Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Menjatuhkan talak


__ADS_3

Saat ini Dafa sudah berada di kamarnya Aisyah. Dafa mengemasi barang-barangnya. Dafa sudah memutuskan untuk tidak tinggal bersama Aisyah. Baginya sudah cukup menjalankan pernikahan ini dan ia tidak mau melanjutkannya lagi.


Sejak awal, ia sudah tidak mau menikah dengan Aisyah, tapi permintaan papanya dan ayah Aries, membuat ia setuju menikahi Aisyah.


Dafa sudah selesai mengemasi barang-barangnya dan bersiap meninggalkan kamar tersebut. Aisyah yang baru masuk ke kamar, menatap heran melihat Dafa menarik kopernya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Aisyah.


"Aku mau pergi dari sini dan aku sudah tidak mau lagi melanjutkan pernikahan sialan ini. Mulai sekarang kamu aku talak!" ucap Dafa tanpa memikirkan perasaan Aisyah.


Aisyah tertegun mendengar perkataan Dafa yang menjatuhkan talak kepadanya. Seketika hatinya terasa nyeri dan berkedut. Sakit tapi tak berdarah, itu yang Aisyah rasakan.


Pernikahan yang baru seujung kuku harus kandas karena Dafa tidak menginginkannya. Air mata Aisyah menetes, begitu pedih rasa ini.


Dafa melewati Aisyah yang terdiam ditempatnya dan tidak memperdulikan perasaan Aisyah. Dafa turun dan melangkah ke depan. Aries yang baru pulang dari kantor menatap heran melihat Dafa membawa kopernya.


"Loh, kamu mau kemana?"


"Aku mau keluar dari sini. Aku minta maaf, yah. Kalau aku nggak bisa melanjutkan pernikahan ini."


"Maksudnya? Nggak mau melanjutkan gimana?" Bingung Aries.


"Aku sudah memutuskan untuk mengakhiri pernikahan ini dan aku harap ayah mengerti."


"Apa Ais melakukan kesalahan, sehingga kamu memutuskan mengakhiri pernikahan kalian?"


"Nggak perlu aku jawab, yah, tapi yang jelas aku nggak bisa meneruskan pernikahan ini. Ayah juga tahu dari awal, kalau aku nggak pernah mencintai Ais. Satu lagi, aku sudah menjatuhkan talak kepada Ais," ucap Dafa tanpa rasa bersalah.


"Apa?!" Pekik Hana, yang baru turun dari tangga.


Hana terkejut dengan pengakuan Dafa. Hana segera mendekati Dafa dan menatap tajam wajah Dafa.


"Apa salah Ais! Sampai-sampai kamu menjatuhkan talak kepada Ais!" Marah Hana.


"Ibu nggak menyangka kalau kamu akan Setega itu. Kalau tahu akan begini, ibu nggak akan membiarkan kalian menikah." Hana langsung tertunduk sedih, hatinya sakit dengan nasib putri tercintanya. Belum genap seminggu pernikahannya, Aisyah harus menjadi janda.

__ADS_1


"Aku minta maaf, Bu, tapi ini keputusanku," ujar Dafa memohon maaf kepada Hana dan Aries.


"Pergi kamu dari sini! Ibu harap kamu jangan menyesal dengan keputusan yang telah kau buat." Hana kemudian pergi dari hadapan Dafa dengan berlinang air mata.


Dafa bergegas pergi melewati Aries yang terlihat sedih, marah dan menyesal. Aries mengelap sudut air matanya yang basah. Sungguh ia menyesal karena dirinyalah hati putrinya hancur serta pupus kebahagiaan yang diimpikannya.


Dengan langkah gontai, Aries melewati anak tangga dan melangkah ke kamar Aisyah. Hati Aries semakin mencelos melihat kesedihan diwajah Aisyah.


Ayah mana yang tak sedih, jika rumah tangga anaknya hancur. Niat hati ingin membahagiakan Aisyah, tapi justru dirinyalah yang menghancurkan kebahagiaan Aisyah.


"Nak...."


Aisyah tetap termangu. Hatinya benar-benar sangat sakit dan hancur.


Aries berlutut di hadapan Aisyah dan menggenggam tangan putri tercintanya.


"Maafin ayah... Ini semua gara-gara ayah. Andai ayah nggak memaksa Dafa untuk menikahi Ais, mungkin ini nggak---"


"Sstt... Ayah nggak boleh menyalahkan diri ayah sendiri. Mungkin sudah takdir Ais, jalan hidup Ais seperti ini." Aisyah mencoba untuk berlapang dada dan tak mau menyalahkan orang tuanya.


"Maafin ayah, Nak... Maafin ayah...." Aries menangis tergugu. Rasa penyesalan kini hinggap di hatinya.


***


Dafa memilih menemui Wulan di apartemennya dan Dafa memutuskan akan tinggal sementara waktu di apartemen Wulan.


Dafa sudah beberapa kali mengetuk pintu apartemen Wulan, tapi pintunya tak kunjung di buka. Dafa menelpon Wulan, tapi tidak di angkat olehnya.


"Wulan kemana sih...." gerutu Dafa.


Dafa mencoba lagi menelpon Wulan dan panggilan kali ini diangkat.


"Wulan kamu lagi dimana?"


"Mmhh... Lagiih diluar. Kenapa?"

__ADS_1


"Kamu lagi ngapain sih. Kok, suara kamu kayak gitu!"


"Aku..hhh... Lagi olahraga... Hhh...."


"Oh... Aku tunggu kamu di apartemen dan cepat pulang."


"Hmmm...." Wulan langsung mematikan teleponnya dan melanjutkan aktifitas panasnya dengan om-om.


Selesai beradegan panas, Wulan langsung bersiap-siap untuk pulang ke apartemennya. Dari belakang, om-om itu memeluk Wulan dan mencium tengkuk Wulan.


"Ini cek-nya untuk hari ini dan besok om ingin melakukannya lagi dengan kamu."


Wulan tersenyum melihat nominalnya, lalu Wulan memutarkan tubuhnya dan mencium pipi om-om itu.


"Asal bayarannya lebih tinggi dari ini, maka aku akan memuaskan om lebih dari tadi."


"Oke, nggak masalah."


"Kalau gitu, aku pergi dulu. Bye om...."


Wulan bergegas pergi dari sana dan langsung pulang ke apartemennya.


Beberapa puluh menit, Wulan pun sampai di apartemennya dan melihat Dafa tengah berdiri bersandar di dinding. Cepat-cepat Wulan menghampiri Dafa.


"Sayang... Maaf aku lama," cetus Wulan.


"Iya, nggak apa-apa."


Pandangan Wulan tertuju ke koper dan menatap heran wajah Dafa.


"Bingung ya, kenapa aku bawa koper."


Wulan menganggukkan kepalanya. Dafa tersenyum melihat kebingungan Wulan.


"Aku kabur dari rumah dan akan tinggal disini untuk sementara waktu. Kamu nggak keberatan kan?"

__ADS_1


"Serius...." Dafa mengangguk. "Aku nggak keberatan kok. Justru aku senang kamu tinggal sama aku," tukas Wulan yang langsung memeluk Dafa.


Keputusannya meninggalkan Aisyah sudah benar. Dafa ingin hidup bahagia bersama Wulan tanpa ada gangguan dari orang lain, termasuk kedua orang tuanya.


__ADS_2