmu dan menjadi perempuan yang lebih baik," ucap lelaki itu yang merasa iba melihat keadaan Wulan. Setelah itu ia pergi dari sana, karena tugasnya menyelamatkan Wulan sudah selesai.